Icon  Celebrity   

20 Legenda Musik Indonesia yang Mungkin Lo Enggak Tahu

 
Author
Renovan Reza
19 June 2017

Ngomongin soal musisi Indonesia zaman dulu, pasti nama Koes Plus atau Panbers yang segera terlintas. Nama besar mereka memang pernah menghiasi telinga para penikmat musik era 1960 sampai 1970-an. Enggak cuma dikenal, mereka bahkan dikenang.

Masih banyak, loh, yang pernah memeriahkan panggung musik dalam negeri. Sayangnya, karya dan nama mereka enggak cukup buat nembus kemajuan zaman. Mungkin cuma segelintir orang yang tahu mereka.

Padahal, musisi-musisi ini bisa juga lo jadiin panutan. Nah, berikut ini, beberapa musisi yang enggak kedengeran lagi nama dan karyanya. Padahal, mereka udah berkontribusi buat memenuhi salah satu kebutuhan penting dalam hidup kita, yaitu musik.

1. Munif dan Orkesnja

Dari era 1960-an, ada Munif dan Orkesnja sebagai pelaku orkes gambus. Buat lo yang belum tahu, gambus adalah musik yang berasal dari Timur Tengah. Biasanya, alat musiknya mencakup mandolin, gendang, tabla, seruling, dan biola. Gambus adalah akar dari musik yang sekarang disebut kasidah.

Dalam setiap album Munif dan Orkesnja, Munif Bahasuan selaku pemimpin orkes, selalu bawa musisi lain buat nyanyiin lagu-lagunya. Sebut aja Ellya Khadam, Ilahul Alamin, Lilis Surjani, dan masih banyak lagi.

2. Orkes Kelana Ria

Masih dari dekade yang sama, Orkes Kelana Ria juga membawakan orkes gambus dengan beat khas musik latin. Percampuran dua corak musik dari dua benua yang berbeda ini karya orang bernama Adikarso. Munif Bahasuan juga pernah mengisi vokal dalam lagu-lagu Orkes Kelana Ria. “Ya Mahmud” salah satu lagu Orkes Kelana Ria dalam album yang juga berjudul “Ya Mahmud” dan sekarang jadi incaran para kolektor piringan hitam mancanegara, terutama disc jokey mancanegara karena dalam lagu ini terdapat lirik campuran bahasa Inggris (bagian reff) dan Arab. Bagian reff lagu ini, “I love you Mr. Mahmud/Come to me Mr. Mahmud”, jadi bagian yang catchy berat karena ada dalam lagu orkes gambus yang identik sama bahasa Arab.

Masih dari dekade yang sama, Orkes Kelana Ria juga sebuah orkes gambus dengan beat khas musik Latin. Dua corak musik dari dua benua yang berbeda ini diolah oleh Adikarso. Munif Bahasuan juga pernah mengisi vokal dalam lagu-lagu Orkes Kelana Ria. “Ya Mahmud”, salah satu lagu Orkes Kelana Ria dalam album berjudul sama, sekarang jadi incaran para kolektor piringan hitam mancanegara, terutama disc jokey. Soalnya, dalam lagu ini terdapat reff berbahasa Inggris di antara lirik berbahasa Arab sebagai identitas musik gambus.

3. Eka Djaja Combo

Grup musik asal Bandung ini selalu ngebawain musik Latin dalam balutan jazz. Orkes Rudy Rusadi bertindak sebagai vokalis sekaligus pemimpin orkes, memandu Dudung A. S. sebagai peniup seruling, Wim Bustami selaku penggebuk drum, Said Salmin di bagian keyboard, dan Zulkarnaen Roman dengan permainan basnya.

Meskipun sering tampil dalam festival musik di Bandung, mereka lebih dikenal setelah berganti nama menjadi Los Morenos. Soalnya, mereka lebih banyak ngeluarin album daripada pas masih di Eka Djaja Combo.

4. Buana Suara

Masih dari era 1960-an, ada Buana Suara yang biasa bawain musik rock ‘n roll, swing, dan keroncong yang “megang” banget pada masa itu. Lo pernah denger nama Jopie Item? Iya, bapak dari Audy dan Stevie Item. Sebelum punya dua anaknya itu, Om Jopie pernah memperkuat Buana Suara sebagai gitaris.

5. Zaenal Combo

Nama Zaenal berasal dari nama sang pemimpin orkes, Zaenal Arifin. Lagu-lagu mereka kental dengan atmosfer Minang dalam balutan musik swing. Mereka bisa mengiringi penyanyi-penyanyi semacam Lilies Suryani, Ernie Djohan, Emilia Contessa, Titi Qadarsih, dan lain-lain.

Salah satu kolaborasi yang terkenal adalah bersama Ernie Djohan, ngebawain lagu “Teluk Bajur”. Lagu ini adalah salah satu ciptaan Zaenal.

