Icon  Inspiring Figure   

5 Sosok Manusia Penakluk Hewan

 
Penulis
Intan Kirana
16 July 2017

Manusia adalah makhluk paling sempurna. Dengan akalnya, manusia bisa bikin peradaban yang semakin maju. Meskipun begitu, bukan berarti manusia bisa menangani makhluk-makhluk lain dengan lihai. Malah, manusia sering kali merasa kesusahan dalam berinteraksi dan memahami keinginan hewan. Ada kalanya, manusia malah terancam dengan keberadaan hewan-hewan. Soalnya, kita enggak memahami bahasa, intuisi, dan cara berpikir hewan yang berbeda dengan kita.

via GIPHY

Nyatanya, ada beberapa orang di muka Bumi ini yang mampu “berkomunikasi” sama binatang. Hebatnya, kemampuan mereka mengerti hewan, bisa dibilang, lebih hebat daripada lo memahami arti hidup ini. Dan, jelas, mereka enggak mendapat kemampuan ini dalam waktu singkat. Perlu usaha nyata, kesabaran kuat, dan niat yang bulat buat itu.

Siapa aja, sih, orang-orang hebat yang bisa “ngomong” sama para hewan? Yuk, kenalan sama mereka!

 

1. Cesar Millan

Cesar Millan adalah seorang ahli dalam menangani anjing, bahkan bisa dinobatkan sebagai the guru. Bagaimana enggak, semua anjing kayaknya nurut sama dia. Mulai dari anjing supergalak yang posesif sama pemiliknya sampai anjing yang terobsesi sama keran air. Semua aksi Millan dalam ngewarasin dan nenangin anjing dapat dilihat di serial Cesar Millan's Dog Nation.

Millan yang berasal dari Meksiko ini sering kali ditanya orang, keajaiban apa yang dia miliki sampai bisa bikin semua anjing tenang dan bisa diatur. Selain terbiasa bekerja dengan anjing-anjing, menurut Millan, kepercayaan diri dan ketulusan penting banget dalam menghadapi anjing. Kalau kita ngerasa takut dan kaku, anjing pun enggak bakal nyaman sama kita.

Anjing akan bersikap wajar kalau kita tenang, tulus sayang sama dia, dan tentunya percaya diri menghadapi dia. Soalnya, anjing bisa ngerasain energi-energi yang keluar dari tubuh kita, loh! Yap, hewan memang lebih sensitif, ‘kan, daripada manusia?

Kemampuan ajaib Millan ini enggak didapat secara instan. Sejak kecil di Sinaloa, Meksiko, dia memang udah terbiasa menemani kakeknya di pertanian, mengurus anjing-anjing penjaga ternak. Karena kelihaiannya mengurus dan menangani anjing, dia pun dijuluki “El Perrero” (The Dog Boy/Si Ahli Anjing) oleh orang sekitar.

Pada umurnya yang ke-21, dia nekat menyeberangi perbatasan Meksiko-Amerika Serikat. Padahal, dia sama sekali enggak bisa berbahasa Inggris. Dia ngerasa bahwa Amerika adalah tempat segala kesuksesan berada.

Awalnya, dia bekerja serabutan sebagai sopir dan perawat anjing di Los Angeles. Lama-kelamaan, dia dipercaya jadi sopir limusin. Pada saat itu, dia bertemu dengan Jada Pinkett Smith, istrinya Will Smith. Mengetahui kemampuannya menangani anjing, Jada jadi “klien” pertama Millan dan mereka berdua pun jadi sahabat. Enggak hanya memercayakan anjingnya ke Millan, Jada juga ngajarin Millan bahasa Inggris.

Setelah punya cukup uang, Millan mendirikan Pacific Point Canine Academy dan Dog Psychology Center. Lama-kelamaan, usahanya makin terkenal dan orang-orang pun datang ke tempatnya setiap kali anjing mereka memiliki masalah, terutama soal tingkah laku.

Setelah profilnya diulas di Los Angeles Time, Millan ditawari membintangi acara berjudul Dog Whisperer yang bercerita tentang kisahnya menangani para anjing. Dari sinilah, Millan semakin dikenal. Enggak cuma di Los Angeles, tapi juga seluruh dunia.

