Icon  Celebrity   

Pelawak Indonesia dari Masa ke Masa

 
Author
Dimas Satrio Sudewo
12 June 2017

Berbagai acara hiburan ada di TV. Tiap saluran berlomba-lomba buat jadi penghibur penonton nomor satu. Acara lawak pun dihadirkan, diisi oleh para pelawak dengan metode menghibur masing-masing. Bisa dibilang, keberadaan mereka ini berjasa besar karena bikin kita lupa sejenak dengan celoteh dan tingkah laku mereka yang lucu.

Pelawak Indonesia dari Masa ke MasaVia Istimewa

Viki mau ngasih tahu lo berbagai pelawak yang pernah menghibur kita dari zaman dulu sampai sekarang. Orang-orang ini punya kontribusi di balik senyuman dan tawa kita dengan lawakan-lawakan yang segar. Bahkan, meski eranya udah lewat, lawakan mereka masih akrab di telinga kita. Siapa aja, sih, mereka?

1970-an

Kwartet Jaya

Tahu aktor dan pelawak Adi Bing Slamet? Adi adalah putra dari pelawak ternama di era 1970-an bernama Bing Slamet. Bing Slamet sempat eksis bersama grup lawaknya yang bernama Kwartet Jaya. Kwartet Jaya terdiri dari Bing Slamet, Eddy Sudiharjo, Kho Tjeng Lie alias Ateng, dan Iskak Darmo Suwiryo. Bing Slamet adalah figur multitalenta, loh. Selain berprofesi sebagai pelawak, dia sempat aktif sebagai aktor, musisi, dan pengarang lagu.

Grup Kwartet Jaya jadi primadona dunia lawak pada masanya. Sebelum bergabungnya Ateng, grup ini bernama EBI, singkatan dari para nama anggotanya (Eddy Sud, Bing, Iskak.). Selain menghibur di panggung, Kwartet Jaya juga sempat terlibat dalam beberapa film. Di antaranya adalah Bing Slamet Setan Jalan (1972), Bing Slamet Sibuk (1973), dan Bing Slamet Koboi Cengeng (1974). Setelah Bing Slamet wafat, Iskak dan Ateng memilih untuk keluar dari Kwartet Jaya.

Benyamin Sueb

Siapa, sih, yang enggak kenal almarhum Benyamin? Pelawak yang satu ini begitu fenomenal dengan gaya dan omongannya yang koplak banget. Salah satu omongannya yang bikin kita keinget terus salah satunya adalah “Muke lu jauh !” Berasal dari Kemayoran, Jakarta, Benyamin Sueb jadi sosok pelawak ikonis masyarakat Betawi. Selain jago ngelawak, Bang Ben—nama sapaannya—juga bikin beberapa lagu yang masih terkenal sampai sekarang. Misalnya “Kompor Meleduk” dan “Sang Bango” yang masih sering dibawain di acara-acara masyarakat Betawi.

Pastinya, kita kenal Bang Ben lewat film-filmnya yang masih sering diputar di TV. Di antaranya Biang Kerok (1973), Drakula Mantu (1974), dan Si Doel Anak Betawi (1973). Almarhum Benyamin enggak cuma sekadar jadi ikon pelawak Betawi. Dia juga berhasil nampilin wajah lain dunia lawak di Indonesia lewat banyolannya yang lucu dan segar.

Jayakarta Grup

Ada yang ingat sama almarhum Jojon? Jojon kita kenal sebagai pelawak yang pakai celana di atas perut karena kegedean. Pelawak yang juga khas dengan kumis kotak ala Charlie Chaplin ini dulu tergabung dengan grup lawak bernama Jayakarta Group.

Jayakarta Group terdiri dari Jojon, Cahyono, Uuk, dan Suprapto. Jayakarta Grup membagi peran kepada personelnya buat membangun karakter. Cahyono biasanya berperan sebagai pembuka topik lawakan, Jojon jadi karakter yang sering dikerjain karena penampilannya, Uuk mendapat peran sebagai seorang preman karena mukanya mendukung, sedangkan Prapto berdandan ala wanita bernama Esther. Selain nampilin aksi panggung, Jayakarta Grup juga aktif ngerilis album banyolan kayak Main Botol dan Kue Baskom. Setelah Uuk dan Suprapto meninggal dunia, grup ini mulai redup dan cuma Jojon yang masih aktif sebagai pelawak. Sebagai salah satu pelawak legendaris, Jojon eksis di dunia hiburan lintas generasi. Jojon juga sempat gabung grup lenong modern sampai akhirnya meninggal dunia pada 2014.

