Icon  Inspiring Figure   

Kisah Cinta Para Pemikir Nyentrik

 
Penulis
Intan Kirana
06 July 2017

Pemikir identik dengan sosok yang kaku. Seakan, hidupnya cuma berkisar antara teori dan buku-buku. Enggak pernah bersentuhan sama orang lain, apalagi ngerasain cinta.

Ngebayangin seorang pemikir bisa jatuh cinta hingga ngerasain galau akut kayaknya agak sulit, ya. Apalagi, ada anggapan kalau logika sama perasaan itu berseberangan. Kalau terlalu ngandalin logika, bisa-bisa malah dicap enggak berperasaan.

via GIPHY

Bagaimana pun, pemikir juga manusia, loh. Selain dianugerahi kecerdasan, mereka juga dikaruniai hati dan emosi. Jadi, mereka juga bisa ngerasain tertarik dan jatuh cinta sama orang lain. Cuma, mungkin karena mereka banyak mikir, kisah cinta yang mereka jalanin pun terbilang nyentrik.

Makanya, sosok-sosok pemikir yang bakal Viki bahas kali ini punya percintaan yang enggak kalah kompleks dibandingin miniseri di televisi. Nah, simak, yuk, kisah-kisahnya di sini!

1. Michael Faraday

Kalau lo (pernah) serius belajar fisika, pastinya nama yang satu ini udah enggak asing lagi. Tanpa adanya cowok asal Inggris yang satu ini, mungkin sekarang kita enggak akan pernah tahu yang namanya lampu, powerbank, dan apa pun yang dialirin listrik.

Faraday lahir dari keluarga sederhana pada 22 September 1791. Pendidikan formalnya enggak tinggi-tinggi amat. Pada usia 14 tahun, dia kerja paruh waktu sebagai penjual dan penjilid buku. Dia pun mulai banyak membaca buku dan tertarik sama sains.

Nah, waktu berumur 20 tahun, dia menghadiri kuliah umum Humphry Davy, seorang ahli kimia, lalu menjadi asistennya. Dia pun mulai bisa ngelakuin berbagai percobaan ilmiah. Salah satunya, putaran elektrik dari magnet yang mengilhami motor-motor listrik.

Di balik penemuan besar, tentunya ada proses yang enggak mudah. Nah, Faraday sempet depresi karena mengira perubahan medan magnetnya enggak bakal cukup buat menghasilkan listrik. Untungnya, ada sang istri, Sarah, yang senantiasa menyemangati. Faraday pun enggak lantas putus asa.

Awal kisah cinta mereka lumayan menegangkan, loh. Faraday tertarik duluan sama Sarah. Dia pun nulis surat cinta dan ngelamarnya. Namun, ayah Sarah bilang kalau cinta bakal ngubah pemikir jadi dungu. Sarah yang harus ngambil keputusan pun kabur. Namun, Faraday malah ngejar dia dan akhirnya mereka menikah.

Keraguan Sarah di masa muda berbuah jadi kesetiaan hingga masa tua. Kala itu, Faraday mulai mengalami gangguan ingatan. Dia kesulitan ngejelasin hal-hal sederhana, termasuk dalam surat yang dia tulis buat rekan-rekannya. Akhirnya, Sarah yang dikenal sebagai sosok tegas ngegantiin dia nulis surat-surat itu.

Faraday juga setia sama sang istri meski mereka berdua enggak punya anak. Faraday adalah ilmuwan yang geek banget dan fokus sama mimpinya, tapi dia tetap peduli sama perasaan cewek. Dia selalu bersikap halus kepada istrinya.