6. The Pro’s

The Pro’s adalah singkatan dari The Professional. Pada masanya, The Pro’s lebih dikenal oleh rakyat Singapura karena band ini sering bertandang ke bar, hotel, dan gigs lainnya di sana. The Pro’s diperkuat oleh Fuad Hasan (lalu memperkuat God Bless), Enteng Tanamal (terkenal bersama Zaenal Combo), Broery Marantika (solois kenamaan Indonesia), dan Pomo (saksofonis). Enggak jarang, The Pro’s juga jadi band pengiring solois kayak Bob Tutupoly dan Pomo.

7. Kwartet Bintang

Dari sampul belakang album Kwartet Bintang, band ini dinyatain lahir pada Juli 1965. Dari sumber yang sama, seorang bernama Jessy Wenas dinyatakan sebagai pemimpin Kwartet Bintang. Namun, mereka juga menyatakan bahwa siapa aja bisa jadi pemimpin, “...berkat kerdja sama dan saling menghargai jang rapih, baik dan terarah.

Grup ini diperkuat oleh orang-orang yang udah punya nama besar, kayak Zaenal Arifin, Jopie Item, dan Benny Mustafa. Kwartet Bintang memiliki satu hit instrumental berjudul “Abu Nawas”.

8. The Peels

The Peels adalah salah satu band yang lebih terkenal di negeri orang daripada di tanah kelahirannya. Band ini terbentuk di Bandung pada 1966. Seperti The Pro’s yang sering bermain klub dan bar di Singapura, The Peels sering memeriahkan panggung-panggung di sana bersama band Indonesia lainnya, kayak The Steps, The Rollies, dan The Pro’s.

Tiga rekaman (LP atau pun EP) yang mereka telurkan direkam di Singapura. The Peels memainkan berbagai jenis musik, mulai dari pop, garage rock, hingga keroncong. Mereka ikut ngelestariin musik keroncong Indonesia dengan ngebawain “Kerontjong Kemajoran” dalam album The Peels by Public Demand.

9. Yanti Bersaudara

Grup ini berasal dari kelahirannya The Peels, yaitu Bandung. Yanti adalah penyingkatan nama para personelnya, yaitu Yani, Tina, dan Iin. Mereka bertiga adalah adik kandung dari personil Trio Bimbo (Acil, Jaka, Sam). Yanti Bersaudara sempat nelurin tiga buah album. Album debut trio ini diiringi Orkes Medenasz dan diproduksi oleh label Irama milik Soejoso Karsono alias Mas Jos.

Salah satu album mereka (Yanti Bersaudara) yang lain direkam di Singapura bersama label Polydor. Banyak banget kolektor yang cari album mereka ini. Bayangin aja, harga satuannya bisa mencapai Rp3 juta, loh!

10. Sitompul Sisters

Setelah Yanti Bersaudara datang dari tanah Jawa (Sunda), ada lagi tiga perempuan gahar dari tanah Sumatera. Mereka menamakan diri mereka Sitompul Sisters. Sebelum menggunakan nama ini, mereka bertiga menggunakan nama Tiga Dara Sitompul. Namun, setelah rezim Orde Lama jatuh (Presiden Soekarno melarang musik dan nama kelompok musik yang berbau Barat) mereka bertiga menyesuaikan diri dengan mengganti nama dan warna musik mereka dengan tempo yang lebih upbeat dan kostum ala flowers generation.

11. One Dee & The Lady Faces

Nama One Dee muncul dari nama sang pemimpin, Wandy Kuswandi, yang diplesetin menjadi One Dee. Kelompok musik ini beranggotakan Wandy Kuswandi, Myrna, Myrra, dan Betty Asmara. Beberapa lagu yang yang dalam album awal mereka terdengar mirip dengan The Beatles. Namun, dalam album-album mereka di akhir 1970-an, mereka membuat beberapa album pop dengan aransemen eksperimental dan lirik bahasa Sunda.

12. Usman Bersaudara

Band yang beranggotakan empat bersaudara (Usman, Said, Gufron, dan Sofjan) ini datang dari Surabaya. Kenapa nama Usman yang dipakai? Alasannya, Usman yang paling tua. Seiring berjalannya waktu, mereka mengganti nama belakang mereka dengan “Bro’s”. Usman menjadi Usman Bro’s, biasa ditulis Us Bro’s di label album mereka. Usman Bersaudara ngebawain berbagai macam jenis musik dari garage rock, pop, keroncong, hingga pop Jawa dengan musik yang sebenarnya enggak ngepop.

13. Blo’on Group

Blo’on Group muncul di era 70-an dengan membawa musik pop dengan lirik bahasa Jawa dan aransemen yang sama gilanya dengan One Dee versi Sunda dan Usman Bersaudara versi Jawa. Bedanya Blo’on Group selalu membawa lirik jenaka layaknya almarhum Benyamin S. dalam setiap lirik lagu mereka.

