Epic Life   

Perayaan-Perayaan Budaya Terkece di Indonesia

 
Content Partner
Teman Rakyat
06 December 2016

 

Keberagaman di Indonesiam emang enggak sekadar indah di cerita aja, tetapi juga indah saat dilihat mata. Memang sih, akhir-akhir ini “keberagaman” itu suka bikin kita sedih karena pihak-pihak tertentu bikin keberagaman itu sebagai masalah, dan bikin provokasi-provokasi di media sosial yang seolah menolak keberagaman dan perbedaan di negeri tercinta ini.

Nah, daripada KZL, bete, dan juga nyesel jadi orang Indonesia, mendingan kita lihat aja yuk indahnya berbagai perayaan yang ada di Indonesia. Perayaan-perayaan ini enggak kalah keren sama perayaan yang ada di negara lain. Bahkan, karena budaya kita sangat banyak, perayaan-perayaannya pun jadi lebih berwarna dan punya makna filosofi yang berbeda-beda. Nah, perayaan ini enggak semuanya tentang agama, tapi juga menyangkut budaya, baik budaya asli maupun akulturasi di negara kita. So, inilah perayaan-perayaan kece di Indonesia yang harus banget lo lihat suatu saat nanti. Let’s check these out.

 

1. Grebek Maulud

Untuk memperingati Maulid Nabi atau Hari Kelahiran Nabi Muhammad, ada tradisi Grebeg Maulud yang diperingati setahun sekali di Yogyakarta.Perayaan ini sangatlah ramai dan mengundang banyak turis. Kenapa? Soalnya selain Yogyakarta itu cantik, dalam acara ini ada beebrapa gunungan/Kagungan Dalem Pareden, yang terdiri atas Gunungan Lanang (lambang lelaki), Gunungan Wadon (lambang perempuan), Gunungan Pawohan dan Gunungan Gepak.

Buat lo yang doyan berwisata sekaligus makan, lo emang mesti dateng banget sih ke perayaan Grebek Maulud ini. Selain punya makna kebersamaan yang dalam, gunungan-gunungan yang terbuat dari berbagai jajanan, sayuran, dan hasil bumi lain itu bakal dibagi-bagiin ke orang banyak (ngalap berkah). Tentunya termasuk lo juga kalau lo sedang berada di sana. Hmm, sebenernya bukan jumlah makanannya juga sih, tapi kenikmatannya bisa makan ramai-ramai, dengan tradisi yang unik. Grebek Maulud adalah sebuah perayaan yang unik karena menggabungkan hari keagamaan dengan tradisi lokal.

 

2. Perayaan Cap Go Meh Singkawang

Singkawang adalalah tempat yang tepat buat lo yang mau melihat meriahnya perayaan Cap Go Meh. enggak hanya ada petasan dan Barongsai aja, tapi ada tradisi-tradisi unik lain di perayaan Cap Go Meh, alias hari terakhir perayaan Tahun Baru Cina /Imlek.

Perayaan Cap Go Meh Singkawang ini menghadirkan banyak tatung, sebuah istilah yang diambil dari Bahasa Hakka untuk orang-orang yang disinyalir menjadi perantara roh dewa pada saat itu, yang akan diarak dan mempertunjukkan atraksi-atraksi fantastis. Contohnya, kayak berjalan di atas pedang. Ngeri banget kan? Namun karena dipercaya sudah mendapatkan kekuatan, mereka jadi enggak terluka atau kesakitan.

Uniknya lagi, para tatung ini enggak hanya mereka yang berdarah Tionghoa aja, tetapi juga ada yang berasal dari Suku Dayak dan juga Melayu. Tatung-tatung ini berjumlah ratusan orang. Kebayang kan gimana seru dan kerennya perayaan ini? Oh ya, satu hal yang bikin Viki salut banget adalah semangat kebersamaannya yang enggak memandang suku maupun agama. Keren deh. enggak heran kalau festival ini selalu menarik hati para turis.

 

3. Dieng Culture Festival

Dieng adalah daerah pegunungan di Jawa Tengah yang sering disebut sebagai Negeri di Atas Awan. Iya, sebutan ini enggak berlebihan, soalnya kesejukan dan keindahan bentang alam dieng ini emang menyenangkan banget. Berada di Dieng, jauh dari hiruk pikuk kendaraan dan polusi emang bikin hati dan pikiran jadi tenang.

Oh ya, kalau lo mau menikmati wisata yang unik di Dieng, lo bisa dateng ke Dieng Culture Festival yang digelar setiap tahun di dataran tinggi Dieng ini. Acara yang digelar ada macem-macem. Mulai dari pemutaran film, pementasan seni, “Jazz Di Atas Awan” (serius, ini mesti lo tonton sih), dan tentunya, proses potong rambut alias ruwatan.