 

2. Steve Irwin

Tahu tayangan berjudul The Crocodile Hunter?. Seri dokumenter ini dulu ditayangin secara reguler di Animal Planet dan Discovery Channel. Nama pembawa acaranya adalah Steve Irwin. Cowok yang berasal dari Queensland, Australia, ini punya sifat yang ramah dan menyenangkan. Kalau lo papasan sama dia jalan, pasti enggak nyangka kalau di balik wajah ramahnya ada keberanian besar.

Di saat orang lain ngacir pas lihat buaya, Irwin malah berlaku sebaliknya. Dia akan mendekati buaya itu dan menaklukkannya! Caranya tentu aja beda sama Milan. Soalnya, buaya itu reptil dan perasaannya enggak sehalus anjing. Dengan teknik tertentu dan beberapa peralatan sederhana kayak tali, Irwin berhasil bikin buaya jadi “jinak” dan mati kutu. Irwin enggak melukai mereka, kok. Setelah diperiksa dan dielus-elus cantik serta dikaji, buaya itu dilepas lagi tanpa ke alamnya tanpa kekurangan apa pun.

Irwin udah terbiasa dengan hewan buas sejak remaja. Maklum, kedua ortunya, Bob dan Lyn, ahli di bidang penanganan hewan buas. Pada 1970, mereka pindah ke Queensland, membuka Queensland Reptile and Fauna Park kecil. Di sanalah Irwin kecil mulai berinteraksi dengan berbagai hewan, terutama reptil kayak ular dan buaya. Di usianya yang ke-9 dia udah mampu menjinakkan buaya di bawah pengawasan sang bokap.

Beranjak dewasa, Irwin bekerja sebagai relawan di Queensland East Coast Crocodile Management Program dan menangkap lebih dari 100 buaya. Setelah terbiasa dengan penanganan hewan, terutama buaya, pada 1991, dia mengambil alih manajemen Queensland Reptile and Fauna Park milik ortunya dan mengubah namanya menjadi Australia Zoo.

Orang-orang pun berpikir kalau Irwin bakal berumur panjang. Namun, takdir memang enggak bisa ditebak. Pada 2006, dia tewas saat sedang syuting dokumenter di Great Barrier Reef akibat penghalang besar di Laut Koral Queensland. Bukan karena buaya, hiu, atau hewan terkenal buas lainnya, tapi karena ikan pari.

Ngerasa terganggu dengan kehadiran Irwin, ikan pari itu menyengat dada ayah dua anak ini. Dia segera mencabut duri ikan pari yang menyengatnya. Bukannya membaik, justru proses itu malah bikin jantungnya jadi sobek. Meski dirinya udah enggak ada, dunia tetap mengenal Irwin sebagai sosok pemberani yang bisa menaklukkan buaya.

 

3. Tippi "Tarzan Cilik"

Mundur sejenak ke era 2002—2003, pernah ada acara terkenal berjudul Around the World with Tippi dengan bintang utama seorang anak cewek. Anak itu kelihatan pemberani dan enggak takut sama binatang-binatang liar di alam lepas. Nama anak itu adalah Tippi Degré.

Dia memang benar-benar terbiasa sama alam liar dan hewan-hewan. Dia pun paham cara menangani para fauna tersebut. Maklum, ortu Tippi adalah fotografer dan pembuat film dokumenter tentang kehidupan hewan-hewan liar. Pekerjaan ortunya ini bikin Tippi hidup selama bertahun-tahun di hutan dan alam liar Namibia. Jadi, dia terbiasa sama hewan-hewan dan kehidupan suku-suku di sana.

Tippi enggak cuma berteman sama hewan-hewan jinak semacam kakatua atau gajah. Dia juga sahabatan, loh, sama leopard yang diberi nama J&B, ular, bahkan cheetah. Dia ngerasa bahwa hewan-hewan ini sangatlah menyenangkan dan asyik diajak bermain.

Nah, udah lebih dari satu dekade, Tippi tentu udah bukan anak kecil lagi. Lahir pada 1990, Tippi sekarang udah jadi seorang cewek dewasa berumur 27 tahun.

 

4. Kevin Richardson

Apakah lo pencinta kucing? Yap, kucing memang hewan yang menggemaskan! Kalau ngelihat kucing, pasti lo berani meluk-meluk. Namun, bagaimana kalau kucingnya adalah kucing besar? Maksudnya bukan kucing obesitas, loh, tapi singa, harimau, dan teman-temannya.