14. The Steps

The Steps terdiri atas May Sumarna, Ismet Januar, Imran, Joko Pratomo, Dono, Didi Hadju, Ferly, dan Paul Irama. The Steps selalu mengiringi berbagai solois, seperti Sandra Sanger dan Marini Soerjosoemarmo. Enggak cuma di Indonesia, band ini ngeraih reputasi di luar negeri, kayak Malaysia, Singapura, dan Hongkong.

Pada 1970, The Steps telah dikontrak buat ngerilis album dalam label Philips di Singapura. Layaknya Bee Gees yang berhasil menembus zaman, The Steps terus melaju hingga akhir 1970-an. Saat itu, demam musik disko mewabah di Indonesia.

15. Madesya Group

Madesya yang lahir pada 1974 tercipta dari akronim nama personelnya: May Sumarna, Danus, Eddy Loumantouw, Syahbuddin, Yul Crizal, dan Albert Sumlang. Madesya Group lahir ketika May pergi dari band lamanya, The Steps. Madesya ngebawain musik lintas genre. Mulai dari dangdut, jaipong, pop Sunda, Jawa, hingga Betawi pernah mereka kemas dalam album.

16. Donny & The Road

Donny Fattah—bassist God Bless—punya proyek sampingan bersama Deddy Dorres, Tommy Dorres, dan Papa Dorres sebagai pemimpin pada 1970-an. Satu album mereka lahir pada 1977 di bawah label Irama Tara. Dari sembilan lagu di dalamnya, ada dua lagu funk rock karangan Donny. Judulnya “9 Tahun” dan “Polussy”. Sisanya adalah karangan Deddy Dorres dan saudaranya dengan aransemen Melayu yang mendayu-dayu.

17. Jessy Robot & De Selmon’s

Jessy Robot, solois era 1970-an, bergabung bersama Emmand Saleh (bassist), Hengki Makasuci (drummer), Yanto (keyboardist), Richard Makasuci (gitaris), dan Jopie Item (gitaris). Mereka bikin band Jessy Robot & De Selmon’s (singkatan dari Selendang Monyet). Suasana funk, rock, blues, dan psychedelic sangat terasa di beberapa lagu mereka.

18. The Gembell’s

Lahir pada 1969 di Surabaya, The Gembell’s adalah singkatan dari gemar belajar. Band ini diperkuat oleh Victor Nasution (vokalos/gitaris), Minto (drummer), Rudy (gitaris), Abu Bakar (bassist), dan Anas Zaman (keyboardist). Mereka berlima sering nyelipin lirik kritis—kayak Koes Bersaudara atau Iwan Fals—mengenai hal-hal yang ngeresahin bagi mereka.

Salah satu lagu mereka, “Peristiwa Kaki Lima”, bercerita tentang penggusuran pedagang kaki lima di Surabaya. Lagu ini dilarang disiarin di Radio Republik Indonesia Surabaya, loh. Soalnya, dianggap terlalu vulgar dalam mengkritik kebijakan walikota setempat.

19. Lemon Tree’s Anno ‘69

Berasal dari kota yang sama dengan The Gembell’s, Lemon Tree’s Anno ‘69 lahir pada 1969. Namun, album pertama mereka baru keluar 1978. Personelnya adalah Gombloh (vokalis/gitaris)—iya, Gombloh yang buat lagu “Kebyar-kebyar”—Wisnu Padma (pianis, vokalis), Gatot (gitaris), Tuche (bassist), Totok (drummer), Lorena Limahelu (vokalis), Reny C. (vokalis), dan Ais (vokalis). Gombloh dkk. mainin musik yang sangat berwarna, campuran antara folk dan artrock dengan lirik nasionalis, kritis, dan keras khas Gombloh.

20. Kharisma Alam

Kharisma Alam dibentuk oleh R. Bambang Hendrasto alias Bambang Tondo (komposer) pada akhir 1970-an. Kharisma Alam merupakan grup vokal dengan pengisi vokal Babsye, Debbie, dan Patty. Kelompok ini ngeraih kesuksesan melalui album pertama berjudul Sketsa Seni Musik yang kental dengan atmosfer proggresive pop, harmonisasi tiga backing vocal wanita blasteran, serta permainan synthesizer dan organ dari Bambang yang enggak kalah dengan Fariz RM atau pun Indra Lesmana.

***

Dari nama-nama di atas, ada yang pernah lo dengar?

Meskipun mereka udah enggak bakal lagi lo lihat di TV atau dengar di radio, karya-karya mereka jangan lo abaikan begitu aja. Kalau udah dengar karya-karya para musisi di atas, lo pasti sadar kalau mereka enggak kalah sama The Rolling Stones, The Beatles, atau Sex Pistols dan layak jadi panutan lo dalam bermusik. Setuju, enggak?