Ruwatan adalah tradisi khas Dieng yang enggak akan lo temukan di manapun. Kenapa? Soalnya ada beberapa anak-anak Dieng, yang entah kenapa lahir dengan rambut gimbal! Pertumbuhan rambut gimbal ini biasanya dialami anak-anak berumur 40 hari sampai 6 tahun, dan ditandai dengan panas tinggi pada anak tersebut.

Nah, dipercaya oleh masyarakat sekitar bahwa rambut gimbal ini merupakan bukti wahyu dari Nyi Roro Kidul kepada Kyai Kolo Dete. Kyai Kolo Dete dulunya adalah punggawa pada masa Mataram Islam. Keberadaan anak-anak berambut gimbal ini akan membawa kesejahteraan pada masyarakat Dieng. Oleh karena itu, kehadiran mereka cukup dinanti-nanti dan dianggap anak ajaib. Sayangnya, masyarakat beranggapan bahwa semakin dewasa mereka, maka semakin aktif dan semakin bandel pula mereka. Untuk itu, saat mereka beranjak dewasa, dilakukan prosesi Ruwatan alias pemotongan rambut gimbal.

 

4. Perayaan Waisak Borobudur

Perayaan Waisak di Borobudur ini keindahannya tiada tara. Prosesi diawali dengan Pindapatta atau prosesi pengumpulan makanan oleh para biksu dari satu rumah penduduk ke penduduk lain di daerah Magelang. Nah, setelah itu prosesi dilanjutkan dengan perjalanan para biksu dari Candi Mendut ke Candi Borobudur. Oh ya, banyak orang yang mengira kalau Candi Borobudur itu terletak di Jogja, padahal Candi Borobudur masuk ke teritori Magelang, lho.

Kenapa para biksu ini mengumpulkan makanan? Makanan-makanan ini nantinya akan dibagikan juga kepada umat yang duduk menunggu di tenda-tenda Candi Borobudur untuk berdoa, dan juga untuk mereka. Biasanya para biksu akan sampai ke Candi Borobudur di sore hari.

Keindahan perayaan ini enggak cuma karena Candi Borobudur indah, dan umat-umat Buddha berdoa dengan khusyuknya. Namun ada pula prosesi penerbangan lampion yang sangat indah. Lampion-lampion bertebangan ke atas langit bak kunang-kunang di malam hari. enggak terlupakan pokoknya. Perayaan Waisak ini sebetulnya terbuka untuk para turis. Namun dari tahun ke tahun, penjagaannya semakin ketat. Hal ini wajar banget terjadi. Soalnya banyak banget turis enggak tahu aturan yang menjadikan hal ini seperti wisata biasa dan malah ribut sendiri, serta mengganggu kekhusyukan para umat dan biksu saat berdoa. Udah gitu, kadang mereka juga suka ninggalin sampah. Nah, lo bisa banget menyaksikan perayaan Waisak di Borobudur ini, karena terlihat betapa tenangnya perayaan umat Buddha ini. Tetapi lo harus bertanggung jawab ya. Plis banget jangan norak teriak-teriak atau foto-foto alay di depan umat dan para biksu yang sedang berdoa, serta teriak-teriak unyu atau bercanda sama teman. Sama satu lagi, jangan buang sampah sembarangan. Hormati kesakralan proses ibadah.

 

5. Festival Danau Toba

Danau Toba itu emang danau yang terkenal banget. Soalnya dari dulu lagu tentang Danau Toba tuh selalu dinyanyikan oleh orangtua atau oleh guru di sekolah. Makanya banyak di antara kita yang enggak asing sama danau yang terletak di Sumatera Utara ini, berikut Pulau Samosir yang ada di tengahnya.

Selain Pulau Samosir yang indah, setiap tahunnya di Danau Toba ada lho Festival Danau Toba. Di festival ini, diadakan banyak perlombaan, seperti Lomba Renang Danau Toba, Lomba Paramotor Layang, Lomba Fotografi, dan lomba-lomba untuk anak-anak seperti melukis, vokal grup, dan lain sebagainya.

Enggak cuma perlombaan, ada juga pawai kendaraan hias yang dengan nuansa khas Sumatera Utara, dan juga atraksi-atraksi budaya lain yang membuat kita semakin mengenal indahnya budaya tanah tersebut. Coba deh, kurang asyik apa melihat kemeriahan lomba-lomba serta pertunjukkan khas Sumatera Utara, dikelilingi keindahan Danau Toba? Suatu saat kalau lo punya waktu, lo harus ke sana.

***

Ragam budaya Indonesia memunculkan berbagai macam perayaan yang indah dan juga enggak terlupakan. Jadi, sebagai Orang Indonesia sudah selayaknya kita bangga sama budaya bangsa kita sendiri, dan jangan pernah takut sama perbedaan! Berkaca dari beberapa perayaan di negeri kita, perbedaan itu unik dan menyenangkan, loh! (IK)