“It is right that we should stand by and act on our principles; but not right to hold them in obstinate blindness, or retain them when proved to be erroneous.” (Michael Faraday)

2. Fritz Haber

Mungkin buat lo yang enggak pernah ketiduran pas pelajaran kimia, bakalan ngeh pas guru lo ngejelasin proses pembuatan amonia yang dinamain Haber-Bosch. Nah, nama Haber ini diambil dari salah satu penggagasnya, yaitu Fritz Haber. Cowok yang dianugerahin Hadiah Nobel dalam bidang kimia ini menikah sama Clara Immerwahr, putri pemilik sebuah pabrik gula dan satu-satunya cewek yang dapat gelar PhD dalam bidang kimia dari University of Breslau, Jerman, saat itu.

Meski punya momongan, nyatanya, Clara malah depresi. Soalnya, Haber ini doyan selingkuh. Ilmuwan yang kebetulan zodiaknya Sagitarius ini ngejalin hubungan gelap sama cewek-cewek muda. Clara, sebagai seorang perfeksionis yang cerdas, tahu hal ini dan enggak tinggal diam. Dia ngerasa kecewa lantaran dirinya udah enggak dianggap.

Kekecewaan ini memuncak ketika Haber ngelanggar prinsip mereka: enggak memanfaatkan ilmu pengetahuan buat menghancurkan manusia. Haber membantu negaranya bikin gas beracun buat keperluan perang.

“During peace time a scientist belongs to the World, but during war time he belongs to his country.” (Fritz Haber)

Akhirnya, setelah bertikai dengan Haber, Clara bunuh diri dengan cara menembak dadanya sendiri pakai pistol milik Haber. Dia pun meninggal dalam dekapan putranya yang baru berusia 12 tahun.

Haber sempat menikah lagi, tapi lagi-lagi menuai konflik dan bercerai. Dia pun meninggal di usia 65 tahun. Namun, sebelumnya dia udah bikin permintaan khusus. Tiga tahun setelah Haber meninggal, abu Clara yang disemayamin di Dahlem, Jerman, dipindahin ke makam yang sama di Basel, Swiss.

Mungkin Haber ngerasa menyesal atas segala hal yang dilakuinnya, ya. Memang, sih, sesuatu itu baru terasa berharga kalau kita udah kehilangan.

3. Jean-Paul Sartre & Simone de Beauvoir

Dua sejoli asal Perancis ini dikenal sebagai filsuf dengan pemikiran eksistensialisme. Sartre fokus pada eksistensialisme manusia secara umum, sedangkan De Beauvoir pada feminisme eksistensialis. Sejak 1929, mereka menjalin hubungan yang bisa dibilang enggak lazim buat norma sosial.

Kalau aja Facebook udah ada di awal abad ke-20, bisa jadi dua sejoli asal Perancis ini bakal mencantumkan “In an Open Relationship” di status hubungan mereka. Keduanya saling cinta, nyambung saat diskusi, saling baca karya pasangannya, tinggal bareng, tapi enggak nikah. Uniknya lagi, mereka ngebolehin satu sama lain buat berhubungan sama orang lain.

Enggak sedikit orang yang terlibat secara romantikal sama Sartre dan De Beauvoir. Buat mereka, itu enggak aneh. Soalnya, keduanya berpikir kalau kebutuhan seksual itu kebutuhan biologis manusia dan boleh-boleh aja dipenuhin sama orang lain.

“I love you passionately (always in the full sense of the term). I won’t say it again because the word irritates me, but remember it well, my sweet, my little flower. Tender kisses for your little cheeks.” (Jean-Paul Sartre)

Meskipun mereka enggak nikah, hubungan mereka berlangsung lama, loh! Kedua belah pihak terus bersama sampai ajal menjemput. Sartre meninggal duluan pada 15 April 1980. Farewell to Sartre jadi buku terakhir De Beauvoir sekaligus satu-satunya karyanya yang enggak dibaca Sartre. Akhirnya, De Beauvoir menyusul sang partner pada 14 April 1986. Di Montparnasse Cemetery, Paris, mereka bersemayam dalam satu makam yang sama.