Berbeda dengan Jojon, Cahyono enggak ngelanjutin kiprahnya di dunia komedi Tanah Air. Cahyono milih jalan jadi seorang pendakwah. Sebelum Jojon meninggal, mereka berdua punya wacana buat ngebangkitin Jayakarta Grup. Sayang, Jayakarta Grup tinggal kenangan setelah Cahyono menghembuskan napas terakhir pada Mei 2017 kemarin.

Bagio CS

Grup lawak Bagio CS punya pentolan namanya S. Bagio. Bagio adalah pelawak “freelance” yang sempat bergabung sama aneka grup lawak di masanya. Dia sempat kolaborasi bareng Ateng, Iskak, Bing Slamet, dan lain-lain. Bersama Darto Helm, Diran, dan Sol Saleh, Bagio ngebawa Bagio CS populer di era 1970 sampai 1980. Masing-masing anggota punya peran dalam menciptakan lawakan yang khas. Bagio berperan sebagai karakter yang sok tahu, Sol Saleh sebagai pengumpan lawakan, Darto Helm jadi karakter yang enggak sabaran, dan Diran bertingkah sebagai sosok yang pintar tapi oon. Salah satu film yang dibintangin Bagio CS adalah Boss Bagyo dalam Gembong Ibukota (1976).

Bagio CS juga berkolaborasi sama Eddy Sud dengan ngerilis beberapa album komedi, loh. Kolaborasi ini dikenal dengan Warung Tegal: Lawak & Nyanyi yang dulu sempat beredar dalam bentuk kaset. Bagio CS juga pernah kolaborasi sama Jojon dan Jayakarta Grup dengan album Bagio Ketemu Jo John (1977). Sekarang, nyanyian dan lawakan Bagio CS tinggal kenangan. Bagio meninggal dunia pada 1993. Tiga tahun kemudian, Diran menyusul, diikutin Sol Saleh pada 2002 dan Darto Helm pada 2004.

1980-an

Warkop

Bisa dibilang, 1980-an adalah era kejayaan dari grup lawak legendaris yang satu ini. Warkop namanya. Warung Kopi alias Warkop awalnya adalah grup lawak radio Prambors dengan nama Warkop Prambors. Grup ini terdiri dari Kasino Hadiwidjojo, Nanu Mulyono, Rudy Badil, Wahjoe Sardono (Dono), dan Indrodjojo Kusumonegoro (Indro). Keberhasilan menghibur penonton lewat radio bikin mereka ditawarin berbagai penampilan di panggung sampai akhirnya main film.

Sayangnya, grup ini kehilangan dua personelnya, Rudy dan Nanu, sebelum mereka mencapai puncak karier. Rudy mutusin buat cabut dari Warkop karena punya demam panggung. Sedangkan, Nanu cuma sekali main film bareng Warkop sebelum mutusin buat bersolo karier, yaitu film Mana Tahaaan (1979). Seiring berjalannya waktu, Warkop Prambors berganti nama jadi Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) karena masalah royalti. Beberapa film Warkop yang bikin ketawa sampai sekarang di antaranya ada Dongkrak Antik (1982), IQ Jongkok (1981), Sama Juga Bohong (1987), dan Chips (1982).

Lawakan Warkop jadi hiburan yang diterima masyarakat karena ngangkat tema sehari-hari dan kritik sosial. Karakter Indro dan Kasino bisa berperan sebagai pemuda yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Misalnya, Indro jadi pemuda Batak, Betawi, atau Jawa. Sedangkan, Kasino dikenal dengan perannya sebagai anak Betawi yang banyak gaya. Dia juga bisa berperan jadi pemuda ngapak dari Banyumas. Hanya Dono yang dominan berperan sebagai pemuda yang berasal dari wilayah Jawa karena logat Jawanya enggak bisa hilang.

