Icon  Celebrity   

Dewa 19 Dulu dan Sekarang

 
Author
Renovan Reza
20 May 2017

Dewa 19 adalah salah satu band yang berjaya dari era 1990-an sampai sekarang. Mereka udah menyatakan bubar, tapi enggak jarang juga mau main kalau diundang asalkan harga yang cocok dan dalam rangka ajang reuni, bukan aktif kembali. Sebagai band yang berusia lebih dari dua dekade, mereka udah nyabet banyak banget penghargaan. Bagaimana, sih, perjalanan mereka dari awal kemunculannya pada akhir 1980-an sampai sekarang?

1. Asal-usul Nama Dewa 19

Motor utama band ini adalah Dhani Ahmad Prasetyo alias Ahmad Dhani yang ngebentuk Dewa pada 1986 di Surabaya. Pas itu, Dhani pakai nama Dewa yang berasal dari akronim nama keempat personelnya: Dhani Ahmad (kibor, vokal), Erwin Prasetya (bas), Wawan Juniarso (drum), dan Andra Junaidi (gitar).

Nah, ketika Wawan keluar dari band, otomatis nama Dewa enggak bisa dipertahanin. Enggak mungkin, ‘kan, namanya jadi “Dea”? Entar malah saingan sama artis cilik Dea imut.

Saat itu, muncul nama Down Beat yang sempat dikenal di seantero Jawa Timur karena berhasil menangin beberapa lomba. Down Beat diperkuat oleh Salman yang sementara gantiin posisi Wawan. Ketika mereka tahu Slank udah besar di Jakarta, Wawan dipanggil lagi buat memperkuat Down Beat yang berubah nama jadi Dewa (lagi), tapi kali ini ditambah angka 19 di belakangnya karena umur para personel yang rata-rata 19 tahun ketika itu. Ari Lasso juga dipanggil barengan sama Wawan yang tadinya berasal dari satu band yang sama. Terbentuklah nama Dewa 19 dengan lima personel.

2. Album Dewa 19 Jadi Kunci Kesuksesan

Mereka berlima berangkat ke Jakarta buat cari label rekaman yang mau nerima materi album mereka. Namun, mereka berulang kali ditolak oleh berbagai label karena warna musik Dewa 19 yang cukup melenceng dari industri musik saat itu. Akhirnya, Dhani ketemu sama Jan Djuhana, pemilik Team Records. Jan tertarik dengan komposisi yang dikemas dalam master album perdana Dewa 19. Ternyata, keputusannya tidak salah. Pada 1992, album Dewa 19, sama kayak nama bandnya, laris manis di pasaran. Album perdana ini jadi gerbang bagi mereka berlima menuju kesuksesan selanjutnya, termasuk dua penghargaan di ajang BASF Awards 1993.

3. Semakin Sukses dengan Album-album Setelahnya

Setelah kegemilangan album perdana, mereka berlima bersiap memenuhi kehausan penggemar atas karya mereka selanjutnya. Dibuatlah album kedua pada 1994 bertajuk Format Masa Depan. Pada waktu penggarapan album kedua, sang penggebuk drum, Wawan, kembali hengkang dari band. Oleh karena itu, suara gebukan drum pada album kedua adalah hasil karya Rere Reza dari Grass Rock dan Ronald.

Terbaik Terbaik lahir pada 1995. Album ini dapat berbagai penghargaan, baik secara album keseluruhan maupun lagu yang digunakan sebagai single, “Cukup Siti Nurbaya”. Tidak ingin memiliki selot kosong dalam tubuh Dewa 19, mereka menggaet Wong Aksan sebagai penggebuk drum untuk melancarkan album selanjutnya. Pada album ini, Dewa 19 kembali dianugerahi berbagai penghargaan oleh BASF Awards.

Kayak enggak pernah puas, Dewa 19 yang udah punya drummer yang cekatan, bikin album Pandawa Lima pada 1997. Pada album ini, penghargaan yang mereka raih lebih banyak lagi. Mereka dapet enam penghargaan di ajang AMI 2017.

