Epic Life   

Mau Beli Rumah? Kurangi Hal-Hal Ini, Yuk!

 
Author
Intan Kirana
01 February 2017

Kalau bicara soal kemapanan, biasanya yang tebersit di kepala kita adalah punya mobil mewah, bisa liburan dan nongkrong di tempat kece, serta punya baju mahal. Maklum, ketiga hal itu, kan, gampang banget buat dipamerin di media sosial. Akan tetapi, ada satu hal nih yang mungkin sering kita lupakan: rumah.

Waktu kecil, banyak orang bermimpi bisa punya rumah gede di tengah kota. Sayangnya, punya rumah enggak segampang itu. Berbeda sama gawai ataupun mobil, harga properti selalu naik karena tanah makin terbatas dan manusia makin banyak. Enggak heran kalau ada banyak orang yang kerjanya di Jakarta, tetapi rumahnya di Bojong Gede atau Parung Panjang. Soalnya rumah yang dekat sama pusat kota mahalnya sudah enggak karuan.

Buat lo yang masih muda, memiliki rumah, meskipun nyicil, adalah hal yang harus lo perhatikan dari dini. Kenapa? Karena kalau lo terlalu larut dalam euforia masa muda, bakal susah punya rumah meskipun gaji lo dua digit. Bahkan diramalkan, kalau lo enggak fokus nyari dan nabung dari sekarang, bakalan susah bagi lo untuk punya rumah. Untuk itu, sebagai orang yang sudah cukup dewasa, apa aja sih hal-hal yang harus lo kurangi supaya lo bisa menyicil atau membeli rumah?

 

1. Nongkrong Secukupnya

Sekarang, sudah banyak kafe yang menyediakan berbagai menu dan suasana mewah, tetapi dengan harga murah. Hal itu membuat beberapa orang merasa bahwa mereka bisa nongkrong cantik tapi tetap hemat.

Kalau dihitung-hitung, nongkrong cantik yang lo lakukan teratur justru secara enggak sadar bisa menghabiskan tabungan lo. Misalnya, siang ini lo nongkrong di warung Indomie Hipster dan habis sekitar Rp15.000. Kemudian, malamnya lo minum kopi di Kedai Kece yang menawarkan harga murah, sekitar Rp12.000. Akan tetapi, karena agak lapar, lo enggak mungkin cuma minum kopi. Akhirnya, lo beli ketan susu yang harganya Rp8.000 dan beli sosis keju yang harganya Rp10.000,00. Total biaya nongkrong lo hari itu adalah Rp 45.000.

Enggak masalah, sih, kalau lo nongkrongnya cuma seminggu sekali. Yang jadi masalah adalah, saat lo nongkrong empat kali seminggu, atau tiap hari. Padahal, gaji lo masuk ke golongan yang enggak wajib pajak, alias enggak gede-gede banget, dan lo tinggal di kota besar. Mungkin memang sudah saatnya lo mengubah kebiasaan nongkrong cantik dengan kebiasaan yang lebih produktif.

 

2. Ikutan Tren? Sewajarnya saja, ya!

Apa yang lagi populer saat ini? Kamera Go-Pro? Lipstik matte? Vaporizer. Sekali-kali menyenangkan diri sendiri enggak masalah. Tetapi, lo juga harus tau kalau diri ini perlu dikasih pelajaran alias bersusah-susah dahulu sebelum senang.

Ngikutin tren, selama lo punya uang, dan selama tabungan lo masih banyak enggak masalah. Akan tetapi, jangan sampai lo mendewakan tren. Misalnya, lo mau beli lipstik Stilla Patina yang ratusan ribu itu karena teksturnya bagus, atau lo mau beli Vaporizer yang harganya Rp1,6juta karena lebih hemat baterai. Kemudian, lo rela enggak makan atau menguras tabungan supaya bisa beli barang-barang trendi itu. Well, pikir lagi deh, lo butuh enggak barang-barang tersebut? Jangan-jangan cuma biar lo dianggap gaul aja, atau cuma buat kesenangan sesaat.

