Epic Life   

5 Teori Berakhirnya Alam Semesta

 
Penulis
Intan Kirana
16 June 2017

Manusia biasanya takut sama segala hal yang enggak dikenal atau belum pernah dialamin. Sayangnya, hal-hal itu udah pasti bakal menimpa semua orang. Misalnya aja kematian. Soalnya, kita enggak tahu pasti datangnya kapan dan apa yang akan terjadi setelatu.

Nah, lebih dari itu, kiamat dirasa jauh lebih mengerikan. Segala yang ada di alam semesta ini hancur dengan seketika. Saking mengerikannya gambaran kiamat—baik dalam ajaran agama maupun ilmu pasti—banyak orang yang berdoa supaya mati duluan sebelum hari kiamat datang.

Memangnya, kayak apa, sih, gambaran hancurnya alam raya ini? Nah, Viki ngerangkum berbagai teori tentang bagaimana kemungkinan terjadinya kiamat. Buat lo yang enggak gentar buat mencari tahu, yuk, simak aja.

 

1. Matinya Bintang-bintang

Apakah selama ini kalian sering KZL sama panas matahari yang nyengat di siang bolong? Panasnya enggak cuma bikin penampilan jadi kucel dan kulit menggelap, tapi juga ngundang gerah dan dahaga. Makanya, banyak orang berharap cuaca jadi berawan supaya panas matahari enggak jahat-jahat amat.

Padahal, matahari itu baik banget, loh. Meski jaraknya 149,6 juta kilometer dari kita, tanpa matahari, enggak bakal ada kehidupan di Bumi. Mungkin kita baru benar-benar bisa mensyukuri keberadaan sesuatu kalau sesuatu itu hilang dulu, ya? Yah, ingat aja. Matahari sebenarnya adalah bintang. Kayak bintang-bintang lain, matahari juga bakal mati suatu saat.

Kalau menurut Live Science, matahari diprediksi mati sekitar 7—8 miliar tahun lagi. Memang, sih, buat ukuran umur manusia, rentang waktu itu sangat lama. Namun, buat ukuran alam semesta, umur matahari enggak akan lama lagi. Enggak percaya?

Semakin mendekati ajal, hidrogen yang difusi jadi helium pada inti matahari bakal menipis. Hal ini membuat reaksi fusi makin intens alias boros bahan bakar karena matahari mengalami penekanan. Pada tahap pertama, permukaan Bumi bakal ngalamin panas setinggi 50—60 derajat Celcius. Panas banget sampai bikin pesawat susah melandas dan es-es mencair! Tanaman produsen bagi rantai makanan yang perannya sulit digantikan pun akan mati. Udah pasti ada pengaruhnya sama kehidupan manusia dan makhluk lain dalam rantai makanan.

 

Pada tahap kedua, panas Bumi udah jadi 100 derajat Celcius. Kebayang, dong, panasnya kayak apa? Namun, sebagai makhluk penuh imajinasi dan berdaya pikir, manusia udah mengantisipasi kejadian itu terlebih dulu dan membuat bunker di bawah tanah. Di sini kondisinya masih lebih dingin daripada di bagian atas.

Memasuki tahap ketiga, Bumi semakin memanas. Bunker pun enggak bisa menahannya. Semua makhluk hidup akhirnya mati, kecuali cyanobacteria yang memang bisa hidup dalam suhu superpanas.

Tahap selanjutnya, Bumi lama-lama ketarik ke arah matahari. Permukaannya udah kayak oven raksasa. Jupiter yang tadinya dingin banget jadi lebih layak huni, tapi bukan berarti dia selamat juga. Soalnya, semua planet di Bima Sakti, ‘kan, berpusat sama matahari. Jadi, bisa juga semua ditelan.

Lama-lama, helium habis dan matahari pun kehabisan daya lalu mengecil jadi titik putih. Bisa dibilang ini kiamat buat Bima Sakti, tapi enggak buat alam semesta. Soalnya, masih ada bintang-bintang dan galaksi lainnya serupa tata surya kita yang juga bakal mati.

