Epic Life   

Hilal, Anak Bulan Penentu Awal dan Akhir Ramadan

 
Penulis
Nural
26 May 2017

Menjelang Ramadan, kita sering mendengar istilah hilal. Apa, sih, itu? Hilal adalah Bulan sabit muda yang menandai masuknya bulan baru pada sistem kalender Hijriyah (kalender Islam). Hilal merupakan fenomena penampakan bulan yang dilihat dari Bumi saat konjungsi. Perbedaan tempat dan waktu di Bumi mempengaruhi penampakan hilal.

Hilal hanya bisa diamati saat matahari terbenam. Hal ini karena cahaya hilal sangat redup dibandingin sinar matahari. Pasalnya, walaupun keberadaan bulan enggak pernah jauh dari matahari, tetap aja cahaya bulan pasti kalah sama dahsyatnya matahari.

Penampakan hilal yang terlihat dari permukaan Bumi terjadi setelah konjungsi atau dikenal dengan ijtimak. Dalam pendekatan astronomi, konjungsi merupakan peristiwa fenomena matahari dan bulan berada pada satu garis lurus. Pada saat tertentu, konjungsi bisa menyebabkan gerhana matahari.

Pada kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari di waktu setempat dan penentuan awal bulan bergantung pada penampakan hilal atau bulan sabit muda. Karena itu, dalam satu bulan kalender Hijriyah terdapat 29—30 hari, berbeda dengan kalender Masehi yang kita kenal secara umum. Nah, karena sebentar lagi masuk bulan puasa, Viki mau kasih tahu fakta-fakta seputar hilal. Yuk, simak!

 

1. Metode Penentuan

Penentuan hilal enggak main-main, loh! Enggak sesederhana kita ngelihat bulan di langit. Pakai metode segala. Metode penentuan hilal yang biasa dilakukan ada dua macam, yaitu rukyat (dengan mata atau teleskop) dan hisab (perhitungan). Kenapa ada metode ini? Saking tipisnya hilal, penentuan awal bulan Ramadan dan hari raya harus benar-benar akurat. Soalnya, ada kaitan dengan ibadah umat Islam, jadi enggak bisa sembarangan!

Buat yang belum tau, rukyat adalah penentuan posisi bulan baru berdasarkan pengamatan, yakni bulan sabit pertama tampak sesaat setelah konjungsi. Konjungsi, ‘kan, matahari dan bulan berada pada satu garis lurus. Nah, sesaat setelah itu, muncul bulan baru. Rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya matahari. Kalau hilal terlihat, pada saat itu, di tempat tersebut, masuk tanggal 1.

FYI, bisa aja terjadi selang waktu konjungsi dengan terbenamnya matahari terlalu pendek. Jadi, secara teori, cahaya bulan enggak cukup terlihat, masih kalah dibandingin semburat senja.

Sedangkan, hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan. Ini buat nentuin dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah. Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Makanya, ada sebutan “malam Minggu” atau “malam Senin”.

 

2. Tanda Hilal

Di Indonesia, ada dua kriteria yang dijadikan acuan dalam penentuan awal bulan. Pertama, kriteria tinggi hilal yang memungkinkan hilal dapat diamati. Secara umum, tinggi hilal adalah 2—3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam. Kedua, kriteria konjungsi sebelum matahari terbenam yang merupakan kriteria khusus buat lo yang tinggal di sekitar khatulistiwa. Hanya perlu bandingin waktu terjadinya konjungsi dengan waktu terbenamnya matahari. Udah disepakatin, usia bulan enggak kurang dari delapan jam setelah konjungsi agar hilal bisa diamati.

Di Indonesia, ada juga yang enggak pakai kriteria visibilitas hilal, misalnya Muhammadiyah (Organisasi Massa Muslim di Nusantara). Semenjak 1969, mereka menggunakan kriteria wujudul hilal, yaitu meskipun enggak terlihat, tetap berpuasa keesokan harinya. Jadi, kenapa walaupun satu negara, waktu pelaksanaan puasa dan hari raya berbeda. Selain Muhammadiyah, ada yang menggunakan kriteria imkanur rukyah, yaitu hilal belum dianggap ada sampai bisa dilihat dengan mata tanpa alat.