4. Narkoba Menghancurkan Segalanya

Pada sekitar 1998, badai menerjang tubuh keutuhan Dewa 19. Mereka kalah telak kali ini. Ari dan Erwin menjadi pemadat akut ketika itu. Hal ini membuat Ari terpaksa dikeluarin dari band karena enggak kunjung tobat. Sedangkan, Erwin direhabilitasi dan dimasukin ke pesantren. Pada tahun yang sama, Wong Aksan didepak dari band dengan alasan permainannya yang terlalu nge-jazz. Alhasil, tinggal Dhani dan Andra yang bertahan. Engak ada yang bisa diperbuat dengan dua personel. Tawaran manggung dan proses rekaman album selanjutnya terhenti ketika itu juga.

5. Masuknya Once dan Tyo

Setelah melewati masa-masa suram, Dhani dan Andra enggak nyerah begitu aja. Dhani ngerekrut Elfonda Mekel (Once) dan Tyo Nugros buat ngisi posisi vokalis dan drummer. Dengan formasi empat personel, mereka ngerilis album Bintang Lima pada 2000. Nama mereka balik lagi jadi Dewa, enggak pakai 19. Mungkin mereka sadar kalau mereka udah di atas 19 tahun.

Kehilangan vokalis dalam sebuah band memang sangat riskan buat keberlangsungan sebuah band. Apalagi, Dewa 19 udah punya empat album sebelumnya yang sukses berat. Namun, album kelima mereka dengan seluruh vokalnya diisi sama Once lebih laris di pasaran daripada album-album sebelumnya. Banyak penghargaan juga berhasil mereka dapat dari album kelima ini.

Erwin masuk lagi pada 2002 setelah bersih total dari narkoba. Dia ikut andil di album keenam Dewa, Cintailah Cinta, yang enggak kalah sukses sama album-album Dewa sebelumnya. Di tahun yang sama, Erwin ditendang dari Dewa dan digantikan sama Yuke Sampurna.

6. Terus Menanjak hingga Puncak Karier

Mulai 2003, Dewa menggelar tur konser 25 kota di Indonesia sekaligus ngajak Ari Lasso buat ikutan tur. Mereka juga ngerilis album dalam bentuk DVD bertajuk The Best of Dewa 19, sama kayak yang udah dirilis sebelumnya. Tahun-tahun setelahnya, mereka juga masih giat ngadain tur keliling Indonesia.

Selama 2003—2005, Dewa diundang buat main di Jepang, Korea Selatan, Amerika, Australia, dan Singapura. Dewa juga sempat main ke Timor Leste buat memeringati Hari Kemerdekaan Timor Leste. Pada 2006, Dewa juga sempat pengen masuk ke pasar internasional yang ditandai dengan kontrak dengan label EMI Music International Hong Kong. Sayangnya, pasar internasional belum nyambung sama musik yang dibawain Dewa yang ketika itu mengusung album Republik Cinta.

7. Masa Surut di Usia Senja

Setelah Republik Cinta, enggak ada lagi album bombastis yang dirilis Dewa. Album terakhir berhasil mereka rilis dalam bentuk kompilasi berjudul Kerajaan Cinta. Keropos mulai menjangkiti kekokohan dalam tubuh Dewa dengan vakumnya Tyo karena sakit pada kakinya. Dewa sempat satu kali ngadain tur ke Malaysia tanpa Tyo. Setelah balik ke Indonesia, para personel mulai sibuk dengan proyek masing-masing. Kejenuhan mungkin jadi salah satu faktor yang bikin mereka beralih ke proyek lain.

Akhirnya, pada 2011, Once undur diri dari Dewa karena pengen fokus di karier solonya. Sejak saat itu, Once dan Dhani sepakat bahwa Dewa adalah band nostalgia buat seluruh personel Dewa.

***

Meskipun udah bubar, Dewa/Dewa 19 enggak berhenti ngisi panggung-panggung musik tanah air. Pada 2013 aja, mereka beberapa kali ngisi acara yang berani ngundang mereka. Ada kabar yang nyebutin kalau salah satu sekolah di Makassar pernah memboyong Dewa dengan honor Rp850 juta. Hebat, ya?

Nah, buat lo, paling suka Dewa di era dan album yang mana? Pastinya, gonta-ganti personel sangat memengaruhi corak yang ada di dalam album itu sendiri. Masa-masa album lahir juga dipengaruhi sama berbagai faktor eksternal di luar personel band yang sering keluar-masuk tubuh Dewa 19. Buat Viki, album pertama sampai keempat paling “megang” karena meski didengerin di era milenium, materinya masih terdengar segar dan enggak lazim.