Enggak semua yang lagi populer itu harus lo beli. Terkadang, tren itu cuma permainan pasar aja, supaya produsen-produsen terkait bisa menjaring banyak konsumen. So, jangan terlalu terjebak sama barang-barang yang lagi ngetren, ya! Kecuali kalau lo butuh dan masih bisa menabung.

 

3. Liburan

Ada pepatah yang terkenal soal liburan dan travelling, “The world is a book and those who do not travel read only one page.” Enggak ada yang salah dengan pepatah tersebut. Mumpung masih muda, cobalah lo kenali Dunia yang luas ini.

Namun, bukan berarti lo liburan yang mewah banget, padahal uang lo terbatas. Atau, lo mau liburan cuma biar dipandang keren sama orang lain, bukan karena mau mengenal budaya lain. Kalau lo mau travelling cuma buat dipamerin di Instagram, sebaiknya jangan, deh. Lebih baik, lo capai dulu keinginan lo yang sebenarnya. Jangan sampai, mimpi lo jadi orang yang mapan cuma berakhir di kotak imajinasi lo.

Anyway, travellers terkenal bukan orang yang liburan atau menjelajah cuma buat pamer. Mereka punya konsep wisata yang bagus, dan tentunya menghasilkan. Jadi, kegiatan wisata ini enggak cuma kegiatan yang konsumtif dan boros, tetapi juga produktif. Terbukti banyak travel blogger yang bisa terkenal dan mendulang banyak uang lewat kenalan mereka yang banyak di seluruh Dunia, lewat buku yang mereka terbitkan, maupun lewat Internet.

 

4. Ponsel terbaru

Ponsel memang sudah jadi belahan jiwa masyarakat modern. Ponsel yang cuma bisa telepon dan SMS mah sudah enggak zaman banget. Apalagi, manusia masa kini cenderung berkomunikasi lewat Internet dan messenger ketimbang lewat telepon atau SMS. Untuk itu, kita butuh ponsel yang bisa mengakomodir kebutuhan berinternet kita dengan maksimal.

Namun, bukan berarti lo harus ganti ponsel tiap kali ada model terbaru. Atau, lo merasa bahwa lo membutuhkan ponsel yang bisa anti air dan anti ranjau, padahal kegiatan sehari-hari lo cuma bangun tidur, dan pergi ke kampus atau kantor naik motor. Sesuaikan ponsel sama kebutuhan lo, dan jangan tergoda sama ponsel-ponsel baru cuma karena ponsel-ponsel itu kelihatan keren dan temen-temen gawl lo pakai itu. Karena mau gimanapun juga, harga ponsel tuh menurun dan enggak bagus buat investasi. Kalau uang tabungan lo cuma dipakai untuk gonta-ganti ponsel dan gadget lain yang enggak sesuai kebutuhan, jangan heran kalau tabungan lo selalu seret.

 

5. Diskon Busana

Diskon sekilas menjadi sesuatu yang menguntungkan konsumen. Padahal, sebenarnya, yang dapat untung tetap si produsen, walaupun memang cuma sedikit.

Banyak orang yang tergila-gila sama diskon. Dengan dalih "mumpung murah", mereka pun kalap membeli barang-barang yang enggak mereka butuhkan. Makanya enggak heran kalau Midnight Sale selalu dipenuhi sama masyarakat. Mereka menganggap kalau membeli barang diskon membuat mereka menjadi pemenang, dan mengalahkan produsen. Nah, rasa menang ini nih yang digunakan untuk menarik hati kita.

Jangan sampai lo membeli barang-barang yang enggak lo butuhkan, atau malah sudah lo miliki hanya karena lo tertarik sama diskon. Pada akhirnya, bakal banyak barang yang enggak terpakai dan hanya memenuhi lemari lo. Sementara itu, tabungan lo makin kosong aja.

***

Untuk kaum menengah seperti kita, emang butuh pengorbanan dan ketidakpedulian sama rasa gengsi supaya bisa membeli rumah. Mungkin banyak di antara lo yang berpikir kalau beli rumah bisa nanti aja, dan mending nikmati hal-hal keren mumpung masih muda, tetapi kalau lo hanya berpikir tentang masa kini dan enggak mikirin masa depan, nanti lo sendiri loh yang akan menyesal.