Geeky  Movie & TV Series   

(REVIEW) Despicable Me 3: Minions Mulai Kehabisan Bensin

 
Editor
Tanri Raafani
11 July 2017

*Spoiler Alert: Artikel ini mengandung sedikit bocoran film yang bisa aja mengganggu buat lo yang belum nonton.

Cerita: 5| Penokohan: 6| Visual: 8,5| Sound Effect/Scoring: 8,5| Nilai Akhir: 7/10

Enggak perlu diraguin lagi, film animasi Despicable Me udah jadi salah satu waralaba film animasi tersukses sepanjang sejarah. Film terakhirnya, Minions (2015), ngeraup keuntungan 1,16 triliun dolar di Box Office. Kesuksesan ini makin memantapkan posisi Illumination Entertainment sebagai rumah produksi film animasi tersukses saat ini.

via GIPHY

Illumination Entertainment bukannya tanpa cacat. Di balik kesukesannya di Box Office, banyak kalangan yang menganggap film-film animasi buatan mereka kalah jauh dari segi kualitas dibanding film-film animasi dari studio pesaingnya, contohnya Disney atau Pixar. Minions sebagai film satu miliar dolar enggak luput dari kritik pedas. Buktinya bisa dilihat dari nilai buruk yang didapat film ini di berbagai situs tentang ulasan film.

Hal ini pun memunculkan pertanyaan menjelang Despicable Me 3 rilis: apakah Illumination Entertainment masih punya “bensin” buat bikin sebuah film animasi yang menghibur sekaligus berkualitas?

Despicable Me datang ke dunia pertama kali pada 2010 saat film pertama rilis. Film ini sukses besar dan jadi pionir kesuksesan film-film lanjutannya lewat sebuah ide baru nan segar yang bikin penontonnya terhibur. Sayangnya, Minions malah nurunin ekspektasi dan bikin moviegoers jadi ragu sama film selanjutnya. Dan, benar aja, Despicable Me 3 jadi tanda kalau Illumination Entertainment udah mulai tergopoh-gopoh.

Film ketiga Despicable Me ini ngelanjutin kisah Gru (Steve Carrell) dan Lucy (Kristen Wiig) sebagai agen rahasia Anti-Villain League (AVL). Keduanya harus ngejalanin kehidupan yang enggak pasti setelah dipecat oleh pemimpin baru AVL. Di tengah ketidakpastian, tiba-tiba datang sebuah orang yang ngebawa pesan dari saudara kembar Gru yang dia enggak pernah kenal sebelumnya, yaitu Dru (juga diisi suaranya oleh Steve Carrell).

Dru punya impian ngehidupin lagi tradisi keluarganya buat jadi seorang penjahat super. Dari sini, Gru manfaatin keinginan saudara kembarnya buat membalas dan menangkap Balthazar Bratt (Trey Parker), seorang mantan artis cilik yang jadi penjahat super yang bikin dirinya dan Lucy dipecat.

Setelah baca sinopsis di atas, mungkin lo mikir kalau film ini kelihatan kayak ngegabungin beberapa film yang berbeda menjadi satu film. Faktanya, film ini benar-benar demikian. Viki sebelumnya enggak pernah nonton film animasi yang punya banyak subplot kayak Despicable Me 3.

Dalam film ini, lo bakal nemuin sekitar empat subplot. Pertama adalah konflik antara Gru, Dru, dan Balthazar. Subplot kedua yaitu drama tentang Lucy yang berambisi jadi seorang ibu yang baik. Ketiga, tentang Agnes (Nev Scharrel) yang ngebet menangkap dan melihara unicorn. Dan, yang paling parah dan terlupakan: petualangan para Minions yang memberontak dan kembali jadi jahat.

Subplot-subplot ini bisa jadi sebenarnya bersifat positif. Hanya aja, empat subplot tersebut enggak punya korelasi. Akibatnya, Despicable Me 3 terasa jadi film yang enggak bisa fokus. Film ini terasa kayak berusaha banget buat masukin empat subplot ini agar muat dalam satu film berdurasi 90 menit.

via GIPHY

Sutradara Pierre Coffin dan Kyle Balda serta penulis skenario ini Cinco Paul dan Ken Daurio ini nyia-nyiain banget potensi kisah/konflik utama antara Gru dan Balthazar. Dalam film ini, keduanya digambarin sama-sama cerdas, kocak, dan keras kepala. Padahal, banyak banget adegan kocak sekaligus menghibur saat keduanya bertemu.

Sebaliknya, potensi itu enggak dimanfaatin dengan jeli oleh Coffin dan Balda. Mereka memecah-mecah kisah dan malah bikin karakter-karakter tertentu jadi terkesan enggak penting. Terutama interaksi antara Gru dan Dru yang malah kesannya ngeselin dan ganggu interaksi utama antara Gru dan Balthazar. Lebih parahnya lagi, eksistensi Dru ini juga punya efek buruk buat karakter lain.

“For reasons not worth getting into, Gru’s Minions somehow wind up in prison, providing a cutesy narrative that is virtually its own short film, having nothing to do with the rest of the movie. (Michael O'Sullivan, Washington Post)

Yap, dampak paling parah dari enggak fokusnya plot ini adalah eksistensi para Minions. Viki enggak melihat film ini sebagai cerita petualangan Minions. Memang benar petualangan Minions jadi salah satu subplot yang terpisah. Namun, keberadaan Minions malah jadi terlupakan. Karakter-karakter imut dan menggemaskan ini jadi enggak ada kocak-kocaknya.

via GIPHY

Yap, film ini kelihatan berusaha banget bikin penontonnya ketawa terbahak-bahak. Nyatanya, sih, film ini berhasil ngelaksanain tugasnya lewat adegan-adegan kocak. Sayangnya, bagi sebagian orang, beberapa adegan kocak yang ada bakal terkesan receh. Misalnya aja adegan Gru jatuh dari tangga terus diketawain Minions.

Menurut Viki, lelucon-lelucon slapstick di film ini enggak jauh beda kayak program TV F**bukers. Apa karena sutradaranya keturunan Indonesia, ya, jadi ngambil referensi leluconnya pun dari Indonesia? Hal ini amat disayangkan karena seharusnya lelucon Despicable Me 3 bisa lebih dari sekadar slapstick.

Meski begitu, Despicable Me 3 masih punya hal lain yang bisa dibanggain. Pharrell Williams bersama komposer Hector Pereira lagi-lagi sukses bikin penonton (para orangtua) bernostalgia dengan pilihan musik-musik jadul yang funky. Namun, pilihan soundtrack ini enggak ada yang bisa bikin kita keingat terus, beda kayak “Happy”-nya Pharrell yang sempat menjamur di kuping kita. Selain itu, pilihan musik jadul ini terkesan udah basi dan bukanlah sesuatu yang baru, mengingat gaya ini udah dicoba duluan oleh Marvel dengan Guardians of the Galaxy.

***

Di balik banyak kekurangan, Universal dan Illumination patut berterima kasih sama kehadiran para Minions yang udah punya tempat di hati penggemarnya. Soalnya, tanpa kehadiran makhluk bulat berwarna kuning ini, Despicable Me 3 hanya sebuah film animasi medioker.

Illumination harus sadar betul kalau tangki “bensin” mereka udah hampir kosong. Kalau enggak, jangan heran kalau waralaba film ini nantinya ditinggalin sama penonton yang udah bosan dengan para Minions yang begitu-begitu aja.

via GIPHY