Eksistensi Warkop berlanjut ke era 1990-an melalui serial layar kaca bersama Karina Suwandi dan Roweina Umboh. Semenjak Kasino dan Dono meninggal dunia, Indro akhirnya memilih solo karier menjadi juri acara komedi serta bintang film dan sinetron. Warkop jadi grup lawak legendaris, hiburan yang mereka sajiin enggak kemakan oleh waktu. Pada 2016, para penggemar Warkop dibikin heboh sama film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos Part 1. Film ini merupakan versi remake dari Warung Kopi yang dibintangin Tora Sudiro, Vino G. Bastian, dan Abimana Aryasatya.

Srimulat

Masih ingat sama grup lawak yang satu ini? Itu, loh, grup lawak yang selalu bermain dengan guyonan khas orang Jawa. Awalnya, Srimulat dibentuk sama almarhum Teguh Slamet Rahardjo di Solo pada 1950 dengan nema Gema Malam Srimulat. Nama Srimulat diambil dari nama istri Teguh, Raden Ayu Srimulat.

Sebelum sering nongol di TV, Srimulat melakukan pentas keliling antarkota di Jawa Timur. Pentas keliling adalah hal yang dulu sempat dipopulerin sama sanggar wayang orang. Masuk ke 1960-an, Gema Malam Srimulat ganti nama jadi Srimulat dan enggak lagi pentas keliling.

Pada 1980-an, Srimulat berkesempatan ngisi acara lawak di TVRI bernama Ria Jenaka Srimulat. Grup ini jadi populer berkat anggotanya yang lucu-lucu. Sebut aja Tarsan, Rohana, Nunung, Nurbuat, Gepeng, Tessy, Mamiek, Nurbuat, Djujuk, dan Gogon. Lawakan paling khas dari Srimulat adalah “kecolok botol” dan “kaki hilang satu waktu duduk”. Selain itu, kita juga pernah lihat, sebungkus rokok dilempar ke arah panggung. Menurut Tarsan, hal ini sering mereka alamin waktu masih pentas keliling. Dilempar rokok adalah bentuk apresiasi dari penonton atas hiburan yang mereka sajikan di panggung.

Meskipun udah ada sejak lama, Srimulat masih bisa mempertahankan popularitasnya sampai era-era berikutnya. Banyak anggota yang sakit-sakitan dan meninggal dunia. Beberapa personel kayak Kadir dan Tarsan eksis di dunia hiburan sebagai pesinetron dan pemain film. Pada 2013, Tessy, Kadir, Mamiek, Gogon, dan Djujuk reuni lewat film Finding Srimulat yang juga dibintangin Reza Rahadian dan Rianti Cartwright. Film ini digarap sama Charles Gozali sebagai sutradara dengan Hendrick Gozali dan Yusuf Hamdani sebagai produser.

1990-an

Bagito

Kesuksesan Warkop sebagai grup lawak Tanah Air menginspirasi lahirnya grup-grup lawak buat nyajiin hiburan segar. Salah satunya adalah Bagito. Bagito alias Bagi Roto terdiri dari Miing (Dedi Gumelar), Didin Pinasti, dan Hadi Wibowo alias Unang. Miing dan Didin adalah kakak-beradik yang mengajak Unang buat bergabung. Bagito sempat ngeramaiin dunia hiburan Indonesia di era 1990-an melalui TV.

Sebelum bikin Bagito, Miing pernah terlibat sebagai tim kreatif dari Warkop. Dari sinilah dia belajar buat bikin komedi yang khas dan segar. Sebagai sebuah grup, personel Bagito punya peran masing-masing buat bikin lawakan. Miing biasa berperan sebagai sosok yang keras kepala, Didin jadi karakter orang kaya, sedangkan Unang berperan sebagai karakter yang kelakuannya kayak bocah.

Semenjak keluar, Unang tetap berprofesi di dunia hiburan sebagai pesinetron. Miing dan Didin berusaha mempertahankan grup ini sampai akhirnya mereka berdua berkarier solo. Didin sempat main sinetron, sedangkan Miing jadi anggota partai politik.