“I’m happy whenever I go and see someone new—but at once disappointed, since the pleasure I’m hoping for from them is that which you alone can give me. I’m mutilated without you, my love. It’s not exactly painful, but it’s sad. In the whole world, there’s only you who count for me.” (Simone de Beauvoir)

4. Albert Einstein

“Gravitation is not responsible for people falling in love.” (Albert Einstein)

Albert Einstein dipuja-puja karena Teori Relativitas penemuannya. Tanpa adanya Einstein, mungkin sampai sekarang kita bakalan masih nganggap kalau waktu itu sifatnya linear aja. Dia pun dianggap sebagai orang paling jenius sepanjang masa. Bahkan, karena kejeniusannya yang menarik perhatian dunia, otaknya sampai diautopsi 7,5 jam setelah kematiannya buat diteliti.

Sayangnya, cuma otaknya aja, ya, yang diteliti. Enggak ada yang neliti hatinya. Padahal, percintaan dalam hidupnya juga enggak kalah rumit, loh. Dia menikah sama sesama fisikawan bernama Mileva Maric. Mileva sendiri adalah adalah satu-satunya cewek di antara teman-temannya Einstein di Polytechnic, Zurich, Swiss. Kecerdasannya juga enggak perlu diraguin lagi ketika dia jadi cewek kedua yang berhasil namatin pendidikan dalam bidang matematika dan fisika.

Hubungannya dengan Einstein terkuak ketika Mileva hamil di luar nikah. Usai ngelahirin anak pertamanya yang bernama Lieserl (yang pada akhirnya meninggal karena penyakit), dia pun menikah dengan Einstein. Mereka lalu dikaruniai dua anak.

Kalau kisahnya usai di sini, kedengarannya kayak pernikahan yang ideal, ya? Namun, kenyataannya enggak demikian. Soalnya, Mileva ternyata diselingkuhin. Si pihak ketiga ini adalah Elsa Einstein, sepupu dari Einstein sendiri.

Mileva tahu kenyataan pahit itu dari Clara, istri Haber. Rupanya, Einstein terang-terangan ngejalin hubungan sama Elsa. Tanpa rasa malu dilihat orang banyak, dia ngajak Elsa ke sebuah pertemuan ilmuwan.

Elsa sendiri ngerasa dirinya udah banyak berkorban karena mau jadi sekadar simpanan. Akibatnya, dia diomongin jelek sama orang-orang sekitar. Dia malah ngomporin Einstein buat cerai.

Di lain pihak, bukannya menyesal, Einstein malah ngajuin pisah. Kalau menolak, Mileva harus mau nurutin permintaan Einstein: nyiapain makan tiga kali sehari khusus buat dia aja, enggak ngomong kecuali disuruh, dan enggak nuntut hubungan intim. Bahkan, Einstein enggak segan-segan nyakitin hati Mileva dengan segala perkataan yang ngerendahin. Kayaknya, sih, semua ini dia lakuin supaya Mileva jadi enggak betah dan mau cerai.

via GIPHY

Akhirnya, Mileva balik ke Swiss bersama dua anaknya. Mereka baru resmi bercerai di usia renta. Namun, perceraian itu harus dibayar mahal oleh Einstein: seluruh uang yang diterimanya dari Hadiah Nobel! Yah, mungkin itu cara cerdas Mileva buat ngebalas kekejian yang dia terima.

Menurut lo, kenapa Einstein selingkuh sama Elsa? Menurut yang dipaparin di serial tentang Einstein berjudul Genius, Einstein adalah cowok dominan yang selalu mau diturutin dan didukung penuh sama cewek. Menurutnya, Elsa punya kriteria itu.

***

Bagaimana menurut lo kisah-kisah yang udah Viki beberin di atas? Kayaknya, wajar, ya, kalau para pemikir di atas punya kisah cinta yang kompleks kayak isi kepala mereka?

via GIPHY

Eits, kalau lo tertarik sama seorang pemikir, jangan takut, ya. Soalnya, bisa aja isi hatinya enggak serumit yang lo bayangin.