Epic Life   

Hajar Aswad, Batu Mulia Umat Islam

 
Penulis
Nural
27 May 2017

Buat yang beragama Islam, pasti udah enggak asing lagi dengan benda yang bernama Hajar Aswad. Yap, Hajar Aswad merupakan batu istimewa yang terletak di sudut Kakbah. Nama Hajar Aswad merupakan bahasa Arab yang artinya batu hitam.

Setiap umat Islam yang ngelaksanain ibadah haji atau pun umrah di Mekah, pasti mau banget memegang dan mencium Hajar Aswad tersebut. Konon, kalau lo mencium batu tersebut sambil berdoa, niscaya doa langsung terkabulkan. Makanya, sudut Kakbah jadi “target berburu” umat Islam. Di sudut inilah, tersemat Hajar Aswad. Saking istimewanya, pernah, enggak, lo berpikir dari mana Hajar Aswad itu berasal ?

Hajar Aswad merupakan batu lonjong tak beraturan. Batu ini terdiri dari delapan keping batu yang diikat dalam lingkaran perak dan ditanam pada ketinggian 1,10 meter dari tanah. Batu ini tampak licin karena terus menerus dicium dan diusap-usap oleh jutaan bahkan miliaran manusia sejak zaman Ibrahim. Bahkan, sebagian besar orang yang menciumnya, bilang kalau batu tersebut berbau harum.

Dalam buku Jejak Ibnu Battuta karya Ross E. Dunn, Ibnu Battuta yang diriwayatin sebagai sosok petualang ngegambarin Hajar Aswad sebagaimana dia lihat saat berkunjung ke Mekah. Dia menuturkan, Hajar Aswad ditempatin pada ketinggian enam jengkal dari tanah. Hajar Aswad ditempatin di sudut yang menghadap timur.

 

Asal Mula

Dikutip Brilio.net, dari buku Sejarah Ibadah karya Syahruddin El Fikri, pada awalnya Allah merintahin Nabi Ibrahim AS untuk membangun Kakbah. Saat pembangunan Kakbah hampir selesai dan masih terdapat satu ruang kosong untuk menutupi temboknya, Nabi Ibrahim AS meminta anaknya, Nabi Ismail AS untuk mencari batu agar ruang kosong itu bisa segera tertutupi.

Ismail kemudian pergi dari satu bukit ke bukit yang lain untuk mencari batu yang paling baik. Pas lagi mencari, Malaikat Jibril datang dan ngasih dia sebuah batu hitam yang paling bagus. Dengan senang hati, dia nerima batu itu dan ngebawanya buat dikasih ke ayahnya. Nabi Ibrahim gembira dan mencium batu itu beberapa kali.

Saking istimewanya, asal-usul Hajar Aswad terus diperdebatin. Dalam riwayat hadis At Tirmidzi, batu hitam itu berasal dari surga yang dibawa Nabi Adam AS ke bumi. Awalnya, kata hadis itu, Hajar Aswad berwarna putih. Namun, karena selalu dipegang dan dicium orang-orang yang ngunjungin, akhirnya batu itu nyerap dosa-dosa manusia hingga berubah jadi hitam.

Banyak perbedaan pendapat mengenai asal mula dituruninnya. Ada yang nyebutin bahwa batu ini diturunin oleh Allah SWT melalui perantara Malaikat Jibril. Ada pula yang berpendapat bahwa Hajar Aswad dibawa oleh Nabi Adam AS ketika diturunin dari surga. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam bukunya, Qisas Al-Anbiya.

 

Terbuat dari Batu Meteor?

Sebagian ilmuwan nyatain bahwa Hajar Aswad merupakan batu meteor yang memiliki jenis aerolit atau siderolit. Dilansir dari Kafe Astronomi, sebuah riwayat mengatakan bahwa Hajar Aswad dapat terapung di dalam air. Hal itu seolah mendobrak pernyataan yang tertulis pada katalog meteor yang dibuat oleh geolog Prior-Hey (1953). Meteor jenis siderolit memiliki ciri lain yang senantiasa tenggelam jika dimasukin ke air.