Patrio

Parto, Akri, dan Eko ngebentuk sebuah grup lawak bernama Patrio yang merupakan singkatan nama mereka bertiga pada 1994. Patrio sempat menghibur kita melalui acara Ngelaba (Ngerumpi lewat Banyolan) yang dulu pernah tayang di sebuah saluran TV swasta. Masing-masing anggota Patrio punya gaya ngelawaknya yang khas. Eko bisa berperan sebagai cowok yang rada ngondek, Parto enggak bisa lepas dari logatnya yang ngapak, sedangkan Akri punya ciri khas sebagai pemuda Betawi.

Di era 2000-an, ketiga personel Patrio mulai berprofesi sendiri-sendiri. Parto dan Akri sempat main sinetron, sedangkan Eko jadi pembawa acara di sebuah TV swasta. Meskipun personel Patrio udah jarang kelihatan ngelawak bareng, ketiganya masih kompak dan eksis, loh. Sekrang, Cuma Parto yang masih jadi pelawak. Eko milih aktif sebagai anggota parpol, sedangkan Akri jadi uztaz.

2000-an

Extravaganza

Extravaganza adalah sebuah acara sketsa komedi yang pernah ditayangin sama salah satu TV swasta pada 2004—2009. Acara ini menghasilkan beberapa aktor dan pelawak yang masih eksis sampai sekarang. Pada awalnya, acara ini diisi oleh berbagai pelawak yang terdiri dari Tora Sudiro, Indra Birowo, Virnie Ismail, Rony Dozer, Sogi Indra Dhuaja, Ronal Surapradja, Tike Priatnakusumah, Mieke Amalia, dan Aming.

Acara komedi ini berkonsep parodi dengan ngangkat cerita keseharian dari film, lagu, game, dan kartun yang dibungkus dengan lucu dan menarik. Acara ini cukup populer dan diminatin di masanya. Soalnya, komedi mereka mampu mendobrak pasaran dengan sasaran penonton kelas menegah ke atas. Karakter Extravaganza yang ikonis adalah Aming. Soalnya, dia dikenal sebagai pelawak yang sering berperan sebagai perempuan dengan gayanya yang aneh-aneh.

Beberapa anggota Extravaganza juga sukses jadi bintang film, kayak Tora, Indra, Ronal, dan Aming. Meskipun acaranya udah enggak ada, pelawak-pelawak Extravaganza masih eksis di dunia hiburan dengan kesibukan masing-masing. Sebagian besar personel Extavaganza sempet reuni dalam film The Wedding and Bebek Betutu (2015) yang digarap sama Hilman Mutasi.

Opera van Java

Opera van Java (OVJ) adalah acara komedi yang berkonsep parodi pertunjukan wayang modern. Di mana ada wayang, di situ pasti ada dalangnya, dong. Dalang diperanin oleh Parto yang merupakan pelawak senior. Tugas dalang dalam acara ini adalah ngebacain lakon atau skenario yang harus dimainin oleh para wayang tanpa naskah alias improvisasi. Para wayang terdiri dari Sule, Azis Gagap, Andre Taulany, dan Nunung. Sule adalah wayang paling ikonis dari OVJ dengan rambut gondrongnya yang berwarna pirang dan lawakan yang serbabisa. Acara ini juga sering ngelibatin para selebritas sebagai bintang tamu.

Konsep cerita yang dihadirin OVJ diadaptasi dari cerita rakyat, film, dan lain-lain. Lawakan khas dari OVJ adalah properti panggung yang terbuat dari gabus seperti pohon, telepon umum, gerobak, dan lain sebagainya. Properti ini punya daya tarik humor kalau lagi dimainin sama para wayang.

***

Dari zaman dulu sampai sekarang, dunia hiburan Indonesia punya sosok pelawak yang menghibur kita di era masing-masing. Mereka punya metode dan guyonan khasnya sesuai dengan semangat zaman pada saat itu. Pastinya, kita harus bangga dan berbahagia kalau pernah ngerasain hiburan dari mereka meskipun lewat film atau video. Sebagian kecil dari mereka sudah meninggal dunia, tapi jasanya bikin bangsa Indonesia ketawa enggak bakal bisa dilupain.

Buat lo, siapa pelawak Indonesia jadi favorit?