Di lain sisi, Departemen Agama Republik Indonesia menyusun kalender Islam berdasarkan kriteria wujudul hilal. Namun, buat penetapan bulan Ramadan dan hari raya, mereka bikin sidang isbat. Makanya, tiap mau puasa atau Lebaran, pasti malamnya ada sidang isbat oleh pemerintah.

Beda hal dengan Majelis Kehakiman Indonesia. Sejak 2012, mereka menetapkan tanggal 1 bulan Hijriyah berdasarkan pada hitungan (hisab) komputer yang diyakini bisa mewakili waktu penampakan hilal yang sebenarnya. Hisab juga digunakan ketika hilal enggak mungkin bisa dilihat, misalnya karena mendung.

 

3. Perbedaan dari Seluruh Dunia

Kenapa, sih, pelaksanaan puasa enggak ada yang sama? Pertama, kemajuan manusia dalam hal iptek bukan berarti menghilangkan metode pengamatan dan hanya mengutamakan perhitungan. Justru yang seharusnya dilakukan adalah hasil dari perhitungan digunakan untuk membantu kapan waktu untuk mengamat hilal.

Kedua, bulan itu satu dan selalu mengelilingi Bumi. Jadi, bisa aja hanya sebagian penduduk Bumi yang bisa melihat hilal. Nah, mereka inilah yang harus menginformasikan kepada penduduk Bumi beragama Islam di wilayah lain.

Ketiga, penduduk muslim di Indonesia dalam memulai dan mengakhiri Ramadan dengan cara rukyat lokal. Maksudnya, ngebolehin perbedaan waktu antara umat Islam di Jakarta dan Bandung. Begitu juga di Kalimantan, antara umat Islam di Indonesia dengan Malaysia dan Brunei boleh berbeda waktu karena jarak lebih dari 120 kilometer. Makanya, ada perbedaan waktu dimulainya puasa dan berbuka puasa. Enggak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia.

 

4. Hilal Adalah Perhitungan Tuhan

Kita semua percaya kalau segala yang ada di langit dan di Bumi adalah kuasa Tuhan, termasuk hilal. Adanya perbedaan pendapat mengenai terbitnya hilal enggak bikin bulan Ramadan dan Idulfitri hilang. Metode atau kriteria perhitungan yang dilakuin semata-mata jadi alat bantu manusia. Hilal udah menjadi perhitungan Tuhan. Dalam ilmu astronomi, bulan, Bumi, dan matahari selalu bergerak teratur dengan arah yang enggak selalu di garis lurus.

Garis pergerakan bulan dan matahari terhadap Bumi, jika digambarkan, enggak selalu secara horizontal atau vertikal, kadang diagonal. Kalau hal tersebut bisa dihitung manusia. Bisa aja pembagian waktu hilal hanya bisa dilihat di negara-negara maju atau oleh seluruh penduduk Bumi. Begitu juga akan berdampak pada pembagian waktu puasa dan Lebaran. Bisa-bisa dalam satu daerah pun, pembagian waktunya enggak merata karena “garis buatan” manusia tersebut.

Seperti yang kita tahu, bagaimanapun manusia membaginya, enggak seadil pembagian oleh Tuhan. Nah, karena garis pergerakan bulan dan matahari enggak bisa diprediksi, manusia enggak bisa nentuin secara pasti. Perbedaan waktu puasa dan hari raya selama ini, enggak bikin umat Islam terpecah belah. Tuhan memperhitungkan segalanya sesuai kemampuan manusia.

***

Kita tahu bahwa bagaimanapun perbedaan umat Islam, selama dalam koridor keagamaan, tetaplah harus saling menghormati. Ada yang memakai hisab, rukyat, atau banyak yang lainnya. Enggak boleh saling menganggap sesat hanya gara-gara perbedaan pendapat.