 

2. Big Freeze/Heat Death

Teori ini adalah kelanjutan dari matinya bintang-bintang di alam semesta. Ketika alam semesta makin tua, bintang-bintang yang menerangi tata surya perlahan akan bernasib seperti cerita sebelumnya. Lama-kelamaan, alam semesta semakin dingin karena enggak ada panas dari bintang-bintang di dalamnya.

Dalam skenario kiamat ini, alam semesta yang menua bakalan mengembang lebih cepat daripada saat ini. Bayangin aja, lo berada di suatu tempat yang makin lama makin besar, tapi sumber energi panas makin berkurang. Suhunya pasti makin lama makin rendah, ‘kan?

Kalau kata mayoritas ilmuwan, sih, skenario ini paling mungkin terjadi kalau diukur berdasarkan massa jenis alam semesta. Namun, ada juga yang enggak percaya dan punya teori lain soal kiamat ini.

 

3. Big Rip

Big Rip sebetulnya punya konsep yang sama dengan Big Freeze. Namun, Big Rip jauh lebih ekstrem. Dalam teori ini, diyakini bahwa ada keberadaan energi gelap yang besar dan misterius. Energi ini bikin luar angkasa jadi kelihatan kayak “malam”. Energi gelap ini juga menentang gaya gravitasi sehingga membuat semesta menjadi memuai tanpa batas!

Oh, ya, satu hal lagi yang ngebedain Big Rip dan Big Freeze. Dalam Big Freze, energi gelap nilainya konstan. Sementara itu, pada Big Rip, energi gelap mengalami peningkatan, makanya memuainya alam semesta bakal terjadi secara lebih cepat.

Teori ini terdengar masuk akal. Namun, berdasarkan pengamatan NASA dengan observatorium sinar X-Chandra (Chandra X-Ray Observatory), belum ditemuin bukti kalau energi gelap yang menaungi kita ini betul-betul memuai.

NASA pun buat sementara waktu mengesampingkan teori ini. Namun, siapa yang tahu kalau nantinya ada alat yang bisa ngebuktiin bahwa energi gelap penaung semesta ini ternyata memang memuai sedikit demi sedikit?

 

4. Big Crunch

Big Crunch adalah teori yang berlawanan sama Big Freeze. Kalau dalam Big Freeze, alam semesta bakalan mengembang sangat cepat saat mendekati ajal. Nah, dalam Big Crunch, alam semesta kita ini pada suatu saat bakal berhenti mengembang dan malah menyusut.

Karena menyusut, semua planet, bintang, meteorit, dan benda lain di alam semesta bakalan saling bertabrakan. Lama kelamaan, alam semesta ini akan tertarik dan cuma menyisakan lubang hitam besar doang. Setelah lubang hitam, bakalan ada apa lagi? Itulah hal yang sampai sekarang belum bisa dipecahin karena udah berada di luar nalar manusia.

 

5. Big Bounce

Saat teori lain menggambarkan kiamat dengan mengerikan dan suram, lain halnya sama Big Bounce. Menurut teori ini, justru kiamat itu enggak ada, loh! Yap, bagi yang meyakini Big Bounce, bukan cuma makhluk hidup yang bisa bereinkarnasi. Alam semesta ini juga.

Dalam teori ini, disebutin bahwa alam semesta bakalan mengalami siklus penciptaan berulang. Dimulai dari Big Bang (ledakan besar) yang bikin alam semesta jadi mengembang dan bervariasi kayak sekarang, kemudian alam semesta lama-lama menyusut, mengalami Big Crunch, meledak (Big Bang), dan jadi lagi deh alam semesta baru. Begitu aja seterusnya. Cukup masuk akal, sih, ya. Soalnya, abis Big Crunch memang bisa ada Big Bang lagi. Jadi, bisa jadi ada kehidupan lagi. Malah, bisa jadi kita bukan yang pertama.

***

Semesta raya ini begitu luas dan menyimpan banyak misteri. Sampai sekarang pun, kemampuan otak manusia belum bisa menjangkaunya. Jadi, di sinilah keyakinan berperan.

Kalau lo sendiri, lebih percaya teori yang mana, nih? Atau, lo enggak peduli teori mana yang benar? Pokoknya, lo udah enggak ada di muka Bumi ini pas kiamat, jadi enggak ngerasain betapa kacau dan nakutinnya detik-detik terakhir?