Geeky   

5 Alasan Kenapa Komik Setan Jalanan Wajib Dibaca dan Dikoleksi

 
Penulis
Briantiko Aji
15 December 2016

Mungkin belum banyak yang paham kalau Franki Indrasmoro—alias Pepeng, sang penggebuk drum di Naif—punya bakat lain selain main musik. Pepeng yang memang lulusan D-3 Desain Grafis di Fakultas Seni Rupa, IKJ, ini nyatanya emang lumayan jago ngegambar. Buktinya, dulu waktu Pepeng masih 17 tahunan, dia pernah menjadi Juara Harapan I di Lomba Menggambar Kobo-Chan, yang diadain sama Elex Media Komputindo.

Nah, hebatnya Pepeng ini—meskipun beliau sibuk banget bareng David, Jarwo, dan Emil di Naif—dia masih menyempatkan diri buat ngejalanin sesuatu yang sesuai sama passion-nya, yaitu bikin komik. Bikin komik ini Viki anggap sebagai usaha Pepeng untuk ngejalanin passion-nya soalnya menurut bocoran yang VIki dapat, dari kecil tuh Pepeng hobinya ngoleksi beragam komik dan action figures.

Lantas, sekarang lo udah pada tau belom nih komik yang mau Viki bahas—yaitu komik yang ide ceritanya dikarang oleh Pepeng? Lo yang belom tau mungkin kurang gaul nih… Masak belom pernah denger Setan Jalanan sih? Padahal, komik novel grafis jilid pertamanya sudah dirilis resmi sejak Mei 2014 lalu. Lo mungkin masih belom yakin kalau Setan Jalanan ini sangat perlu lo beli dan baca. Kalau begitu, ada baiknya lo simak penjelasan-penjelasan dari Viki di bawah ini biar lo enggak ragu untuk segera nyari seri novel grafis yang satu ini di toko buku terdekat!

 

1. Ilustratornya Mantap Jiwa!

Pencipta Setan Jalanan ini memang Pepeng, ceritanya pun yang mengarang ya Pepeng. Akan tetapi, untuk urusan ilustrasi di komik ini, Pepeng ngasih kepercayaan kepada temannya yang memang jago banget kalau sudah urusan gambar-menggambar, yaitu Haryadhi. Nama Haryadhi sudah cukup akrab di telinga para pecinta komik Indonesia. Haryadhi adalah sosok kreator di balik KOSTUM (Komik Strip untuk Umum) yang dirilis di laman Facebook Kostum Komik yang lamannya sudah disukai lebih dari 100 ribu orang. Makanya, enggak heran guratan yang ada di Setan Jalanan ini keren banget.

 

2. Tokoh Utama yang Antimainstream

Kalau selama ini tema yang diangkat oleh para komikus lokal adalah cerita-cerita superhero atau yang berkisah tentang kehidupan sehari-hari, Setan Jalanan ini enggak ngikutin arus. Novel grafis ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Kelana yang jika dalam waktu-waktu tertentu akan berubah menjadi Setan Jalanan, yaitu sesosok pengendara motor yang berada di antara gelap dan terang. Bingung ya? Maksud Viki, Setan Jalanan ini tuh enggak kayak tokoh-tokoh “jagoan” yang umumnya jelas benar-benar memihak kebaikan dan enggak mungkin berbuat hal-hal yang di luar norma-norma kewajaran. Jadi, alter ego-nya Kelana tuh kadang kala menghalalkan segala cara untuk bisa mencapai tujuan utamanya, yaitu membasmi kejahatan. Makanya, si Setan Jalanan ini juga jadi incaran seorang inspektur polisi yang bernama, Surya Putra. Intinya, Setan Jalanan ini bisa dibilang perwujudan tokoh antihero yang meskipun sebenarnya ingin menegakkan keadilan, seringkali malah banyak dianggap sebagai perusuh. Enggak heran juga karena keunikannya karakter Setan Jalanan diganjar penghargaan Karakter Komik Terbaik di Kosasih Award 2014.

 

3. Latar yang Terasa Akrab

Latar tempat yang digunakan dalam Setan Jalanan adalah Jakarta, yaitu kota yang menurut Pepeng sebagai kota yang paling korup di Indonesia. Karena reputasi yang sangat negatif dari Jakarta tadi, maka Setan Jalanan pun akhirnya memutuskan bahwa ia harus beraksi di kota yang katanya kejamnya ngelebihin ibu tiri ini. Nah, kerennya tuh tampilan Jakarta dan segala tetek bengeknya tercitra dengan baik dalam Setan Jalanan. Yang paling berkesan bagi Viki soal Jakarta sebagai latar di novel grafis ini adalah waktu Jalan Sudirman muncul sekaligus patung Jenderal Sudirman-nya juga. Keren!

4. Tema yang Relevan

Belom lama kemarin, jilid 3 dari Setan Jalanan ini rilis. Nah, novel grafis ini udah resmi rilis jilid sejak 2014 dan konsep Setan Jalanan ini katanya sebenarnya udah “ngehantuin” pikiran Pepeng sejak dia masih bocil. Entah emang cuma kebetulan belaka, atau emang Pepeng ini punya kemampuan memprediksi masa depan, tema “geng motor” yang ngerusuhin kota-kota besar Indonesia ini “kena” banget sama kehidupan nyata kita. Soalnya, sejak 2014 akhir sampe tahun lalu banyak banget aksi kriminal para begal yang meresahkan para pengendara motor di Jakarta dan sekitarnya. Makanya, menurut Viki ini tema motor-motoran yang dibahas di Setan Jalanan relevan banget sama kehidupan nyata kita.

 

5. Sarat Muatan Tersirat

Bagi Viki, sebuah karya yang bagus adalah karya yang mampu mengubah para penikmatnya menjadi pribadi yang lebih baik (ciyeilaaaaaah~). Lo setuju dong sama Viki? Misalnya aja, kalau sebuah karya—apa pun bentuknya, bisa berupa lagu, film, buku, lukisan, atau komik sekalipun—bisa ngasih kesan yang mendalam bagi para penikmatnya, apalagi bisa sampai menjadikan penikmatnya berubah menjadi pribadi yang lebih baik, itu dia yang pantas disebut sebagai karya yang keren. Buat Viki, banyak banget pesan dan kesan yang Viki dapet setelah baca Setan Jalanan, misalnya aja tokoh Kelana yang nyontohin ke kita bahwa untuk selalu berusaha mandiri itu keren. Dan lagi, Kelana juga rela berkorban bagi kepentingan khalayak banyak meski dicap sebagai seorang perusuh.

***

Nah, tuh kalau lo udah baca tulisan ini sampai sini, masak iya lo masih enggak percaya kalau Setan Jalanan adalah sebuah novel grafis yang keren? Udah baca tulisan Viki sampai sini, lo masih enggak ngerasa bahwa Setan Jalanan ini patut lo koleksi? Dan yang harus lo catat, edisi ke-3 sebentar lagi akan rilis. Tunggu info-info keren lainnya seputar Setan Jalanan dari Viki ya.