Epic Life   

Paparazi, Bukan Sekadar Penguntit

 
Penulis
Intan Kirana
04 June 2017

Setiap kali kita dengar kata “paparazi”, semua anggapan negatif pasti muncul. Soalnya, media selalu ngegambarin betapa menyebalkannya paparazi dan betapa KZL para selebritas Hollywood dengan kehadiran paparazi. Paparazi dianggap sebagai pengganggu, sekelompok orang yang resek dan maniak selebritas.

Sebetulnya, profesi ini punya kompleksitas tersendiri. Paparazi sendiri merupakan sebuah profesi yang bisa dijadiin pegangan hidup. Apa yang ada di otak mereka bukanlah tentang betapa cantik/cakepnya selebritas. Bagi mereka, hal itu udah jadi sesuatu yang basi. Bahkan, paparazi udah jadi bagian penting dari industri hiburan sendiri. Hmm, kayak gimana, sih, kehidupan paparazi yang sesungguhnya?

 

1. Niat yang Sungguh-sungguh dalam Memotret

Selama ini, banyak orang yang ngira kalau paparazi di Hollywood itu asal-asalan motret. Yang penting, dapet gambar selebritas kayak akun-akun gosip Instagram. Padahal, enggak begitu, loh. Paparazi punya “peralatan tempur” yang bagus, mulai dari pencahayaan kamera berkualitas sampai lensa telefoto.

Peralatan memotret yang bagus ini diperluin supaya mereka bisa ngambil gambar dari jarak jauh. Misalnya saat Ben Affleck dan Jennifer Garner jemput anak mereka di sekolah. Enggak mungkin mereka betul-betul mendekat supaya dapat foto yang jelas banget. Banyak selebritas yang enggak mau difoto dalam jarak dekat di luar pekerjaan mereka. Kalau foto mereka blur, harganya bakalan jatuh banget.

 

2. Bukan Maniak atau Penggemar berat

Paparazi bisa nungguin selebritas di mana aja sampai seharian penuh: di lorong belakang tempat syuting, di belakang sekolahan anak mereka, di bandar udara, sampai di tikungan kompleks tempat selebritas tinggal. Banyak selebritas KZL karena hidupnya dikelilingin paparazi terus. Entah kenapa paparazi selalu tahu pergerakan mereka.

Masyarakat pun melihat paparazi sebagai sekumpulan maniak yang menyebalkan, enggak beda sama penggemar berat yang hobi nguntit. Namun, ini dilakuin semata-mata demi uang. Mereka mungkin sebenarnya enek melihat selebritas. Mereka udah enggak heboh lagi kalau lihat Katy Perry atau Orlando Bloom. Yah, sama aja kayak lo yang udah muak lihat ruang kelas atau gedung kantor lo, semewah apa pun itu.

 

3. Bisa Jadi Penghidupan

Paparazi enggak langsung ngasih foto yang mereka dapat ke media. Mereka ngejualnya ke agensi-agensi. Agensi-agensi inilah yang nantinya bakal ngejual ke berbagai media. Salah satunya National Enquirer, media yang getol memuat berbagai gosip dan gaya hidup selebritas.

Setiap foto yang mereka jual bisa bernilai hingga jutaan dolar, bergantung dari kelangkaan dan cerita yang ditampilin dalam foto. Lumayan, ‘kan? Contoh foto yang langka, foto anak selebritas yang baru lahir (dan belum ada yang berhasil motret wajahnya). Kalau udah banyak jam terbang, pasti tahu bagaimana caranya dapat foto-foto langka itu.

 

4. Enggak Semua Ngelanggar Privasi

Siapa yang enggak marah kalau privasinya dilanggar? Eh, enggak semua paparazi kayak gitu, loh. Jangan kira semua paparazi nekat nerobos properti pribadi milik selebritas atau nekat memotret anak-anak selebritas di dalam mobil.

