Sex & Relationship   

Fase-fase Patah Hati

 
Editor
Liza Novirdayani Noor
23 September 2016

Saat ini lo pasti lagi sering banget baca berita-berita yang ngabarin kandasnya suatu hubungan. Dimulai dari hubungan pasangan-pasangan hits Hollywood sampai pasangan hits Indonesia. Baru-baru ini sih yang lagi hits dan banyak diomongin netizen selain kandasnya hubungan Raisa-Keenan Pearce, juga ada kandasnya hubungan Justin Bieber-Sofia Richie. Kalo yang paling menghebohkan sih perceraian pasangan Angelina Jolie-Brad Pitt. Duh, makin banyak aja dong kaum-kaum patah hati saat ini.

Putus cinta emang bikin nyesek dan patah hati. Enggak cuma itu, semangat hidup dan nafsu makan kadang jadi berkurang semenjak ngerasain patah hati. Emang sih wajar kalo saat awal-awal putus cinta ngerasain hal kayak gitu, tapi kalo udah berbulan-bulan berlalu dan lo masih ngerasa enggak ada semangat hidup, enggak baik juga buat kehidupan lo kedepannya.

Padahal setiap orang pasti dalam hidupnya pernah ngerasain patah hati dan melalui fase-fase setelah patah hati sebelumnya. Orang bilang, manusia akan berubah pada waktunya, manusia akan kehilangan pada saatnya.Tapi entah kenapa, saat hal itu datang (kehilangan-red), rasanya hampir semua orang enggak pernah siap. Enggak akan pernah.

Orang-orang yang patah hati pada umumnya akan ngalamin fase-fase seperti orang yang baru divonis kanker oleh dokter. Loh kok? Yha, lo tau kan orang yang kena kanker akan ngelewatin banyak tahap dari: denial – anger – acceptance. Nah hal kayak gitu juga berlaku sama kaum patah hati. Dimulai dari perasaan enggak terima kalo hubungan percintaan udah berakhir gitu aja, galau marah-marah, enggak terima udah disakitin, sampe akhirnya nerima semua kenyataan yang udah terjadi ini. Kenyataan yang udah jadi garis takdir dari Tuhan yang enggak akan pernah bisa manusia ubah. Tapi yang mesti lo inget adalah time will heals everything kok. Semua perasaan nyiksa ini pada akhirnya akan sembuh.

1. Penyangkalan

Pas fase ini, lo akan menjadi orang yang sangat egois buat diri lo senditi. Lo akan menyalahkan semua yang ada, yang lo pikir enggak jauh-jauh dari alasan kandasnya hubungan lo, kenapa semua ini bisa terjadi, kenapa dia begitu, kenapa bisa begini. Lo bakal berada di perasaan yang enggak percaya atas kenyataan yang terjadi, kenyataan kalo hubungan lo selama ini udah berakhir begitu aja. Lo menyangkal itu semua. Situasi dimana lo masih ngarep nunggu chat dari doi, padahal doi udah pergi jauh entah kemana. Patah hati membuat lo menjadi orang yang pemikir dan mau gila rasanya. Dari luar sih, lo bisa aja bakal terliat baik-baik saja, namun dalam hati, menangis seada-adanya.

2. Marah

Setelah segala upaya dikerahkan untuk meyakinkan diri (menyangkal) bahwa lo baik-baik aja, lo mulai merasa semakin gila dan frustrasi. Rasanya ingin marah, pengen marah sama doi tapi udah enggak ada hak buat marah marah. Akhirnya marah-marah pada diri sendiri. Di fase ini, lo bakal ada perasaan dimana pengen mencak-mencak di media sosial meluapkan segala yang lo pengen utarain, dengan sedikit rem dari gengsi, berharap dia baca dan tau. Tapi nyatanya dia enggak baca dan bodo amat. Pokoknya lo makin geram dan kesal, pokoknya asdfghjkl!

3. Menimbang-nimbang

Lo meyakini diri lo kalo lo udah enggak sayang sama dia, lo udah benci banget sama dia atas apa yang dia lakuin sama lo. Lo bilang dia brengsek, lo enggak terima disakitin atau diputusin sebegininya. Lo sampe berpikir buat enggak mau kenal lagi sama dia. Tapi seiring berjalannya waktu, kadang lo suka mikir dan mulai mempertanyaan semua perkataan dan keputusan lo itu.

“Apa benar gue udah enggak sayang lagi sama dia? Tapi kenapa gue masih mikirin dia?”

“Apa benar gue benci sama dia?”

“Kalo gue emang udah enggak mau kenal lagi sama dia, kenapa gue masih stalking segala hal tentang dia?”

AAAAAAAAAAAAAAAAAAARGHHH!

4. Depresi

Begitu banyak pertanyaan dan pikiran berputar di kepala lo. Tanda tanya yang berputar tak terjawab itu membuat roda kehidupan lo jadinya juga enggak berputar, sama sekali. Lo jadi nggak mood makan. Enggak mood sekolah. Pokoknya enggak mood untuk ngapa-ngapain.

Lo berusaha untuk melupakannya dengan menyibukkan diri lo. Jalan-jalan bareng temen-temen lo, dan kadang lo pun bisa menghadirkan senyum dan tawa kembali di wajah lo. Namun sampai tiba saatnya di rumah, sebelum tidur, lo kembali merenung dan memandangi langit-langit kamar yang menjadi alas untuk sekian banyak rangkaian kenangan lo sama dia. Lo pun kembali ngerasain rindu yang amat sangat sama dia.

5. Terima

At the end of the day, lo udah terlalu letih untuk menyangkal, udah terlalu lelah untuk marah, tenaga udah terkuras habis untuk menangis, menangis, dan menangis. Nggak ada lagi yang bisa lo lakuin selain terima kenyataannya. Entah apa pun bentuk kenyataan itu. Entah hasilnya lo sadar bahwa dia emang nggak baik buat lo, atau akhirnya lo sadar bahwa lo masih sayang sama dia dan berusaha realistis untuk berjalan maju ke depan, move on.

***

Nangis-nangis karena patah hati abis putus cinta? Itu sangat wajar banget kok! Karena lo mau enggak mau, suka enggak suka emang harus ngelewatin fase-fase dari patah hati tersebut.