Chillax  Epic Life   

Ramalan Jayabaya yang Dipercaya Jadi Kenyataan

 
Author
Nural 
27 July 2017

Kalau enggak pernah tertidur pas pelajaran sejarah, lo pasti masih ingat sama sebuah kerajaan bernama Kerajaan Kediri. Yap, kalau ingat, nama Prabu Jayabaya udah enggak asing lagi, dong, buat lo. Soalnya, dia ini adalah sosok yang terkenal, melegenda, dan dikenang hingga kini. Popularitas namanya meningkat karena kitab ramalan yang dibuatnya.

Nah, Viki enggak mau lo semua ketiduran karena penjabaran Viki. Makanya, Viki kali ini enggak ngomongin sejarah, tapi fokus sama Ramalan Jayabaya. Soalnya, bukan sembarang ramalan, satu per satu Ramalan Jayabaya diyakini bakalan menjadi kenyataan di masa depan. Lo boleh percaya, boleh juga enggak. Namun, beberapa ramalannya bahkan dipercaya udah terjadi, loh.

Nah, Viki bakal sebutin ramalan Prabu Jayabaya yang dipercaya udah terwujud. Simak baik-baik, ya!

 

1. Pulau Jawa bakal terpecah.

via GIPHY

Sebelum ngomongin Pulau Jawa, Viki mau bercerita soal Atlantis yang masih jadi misteri. Banyak yang nyangka bahwa Atlantis berada di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Arysio Santos, PhD adalah salah satunya. Dalam bukunya, Atlantis the Lost Continent Finally Found, disebutin bahwa 11.600 tahun yang lalu, Atlantis adalah sebuah negeri tropis yang berlimpah akan mineral dan kekayaan hayati. Karena bencana yang dahsyat, pada akhirnya, Pulau Jawa terpisah dari Sumatera dan lebih dari separuh wilayah Nusantara tenggelam.

Sebenarnya, apa yang ada dalam buku tersebut udah dijelasin di Kitab Jangka Jayabaya. Dilansir dari Merdeka, menurut Ki Tuwu, pakar ahli sejarah Kediri, hal itu masuk ke periodisasi zaman besar kedua yang disebut dalam Kitab Jangka Jayabaya adalah Zaman Kalijaga, berarti zaman tumbuhan. Pulau Jawa yang saat itu masih menyatu dengan pulau-pulau lain mengalami sebuah perubahan, yakni terpecah jadi pulau-pulau kecil.

 

2. Bangsa kulit kuning datang ngelepasin Indonesia dari kekejaman kulit putih.

Pernah dengar, ‘kan, kalau masa penjajahan Belanda di Indonesia katanya sampai 3,5 abad alias 350 tahun? Nah, penjajahan tersebut pastinya sangat membekas bagi bangsa Indonesia. Ketika Belanda masih menjajah, datanglah bangsa Jepang yang kemudian ngerebut Indonesia dari penjajahan Belanda.

Nyatanya, hal itu udah pernah diprediksikan oleh Jayabaya. Bakal ada masanya datang kulit kuning yang ngelepasin Indonesia dari kekejaman kulit putih. Kulit kuning yang dimaksud adalah orang Jepang, sedangkan kulit putih yaitu orang Belanda. Hmm, ini kebetulan atau bukan, ya?

 

3. Korupsi merajalela.

Siapa yang enggak jengah sama kasus korupsi di dunia ini? Bisa dibilang, korupsi seolah-olah udah jadi budaya dan praktik yang dilakuin berabad-abad. Bahkan, korupsi udah ada sejak zaman kerajaan kuno walaupun dengan bentuk yang berbeda dengan korupsi zaman sekarang. Lo tahu, enggak? Jayabaya udah pernah ngeramalin bahwa korupsi bakal terus terjadi.

"Akeh janji ora ditetepi, akeh wong nglanggar sumpahe dewe. Akeh menungso mung ngutamakke duwit, lalu kemenungsan, lali kebecikan, lali sanak lali kadang."

Artinya, banyak janji enggak ditepatin, banyak orang ngelanggar janji, banyak orang yang ngutamain uang di atas kemanusiaan, lupa kebaikan, lupa keluarga, dan lupa dari mana asalnya. Perkataan Jayabaya tersebut merepresentasikan orang yang selalu nempatin uang sebagai prioritas yang bikin dirinya lupa sama kebaikan dan kemanusiaan.

 

4. Dapat kekayaan yang enggak wajar.

Tradisi pergi ke dukun atau ngelakuin pesugihan, nyatanya, masih dilakuin oleh orang-orang zaman sekarang. Tujuannya ialah ngedapatin kekayaan tanpa harus bekerja. Makanya, sampai sekarang, pola pikir orang Indonesia enggak berubah. Pengen kaya, tapi enggak kerja. Banyak yang akhirnya menghalalkan segala cara demi sebuah gengsi. Hal itu menjadikan banyaknya praktik pesugihan di Indonesia.

"Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin. Luwih utama ngapusi. Wegah nyambut gawe kepengen kepenak, ngumbar nafsu angkara murka, nggedekake duraka."