Ada juga paparazi yang lebih “sopan”. Mereka biasanya nungguin selebritas keluar di gang belakang studio Jimmy Kimmel Live!, sebuah talk-show yang banyak ngedatangin selebritas. Bisa juga di Catch atau di The Ivy, Los Angeles, bar tempat para selebritas biasa nongkrong. Nah, kalau di The Ivy, selebritas memang sengaja nongkrong supaya dipotret. Yah, bagaimanapun, selebritas Hollywood enggak mau, dong, ketenarannya luntur.

 

5. Lumayan Nyita Waktu

Sama kayak jurnalis, profesi paparazi juga cukup nyita waktu. Soalnya, lo enggak tahu kapan seorang selebritas selesai nongkrong, kapan dia naik pesawat, kapan pesawatnya mendarat, atau kapan anaknya pulang sekolah. Kalau mau dapat banyak foto bagus dengan berbagai selebritas dan cerita di dalamnya, lo harus bersiap-siap selama mungkin. Semakin banyak foto, semakin banyak yang bisa dijual. Berbeda dari jurnalis, lo sendiri yang ngontrol waktu, bukan redaktur atasan lo.

Enggak semua orang mau jadi paparazi. Namun, kalau udah berada di hierarki atas paparazi, lo bakal hidup makmur, loh. Lebih makmur daripada kalau lo buka usaha rumahan. Apalagi, kalau lo udah tahu banget jadwal setiap selebritas dan ngerti medan.

 

6. Ngebantu Selebritas

Jennifer Buhl, seorang mantan paparazza (sebutan untuk cewek paparazi), berbagi kisah soal pengalamannya dalam buku Shooting Stars: My Unexpected Life Photographing Hollywood’s Most Famous. Dia bilang, ada simbiosis mutualisme antara selebritas dan paparazi. Jadi, salah banget kalau selebritas nganggap paparazi sebagai tokoh antagonis.

Dalam wawancara Uncensored with Michael Ware, seorang mantan paparazzo (cowok paparazi), Frank Griffin, ngaku pernah ngomong ke Jennifer Aniston, “Kami (paparazi) enggak akan ganggu hidup lo. Lo enggak bakal diikutin sama kamera di mana pun lo berada. Kalau mau hidup kayak gitu, lo bisa mulai keluar dari dunia hiburan dan kerja di bank dengan gaji 4,000 dolar per bulan. Atau, lo bisa dapet 400,000 dolar per bulan, tapi mau enggak mau, hidup lo bakal diikutin kamera.” Jennifer pun milih opsi nomor dua. Yah, semua profesi punya risiko. Kalau lo ingin tetap menjadi selebritas internasional dengan pendapatan besar, seluruh hidup lo jadi milik publik.

 

7. Berfaedah buat Masyarakat

Biar pun dicemooh dan dipandang sebelah mata, profesi ini ternyata punya manfaat buat masyarakat. Seorang mantan jurnalis yang sekarang jadi Editor National Enquirer, Dylan Howard, bilang kalau paparazi itu secara enggak langsung udah muasin keinginan masyarakat. Dalam bentuk apa? Hampir semua orang tertarik sama selebritas. Selebritas ngewakilin angan-angan masyarakat yang ingin hidup langgeng, dianggap panutan, dan dipuja banyak orang.

Saat masyarakat membuka halaman majalah selebritas, saat itu pula mereka ngerasa “masuk” ke kehidupan idaman itu. Kita “ditarik” ke kehidupan pribadi mereka. Nah, siapa yang nyajiin kehidupan idaman itu? Tentu aja paparazi dan jurnalis.

***

Senegatif apa pun peran paparazi, enggak bisa dimungkiri kalau profesi lepas satu ini sebetulnya dibutuhin oleh selebritas dan masyarakat. Mungkin, selama enggak masuk ke properti pribadi dan melanggar privasi, sebetulnya enggak masalah, ya, jadi paparazi?