Epic Life   

Di Balik Eksistensi Tukang Bully

 
Penulis
Intan Kirana
20 January 2017

Bullying alias merundung adalah sesuatu yang enggak pernah ada habisnya untuk dibahas. Pasalnya, sudah menjadi kodrat manusia untuk berkuasa. Sejatinya, manusia punya keingingan menguasai orang lain dan segala hal di Dunia ini. Keinginan tersebut bisa enggak muncul dalam diri seseorang. Salah satunya adalah kontrol dalam diri manusia yang disebut empati.

Sayangnya, enggak semua orang punya kesadaran untuk berempati. Buktinya, perundung (tukang bully) itu masih ada di mana-mana. Bahkan, hal itu terjadi di instansi pendidikan—yang semestinya diisi orang-orang bermoral dan lebih tahu cara menumbuhkan empati.

10 Januari 2017 lalu, ada kematian yang diakibatkan oleh perundungan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Marunda, Jakarta Utara. Korban yang bernama Amirulloh Adityas Putra, tewas usai dipukuli oleh para senior tingkat dua dalam sebuah sesi—yang katanya, sih—pelajaran kedisiplinan.

Lalu, sebenarnya perilaku seperti apa yang sudah masuk ke ranah bullying alias merundung? Berdasarkan KBBI, “Merundung” adalah menyakiti orang lain secara fisik maupun emosional dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, dan fisik berulang kali dan dari waktu ke waktu, seperti memanggil nama seseorang dengan julukan, memukul, mendorong, menyebarkan rumor, mengancam, atau merongrong seseorang. Jadi, merundung enggak selalu diikuti tindakan fisik. Mempermalukan orang di depan umum pun sudah masuk ranah perundungan, loh.

Eksistensi perundung di instansi pendidikan memang masih sering terjadi. KZL, enggak? Jangankan sebagai orangtua, sebagai masyarakat yang enggak ada hubungannya ke korban saja, pasti ada rasa untuk membalas kelakuan tersebut. Akan tetapi, balas dendam dengan cara merundung balik itu enggak ada gunanya. Hal itu enggak bakal bisa menghilangkan budaya perundungan yang sudah marak hadir di instansi pendidikan.

Lantas, apa, sih, penyebab munculnya keinginan untuk merundung dalam diri seseorang? Peran orangtua, masyarakat, pendidik, dan tentunya pemerintah dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan ini. Berikut, Viki rangkum beberapa penyebab seseorang menjadi perundung. Kepoin, yuk!

 

1. Kurang perhatian.

Banyak perundung yang sejatinya kurang perhatian dari orang terdekat. Yang paling umum adalah kurang perhatian dari orangtua. Entah karena orangtuanya sibuk, galak, atau malah enggak pernah benar-benar mau mendengarkan dia dari kecil.

Seorang anak yang kurang perhatian sejak kecil, berpotensi jadi perundung. Melalui orang lain, dia melampiaskan rasa kesal untuk mendapatkan perhatian dari orang di sekitarnya. Memang caranya salah, tetapi dia enggak peduli karena yang penting, dia jadi merasa berkuasa, dan merasa diperhatikan. So, suatu saat kalau lo punya anak, jangan hanya menyuruh anak untuk melakukan segala hal yang lo perintahkan, atau malah enggak acuh sama anak. Anak akan merasa kesepian di dalam dirinya, dan akan mencari cara lain untuk mencari perhatian.

 

2. Enggak punya prestasi/kerjaan lain.

Setuju enggak lo kalau perundung tuh biasanya enggak punya prestasi atau kerjaan lain? Soalnya, kalau dia punya kesibukan lain, dia pasti malas merundung orang lain. Cuma buang-buang waktu. Orang tersebut pasti bakal memanfaatkan waktu yang ada buat mikirin pekerjaan dia.

Manusia itu makhluk yang butuh pengakuan. Ada yang mencari pengakuan dengan segudang prestasi, ada juga yang jadi sok berkuasa. Nah, biar lo enggak jadi pribadi yang suka merundung, sebaiknya lo cari kesibukan lain yang sifatnya positif. Jangan terlalu larut kepoin orang, yang ujung-ujungnya malah bikin lo jadi iri sama orang lain, dan bikin lo jadi punya pikiran untuk merundung orang lain. Merundung enggak akan bikin lo jadi terlihat hebat. Alih-alih, lo akan terlihat seperti pecundang.

 

3. Budaya buruk dalam instansi pendidikan.

Kalau ditanya satu per satu, pastilah para penyelenggara pendidikan akan bilang kalau mereka anti perundungan. Pada kenyatannya, banyak instansi pendidikan yang menjadikan perundungan sebagai "budaya enggak tertulis". Enggak cuma di tingkat ikatan mahasiswa/organisasi siswa, tetapi di tingkat guru atau dosen sekalipun. Terkadang, mereka bungkam meskipun ada junior yang dirundung sama senior. Kenapa? Karena menurut mereka, itu memang budaya yang harus dirasakan oleh para junior.