Ada juga yang nganggap bahwa Hajar Aswad diambil dari Kawah Wabar, kawah meteor yang terletak 550 km sebelah tenggara Kota Riyadh. Namun, ternyata kawah tersebut terbentuk pada 9 Januari 1704 ketika jatuhnya sebuah meteor yang berukuran 10 meter. Kalau tumbukan meteor itu terjadi pada 1704, dengan kata lain, kejadian tersebut terlalu lama, mengingat Kakbah dibentuk oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS pada sekitar 1850—1820 SM. Mustahil Hajar Aswad berasal dari proses tumbukan ini.

Kalau ditelisik lebih dalam, mencari hubungan antara Hajar Aswad dengan batu meteor salah satunya bisa dengan mencari dan memetakan kawah tumbukan meteor di seluruh Jazirah Arabia dan Nubia (Mesir—Sudan). Asumsinya, kalau memang Hajar Aswad adalah batu meteor, dia sampai di permukaan Bumi lewat proses tumbukan benda langit. Enggak mungkin, dong, hanya satu bongkahan yang jatuh. Pasti masih tersisa bongkah-bongkah meteor lainnya tanpa sempat lebur jadi butir-butir mikrometeorit akibat tingginya tekanan dan besarnya energi tumbukan.

Hingga 2011, di kawasan tersebut telah dijumpai 13 kawah besar mirip kawah meteor. Namun, setelah diteliti, hanya tiga yang dibentuk oleh tumbukan meteor karena nyisain jejak-jejak mineral batu meteor. Kawah tersebut ialah Kawah Wabar (Saudi Arabia), Jabel Waq as Suwwan (Yordania), dan Kamil (Mesir). Dari ketiganya, hanya Kawah Wabar dan Kamil yang berpotensi nyisain bongkah meteor besar karena meteornya berupa meteor besi (siderit).

Maka secara waktu, agak sulit kalau ngaitin kedua kawah meteor itu dengan Hajar Aswad. Soalnya, Hajar Aswad udah ada duluan dibanding kedua kawah itu.

Selain itu, Hajar Aswad pernah diasumsikan sebagai batuan beku hasil aktivitas gunung berapi. Batuan beku asam secara umum berwarna terang, berkebalikan dengan batuan beku basa yang berwarna gelap. Salah satu bakuan beku asam itu punya ciri khas mampu terapung di air dan memiliki warna terang, yaitu batu apung. Kemiripan ini cukup menarik karena Hajar Aswad diriwayatin berwarna putih dan dapat terapung di air.

Kalau dilihat secara geologi, Jazirah Arabia bagian barat juga merupakan wilayah yang aktif secara vulkanis. Namun, aktivitas vulkanis di daerah tersebut enggak membentuk gunung berapi yang bermagma asam. Gunung berapi di sana bermagma basa dan menghasilkan batuan beku basa yang gelap. Nah, loh!

Jadi, apakah Hajar Aswad sama dengan batu apung? Sulit buat ngaitinnya. Hal ini karena vulkanitas tanah Arab lebih dominan ngehasilin batuan beku basa. Kebanyakan, gunung berapi enggak meletus secara dahsyat. Makanya, enggak ditemuin jejak-jejak letusan eksplosif. Dulu memang pernah ada kaldera di Jabal Salma. Namun, kaldera ini terbentuk sekitar 580 juta tahun silam sebelum tumbukan meteor dan terlalu tua buat bisa ngehasilin batu apung.

Sejarahnya sulit buat dibuktiin. Karena, sifat sejarah adalah ada saksi hidup yang bisa ceritain dengan buktinya. Sedangkan, Hajar Aswad sendiri masih misteri. Pasalnya, enggak ada yang bisa ceritain bahkan meneliti secara ilmiah mengenai asal-usulnya. Jadi, kalau Hajar Aswad sulit dikaitin dengan batu meteor dan juga batu vulkanis, lantas batu ini terbuat dari apa?

Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui.