Epic Life   

Sadiq Khan, Wali Kota Muslim Pertama di London

 
Penulis
Nural
14 June 2017

Faktanya, kemajuan suatu daerah enggak terlepas dari peran pemimpinnya. Salah satunya, Kota London yang dipimpin oleh seorang wali kota bernama Sadiq Khan.

Nama Sadiq Khan beberapa waktu lalu sempat heboh. Nyatanya, Khan adalah seorang muslim yang berhasil menjadi wali kota terpilih di daerah yang mayoritas nonmuslim. Hal ini bikin dia jadi wali kota pertama London yang adalah seorang muslim.

via GIPHY

Nah, kali ini Viki mau ngenalin Sadiq Khan sebagai salah satu pemimpin muslim di dunia Barat. Sosok Khan tentu jadi sorotan dunia. Apalagi, di Kota London, hanya 12% penduduknya yang beragama Islam. Yuk, kepoin faktanya satu-satu.

“Cerita gua adalah cerita tentang London. Bokap gua adalah seorang sopir bus dan nyokap gua penjahit. London ngasih gua kesempatan buat berkembang, mulai dari tinggal di rumah susun, ngejalanin usaha yang berhasil, sampai menjabat di kabinet.”

Lahir di St. George Hospital Tooting, London, 8 Oktober 1970 dari pasangan imigran Pakistan yang pindah ke London pada 1960-an.

Pekerjaan ortunya bikin Khan jadi pribadi yang bekerja keras.

Tumbuh di lingkungan multietnis dan multikultur di London bagian selatan. Ini bikin Khan menempa dirinya jadi politisi yang bangga dengan keberagaman.

Khan kecil dan keluarganya kerap mendapat perlakuan enggak ngenakin dari pihak lain. Ortunya adalah imigran Pakistan, bikin dia sering diolok-olok bernada rasial.

Kehidupannya jauh dari kata mewah, enggak memupuskan semangat Khan menimba ilmu.

Awalnya dia ingin jadi dokter gigi. Namun, gurunya nyaranin buat ngedalamin ilmu hukum. Soalnya, Khan senang ngutarain pendapat dan menyukai program televisi “LA Law”.

Khan mendapat gelar di bidang hukum dari University of North London.

Dalam urusan olahraga, Khan justru enggak menggemari klub asal London, melainkan penggemar berat klub sepak bola Liverpool.

via GIPHY

1994, dia jadi pengacara di firma hukum Christian Fisher. Di sinilah, dia jatuh cinta dengan pengacara Saadiya yang kemudian dipersunting jadi istrinya.

Kariernya mulai dibangun pada 2005 ketika dia menang pemilu buat Partai Buruh di daerah pemilihan Tooting.

Khan terpilih jadi anggota Parlemen Inggris pada 2005.

Dia jadi konselor termuda London pada usia 23 tahun saat terpilih jadi otoritas lokal di Tooting.

Dia juga jadi ketua Liberty, organisasi terkemuka hak asasi manusia di Inggris dan Wales selama tiga tahun.

Jadi Menteri Transportasi antara 2009 dan 2010, sekaligus muslim dan keturunan Asia pertama yang masuk ke jajaran kabinet pemerintahan Inggris.

Khan berhasil mempertahankan daerah pemilihannya di Tooting dalam pemilu 2010 dan 2015 meskipun 2015 adalah masa sulit buat Partai Buruh.

Hal yang dianggap mustahil, akhirnya Khan bisa ngalahin seorang miliarder dari Partai Konservatif, Zac Goldsmith. Khan memperoleh suara 57% atau 1,3 juta orang.

Hingga 2016, Khan jadi wali kota terpilih dan pertama kalinya Kota London memiliki wali kota seorang muslim.

“Gua ingin muslim di Inggris bisa naklukin ekstremisme dan radikalisasi.”

Dengan prestasinya yang gemilang, Khan dianugerahi penghargaan “Politisi Terbaik 2016” oleh British Muslim Awards.

Sebagai orang yang datang dengan latar belakang muslim dan imigran, Khan mencatat justru London adalah kota terbaik untuk hidup sebagai seorang muslim.

Kehadirannya di London diharapin bisa menghapus islamophobia yang lagi ngerasukin Eropa.

“Gua ingin setiap warga London dapat kesempatan, kayak yang udah dikasih kota ini ke gua dan keluarga gua. Kesempatan yang bukan sekadar buat bertahan hidup, tapi juga tumbuh berkembang,” kata Khan.

***

Kisah Khan memenangi pertarungan wali kota London ini kayak dongeng di negeri modern. Nyatanya, persoalan memimpin sebuah kota adalah persoalan kemampuan personal, bukan persoalan agama atau pun ras. Khan udah ngebuktiin itu bareng warga London.

Kini, Khan dan warganya udah enggak ngelakuin politik yang “memperdagangkan” agama, menyudutkan atau mengancam minoritas, mendramatisasi ketakutan, dan memecah belah masyarakat yang multietnik dan multikultur.

Dari Indonesia, ternyata kita cuma baru bisa menontonnya. Kota London udah ngingatin kita bahwa ternyata minoritas itu perlu dirangkul, bukan ditakutin, apalagi diancam. Perbedaan ternyata perlu dikelola, bukan dienyahkan dengan alasan keamanan.