Mungkin lo enggak sanggup ngebayangin diri lo meluk singa. Selain karena beratnya ngalah-ngalahin galon air mineral, lo pasti takut kalau kepala lo dimakan. Pasalnya, kucing-kucing besar ini adalah hewan karnivora yang buas! Namun, hal itu enggak berlaku buat Kevin Richardson.

Richardson adalah seorang behaviourist hewan dari Afrika Selatan. Nama lain dari Richardson sendiri adalah “Lion Whisperer”. Yap, kayak Millan, cuma Richardson mungkin lebih ekstrem. Soalnya, entah kenapa, semua singa dan harimau selalu jinak kalau udah berurusan sama dia.

Enggak cuma singa, bahkan jaguar pun tunduk sama Richardson! Kalau enggak percaya, lo bisa lihat seri dokumenter berjudul Part of the Pride: Among the Big Cats of Africa yang dibintangin olehnya.

Meskipun cara dia menghadapi kucing-kucing besar ini tampak sederhana, Viki enggak nyaranin sama sekali buat lo niru-niru dia. Soalnya, butuh pengalaman khusus terkait psikologi hewan dan segala anatomi tubuhnya. Bukan sekadar main bisik-bisik ke singa!

Yap, keahlian Richardson ini enggak didapat dalam waktu singkat. Awalnya, dia mengambil bidang zoologi saat kuliah. Selama dua tahun, dia lebih banyak nerima pelajaran biologi kelautan, bukannya mamalia yang dia sukai. Akhirnya, dia milih buat cabut. Pada saat itu, dia ngerasa bahwa dia ditakdirin buat enggak bekerja di bidang fauna.

Dia pun ngambil kuliah fisiologi dan anatomi, memulai karier di bidang fisiologi olahraga setelahnya. Pada usia ke-23, dia mendapat kesempatan buat bekerja dengan dua anak singa bernama Tau dan Napoleon di Lion Park Johannesburg. Sampai anak-anak singa itu tumbuh, dia masih kerja di sana.

Enggak lama setelah itu, pihak Lion Park dan Richardson membuat semacam film dokumentasi tentang penanganan mamalia buas di sana. Melalui film dokumenter inilah, Richardson jadi terkenal sebagai “Lion Whisperer” dan nerima tawaran film dokumenter yang bergengsi.

 

5. Muhamad Panji

Kita harus bangga karena Indonesia juga punya penakluk hewan. Siapa lagi kalau bukan Panji sang Penakluk? Kalau doyan nonton TV pada rentang 2004—2007, lo pasti udah enggak asing lagi sama cowok yang satu ini. Yap, Panji adalah pembawa acara seri dokumenter berjudul Panji sang Penakluk.

Kita sering dibuat ternganga karena Panji enggak takut saat menghadapi ular. Bahkan, pernah dia mencium kepala King Cobra dalam acaranya. Padahal, ular selalu bikin parno karena bisanya bisa bikin kelumpuhan dan kematian.

Enggak lama, acara ini berhenti disiarin. Sempat beredar kabar kalau Panji udah meninggal. Makanya, dia enggak muncul lagi di televisi. Kabarnya, Panji meninggal dicabik-cabik dan dimakan komodo. Seram banget, ya? Namun, usut punya usut, ternyata kabar itu hoax belaka, dibuat-buat sama blogger enggak bertanggung jawab buat bikin kehebohan.

Seorang blogger menyampaikan kesaksiannya bertemu dengan Panji. Dalam tulisan yang dimuat di Kompasiana, dia bercerita bahwa Panji masih hidup. Bahkan, dia ngasih bukti kalau dia memang bertemu Panji. Jadi, kemungkinan besar, kabar meninggalnya Panji memang bohong. Sayangnya, kita enggak nemuin berita pasti soal itu.

***

Makhluk hidup di semesta ini bukan cuma manusia. Demi keseimbangan alam, kita harus “ngejalin hubungan” baik dengan flora dan fauna, khususnya di sekitar kita. Meskipun kita enggak bisa selihai mereka dalam menangani hewan, tetap aja kita punya kewajiban buat memperlakukan mereka secara layak. Justru di situlah fungsi pikiran dan perasaan yang jadi anugerah buat manusia, ‘kan?

via GIPHY

Itulah yang coba disampaikan oleh para penakluk hewan ini. Dengan memahami hewan liar, terlihat bahwa mereka punya empati dan kemanusiaan yang tinggi. Nah, di antara lima penakluk hewan di atas, mana yang bikin lo kagum dan termotivasi buat memahami hewan lebih dalam?