Mereka pun seringkali kucing-kucingan sama pihak universitas, atau dinas dan kementerian pendidikan supaya hal tersebut enggak mencemari instansi mereka sendiri. Yah, kalau sudah begini sih, mau enggak mau memang harus ada sidak, atau ada pihak yang memberanikan diri untuk merekam kejadian perundungan, lalu sampaikan deh sama pihak lain yang lebih tinggi. Disebarin ke YouTube pun enggak apa-apa sih, karena kalau sudah jadi viral, pastilah akan ada tindakan dari pihak yang lebih tinggi, dan perundungan pun bisa selesai. Soalnya, kebanyakan orang baru kapok kalau aibnya sudah diketahui banyak orang.

 

4. Pembuktian pada teman.

Terkadang, ada orang yang mau terlihat sok jagoan biar bisa masuk kelompok tertentu. Kasarnya "kalau lo ga ngebully junior, enggak keren". Makanya, ada beberapa orang yang akhirnya ikut-ikutan merundung supaya terlihat keren di mata teman-temannya.

Berteman sama orang itu memang penting. Akan tetapi, kalau sebuah pertemanan membuat lo jadi pribadi yang buruk dan merugikan orang lain, mendingan lo tinggalin aja teman model begitu. Teman yang seperti itu enggak bakal ada saat lo susah. Malah, mereka akan meninggalkan saat lo butuh bantuan. Parahnya, lo juga bisa dirundung balik sama teman yang seperti itu. Jadi, mulai sekarang, carilah teman-teman yang membawa arus positif ke hidup lo. Tinggalkan sejenak mereka yang bikin lo jadi orang yang enggak bermanfaat di alam semesta ini.

 

5. Terbawa anggapan buruk.

Sadar enggak sadar, ada beberapa penilaian di masyarakat kita yang dasarnya enggak jelas. Kebanyakan sih, penilaian fisik. Contohnya kayak orang pendek, tuh, pasti enggak menarik. Orang yang berkulit gelap juga. Begitupun mereka yang bukan berasal dari keluarga kaya. Yah, maklum, setiap kali melihat iklan, sinetron, atau media sosial, tolok ukur kesempurnaan adalah tubuh yang bak model, dan kehidupan yang jetset abis. Pagi makan di Maladewa, malam dinner di Burj Khalifa. Duit mereka seakan enggak pernah habis. Badan pun terlihat selalu langsing dan kinclong.

Well, perundungan enggak cuma terjadi antara pihak yang iri kepada pihak yang dianggap lebih sempurna. Perundungan juga bisa terjadi ke mereka yang dianggap lebih enggak sempurna. Kenapa? Ya karena ada banyak pihak yang merasa kalau beberapa orang itu memang “ditakdirkan” untuk dirundung. Lagipula, banyak acara lawak yang menjadikan kekurangan tubuh orang sebagai bahan gurauan. Otomatis, pola pikir masyarakat pun terpengaruh.

Sebagai manusia, belajarlah menerima kalau kesempurnaan itu enggak ada. Kadang malah, kesempurnaan itu cuma buatan pihak-pihak tertentu buat jualan produk atau biar promosi mereka laris. Hanya karena lo merasa lebih cakap, gaul, ataupun tajir, bukan berarti lo bisa menjadikan orang-orang yang (menurut lo) enggak seberuntung lo sebagai objek kesenangan.

 

6. Pernah jadi korban.

Wajar kalau manusia itu punya rasa dendam. Rasanya memang susah menghilangkan trauma atas sebuah kejahatan yang pernah dilakukan orang ke kita. Belum puas rasanya kalau kita belum membunuh orang itu, bikin dia hidup lagi, terus “nge-blender” dia dan bikin dia hidup lagi. Begitu seterusnya. Akan tetapi, enggak semua orang berani membalaskan dendam sama orang yang pernah berbuat jahat ke mereka. Mungkin karena dia masih trauma atau merasa enggak sekuat orang tersebut.

Dalam konteks perundungan, seseorang yang pernah menjadi objek “kesenangan” senior, kemungkinan besar bakal membalaskan dendam ke orang lain yang lebih lemah. Misalnya nih, ke juniornya yang baru masuk, dengan menggunakan motto hidup "lo semua harus merasakan apa yang dulu pernah gua rasain". Ya kalau semua orang mentalnya kayak begini mah, sampai Terminator benar-benar tercipta juga enggak akan kelar-kelar yang namanya perundungan.

Berusahalan jadi pribadi yang lebih ikhlas. Jangan menimpakan kekesalan sama orang yang enggak bersalah sama sekali. Coba lo tempatkan diri lo di posisi orang tersebut, pasti enggak akan enak kan?

***

Sejatinya, perundungan itu berasal dari kurangnya empati. Untuk itu, sebagai bagian dari masyarakat, yuk tumbuhkan empati dalam diri lo. KZL sama orang boleh, tetapi jangan sampai melanggar hak dan merugikan orang lain. Salam.