Artinya, akan ada masanya banyak orang yang bekerja, namun merasa malu, akhirnya memilih menipu. Akan ada juga orang yang mau kaya, tapi malas bekerja. Akhirnya, mereka menghalalkan segala cara satunya dengan metode pesugihan. Pesugihan merupakan kegiatan menyembah setan demi kekayaan dengan aneka tumbal sebagai penebusnya. Tentu saja ini termasuk ilmu hitam. Udah pasti diharamkan.

 

5. Peradaban bakal berubah.

Kita semua tahu bahwa Jayabaya udah meninggal berabad-abad yang lalu. Dia juga enggak akan pernah ngerasain peradaban yang udah modern kayak sekarang ini. Namun, peradaban yang kita rasain ini, nyatanya, pernah diramalin olehnya.

"Mbesuk yen ana kreta mlak tanpa jara, tanah jawa kalungan wesi, prahu mlaku ing duwur awang-awang, kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange."

Artinya, bakal ada masa ketika ada kereta berjalan tanpa adanya kuda (mobil), tanah Jawa dikalungi besi (rel kereta api), ada perahu yang berjalan di angkasa (pesawat terbang), sungai hilang sumbernya (kekeringan), dan hilang kumandang pasar (berganti dengan pasar-pasar modern atau daring). Hal tersebut belum ada di zaman dulu, kini kebetulan benar-benar terjadi.

 

6. Seks bebas di mana-mana.

Entah kebetulan lagi atau enggak, Ramalan Jayabaya mengenai pergaulan remaja kayaknya benar-benar terjadi. Zaman sekarang, semua udah kebalikan dengan zaman sebelumnya. Dulu, hubungan seks merupakan hal tabu. Nyatanya, kini udah jadi hal yang harap dimaklumi walaupun udah jelas-jelas ngelanggar norma.

"Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang prawirane."

Artinya, cewek-cewek kehilangan rasa malunya dan cowok-cowok juga hilang kehormatannya. Kalau dikaitin sama zaman sekarang, kayaknya ramalan tersebut memang menyangkut perilaku seks bebas. Zaman dulu, kalau pegangan tangan atau ciuman aja, takut hamil. Sekarang, malah rasa takut itu terkikis.

 

7. Pendidikan dikomersialisasi.

Pendidikan yang katanya gratis selama 12 tahun ini nyatanya belum benar-benar gratis. Ditambah, pendidikan yang merupakan hak bagi setiap warga negara belum merata. Memang, pendidikan bisa didapat dari mana aja. Namun, pola pikir masyarakat Indonesia menganggap pendidikan itu cuma dari sekolah formal. Bahkan, sekarang, udah ada sekolah formal dan informal alias setelah belajar di sekolah lanjut belajar di tempat kursus.

"Akeh wong ngedol ilmu."

Artinya, banyak orang jual ilmu. Padahal, ilmu, ‘kan, pundi-pundi pahala. Seharusnya, orang ikhlas ngasih ilmu ke siapa pun. Namun, itu enggak berlaku di zaman sekarang. Pendidikan beserta mutunya harus ditukar dengan jumlah pundi-pundi rupiah yang setimpal. Enggak heran, pendidikan sekarang ini jadi ladang bisnis bagi siapa pun yang bersangkutan.

 

8. Hilangnya pasar pagi.

Kayaknya, sekarang udah jarang, deh, pasar rakyat tradisional di kota besar. Ini seiring dengan banyaknya minimarket, supermarket, bahkan pasar daring. Orang-orang lebih milih buat belanja di tempat yang nawarin kemudahan dan kenyamanan. Nyatanya, hal itu udah diprediksi oleh Jayabaya dalam kitabnya. Pasar rakyat yang biasanya ramai pada pagi hari, kini udah enggak dapat didengar lagi dalam radius 5 kilometer.

"Kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, iku tanda yen tekane jaman Joyoboyo wis cedak."

Maksudnya, sungai kehilangan sumber air bersih. Termasuk, pasar hilang kumandangnya. Zaman dulu, pasar di pagi hari seperti suara lebah karena suara pedagang dan pembeli yang dapat terdengar dalam radius 5 kilometer.

 

9. No-To-No-Go-Ro

Bisa dibilang, ini ramalan paling populer di Indonesia. Walaupun belum sepenuhnya terbukti, tapi udah ada tanda-tandanya. Ramalan ini selalu muncul menjelang pilpres. Memang, Indonesia udah beberapa kali dipimpin oleh presiden yang berbeda. Mulai dari Soekarno hingga Jokowi, masing-masing punya gaya tersendiri dalam memimpin bangsa Indonesia ini. Ramalan Jayabaya soal pemimpin negara dikenal dengan Notonogoro (menata negara).

Kalau lo perhatiin, hal ini udah terjadi pada tiga presiden Indonesia, yaitu Soekarno, Soeharto, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Tiga pemimpin tersebut dipercayai sebagai salah satu Ramalan Jayabaya yang udah terjadi di Indonesia. Soalnya, suku kata terakhir pada nama mereka membentuk notonogoro. Nah, soal ini, masih ada dua suku kata lagi buat ngebuktiin kebenaran ramalan legedaris ini.

***

Ramalan yang udah Viki sebutin memang sesuai kalau dikaitin sama zaman sekarang. Namun, ramalan hanya bersifat prediksi alias belum pasti. Jadi, enggak perlu lo jadiin sebagai pedoman hidup selama kita masih percaya sama kuasa Tuhan yang enggak bisa ditakar manusia.