Chillax  Epic Life   

Jejak-jejak Rasisme di Dunia

 
Author
Intan Kirana
18 May 2017

Beberapa waktu lalu, lini masa di berbagai media sosial penuh sama postingan berbau rasisme. Pemicunya adalah Pilkada DKI Jakarta. Tiap kubu punya pendukung yang saling lempar penghakiman. Ajang pertarungan politik yang sejatinya berlandaskan kepentingan partai jadi keributan warga sipil yang bawa-bawa isu suku dan keyakinan. Pasti lo juga engap, ‘kan, ngelihatnya? Semoga lo enggak termasuk yang kayak begitu, ya.

Sayangnya, rasisme bukan hal baru. Di berbagai belahan dunia, udah banyak kejadian yang lebih parah. Padahal, ya, dari kecil kita diajarin buat ngehargain sesama manusia tanpa peduli latar belakangnya. Soalnya, enggak ada satu pun orang bisa milih terlahir dengan warna kulit seperti apa. Jadi, kali ini Viki ngajak lo ngelihat lagi fenomena-fenomena rasisme yang udah terjadi. Baca satu per satu dan jangan keburu emosi, ya.

1. Perancis dan Larangan Burka

Perancis adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di Eropa. Namun, hal itu enggak bikin kaum muslim merasa aman hidup di sana. Pasalnya, banyak rasisme yang terjadi. Salah satunya adalah rasa sentimen terhadap burka.

Pada masa pemerintahan Nicolas Sarkozy, pernah ada seorang cewek Perancis asli yang menarik burka seorang cewek Arab-Afrika di pusat perbelanjaan. Alasannya? Ya, sensi aja sama burka. Enggak cuma itu. Beberapa waktu lalu, beberapa daerah di Perancis sukses bikin heboh dengan larangan penggunaan burkini alias burka-bikini, baju renang muslim yang menutup seluruh badan dan kepala. Alasannya, burkini enggak sesuai sama nilai-nilai Perancis dan bikin cewek jadi terlihat “dikekang”.

Larangan ini nimbulin protes keras. Soalnya, Perancis sendiri mengusung nilai liberté alias kebebasan, tapi malah bikin cewek enggak bebas pakai baju renang yang menutup seluruh badan. Karena banyaknya protes, pengadilan di Perancis pun menangguhkan larangan ini pada akhir tahun lalu. Ya, banyak orang udah keburu sakit hati. Pantai, ‘kan, ruang bebas. Begitu pula mal dan tempat bersantai lainnya.

Perancis memang terkenal sama lansekap indah, tapi enggak dengan masyarakat dan pemerintahannya. Banyak konflik yang terjadi lantaran perbedaan budaya antara imigran dan penduduk asli. Namun, hal ini memang dipicu pemerintah Perancis dari zaman Perang Dunia dulu karena mereka pernah ngebuka keran imigran besar-besaran dengan alasan kurangnya tenaga kerja.

2. Chelsea dan Kebanggaan Jadi Rasis

Entah apa yang ada di benak penggemar Chelsea alias The Blues ini. Pada 2015, mereka bikin ulah di Paris, tepatnya di stasiun kereta bawah tanah Richelieu-Drouot. Mereka datang ke Paris karena Chelsea tengah berlaga melawan Paris Saint-German (PSG) dalam UEFA Champion League.

Ulah rasisnya ini enggak main-main: mereka ngelarang seorang pria kulit hitam naik ke Paris Métro alias kereta! Enggak hanya itu, mereka juga nyanyiin yel-yel semacam, “We're racists, we're racists, and that's the way we like it.” Parah banget, ‘kan? Untung si pria yang jadi korban ini milih buat ngalah dan enggak ngebalas kelakuan jahat mereka.

Ini bukan pertama kalinya penggemar The Blues bikin masalah. Tahun sebelumnya, pada ajang yang sama, ada yang nyanyiin yel-yel English Defence League yang digubah sedemikian rupa hingga menyindir kaum Islam dan Yahudi di Paris. Enggak sekadar bernyanyi, mereka juga memeragakan salam penghormatan ala NAZI. Sungguh aneh, padahal sepak bola enggak ada hubungannya sama ras dan agama.

Oh, enggak semua penggemar Chelsea barbar kayak gitu, loh. Mereka cuma oknum yang kebetulan kurang edukasi. Kalau lo juga penggemar Si Biru, justru harus bisa kasih lihat bagaimana sikap yang baik, ya.

3. Pemisahan Murid Berdasarkan Ras di Sekolah Afrika Selatan

Sebelum pemerintahan minoritas kulit putih berakhir pada 1994, siswa-siswi dengan kulit hitam disekolahin di sekolah-sekolah pemerintah yang enggak bergengsi dan disiapin jadi pekerja kasar. Padahal, tanah Afrika adalah tanah tempat orang kulit hitam dan warga kulit putih cuma jadi pendatang. Namun, dengan liciknya, mereka bisa bikin orang berkulit hitam seolah-olah jadi manusia kelas dua.

Untungnya, hal ini udah berangsur-angsur menghilang sekarang. Miris banget melihat betapa banyaknya orang yang memperlakukan warga kulit hitam dengan semena-mena, padahal mereka juga manusia seperti kita. Stereotip aja yang bikin kulit putih seolah lebih keren daripada kulit hitam.

4. Pemboikotan NIKE di Media Sosial

Beberapa waktu lalu, NIKE ngeluarin hijab khusus untuk aktivitas olahraga para muslimah. Hal ini jelas disambut baik oleh berbagai umat muslim di dunia. Apalagi, NIKE dikenal sebagai produk sandang olahraga yang berkualitas dengan model yang apik.

Enggak selamanya hal yang positif selalu dapet respons yang menyenangkan. Banyak, loh, yang pakai tagar #boycottnike di media sosial karena ngerasa produk ini mengekang cewek. Ini hal lucu mengingat justru merekalah yang jadinya mengekang kebebasan orang untuk berekspresi bikin produk sekaligus mengekang orang buat memakai baju renang muslim. Memang banyak orang di dunia ini yang nampaknya butuh cermin dan belajar untuk mengevaluasi diri sendiri terlebih dahulu.

5. Konflik Poso

Konflik yang pernah terjadi di Poso, Sulawesi Tengah, ini mengerikan banget. Pemicu dari konflik ini sendiri banyak, tapi kalau dirunut lagi, enggak jauh-jauh dari masalah perbedaan agama dan generalisasi. Cekcok dimulai dari masalah pemilihan bupati sampai pertengkaran warga. Kalau ada warga Islam dan Kristen yang bertengkar, orang-orang langsung menghakimi kalau hal ini terjadi lantaran masalah agama. Padahal, belum tentu.

Konflik ini meletus pada 1998. Banyak korban jiwa yang berjatuhan dan bangunan-bangunan yang terbakar. Masing-masing pemeluk agama merasa agamanya lagi diancam dan merasa ketakutan sendiri. Sekarang, konflik ini udah reda. Semoga sejarah enggak kembali berulang.

***

Perbedaan yang kita punya, ‘kan, enggak ngelecehin kemanusiaan. Malahan nunjukin betapa beragamnya kita. Jadi, udah selayaknya dihargai. Kalau nganggap itu masalah, artinya lo males untuk bersikap bijak. Kalau ada orang yang sifatnya nyebelin, bukan berarti suku dan agamanya juga ikutan nyebelin. Ayo, belajar bijak dalam menilai orang lain. Ajak juga temen lo untuk enggak terhasut isu rasisme apalagi sampai ikut nyebarin kebencian.