Chillax  What's On   

Menikmati Langit Sikunir ala Komunitas Astronomi HAAJ

 
Author
Nural 
01 August 2017

Akhir minggu memang waktunya buat kumpul-kumpul. Bisa nikmatin kebersamaan bareng keluarga di rumah atau berlibur ke satu tempat wisata. Selain keluarga, sama teman atau sahabat juga enggak kalah seru. Apalagi, bareng teman-teman sekomunitas. Yap, kayak yang dilakuin oleh komunitas penjelajah angkasa, Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, akhir pekan lalu.

Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) menyelenggarakan kegiatan kemah bintang yang disebut Star Party. Buat pencinta astronomi, kegiatan tersebut kayaknya wajib dilakuin. Selain buat nambah ilmu dan teman, juga sebagai sarana refleksi pikiran atas kebesaran yang diciptakan-Nya.

Star Party kali ini digelar di Dieng. Tepatnya, di Camping Ground Sikunir, Desa Sembugan yang diklaim sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa. Dikenal juga sebagai “Negeri di Atas Awan”, tempat tersebut selalu ramai pengunjung dari berbagai daerah. Kebanyakan yang datang cuma buat ngelihat Golden Sunrise yang digadang-gadang sebagai sunrise terbaik se-Indonesia. Berbeda dengan HAAJ, mereka datang buat ngamatin langit dan berburu panorama Milky Way.

Kegiatan HAAJ ini berlangsung selama 28—30 Juli 2017 dengan keberangkatan dari markas HAAJ, Planetarium Jakarta, pukul 20.00. Segala peralatan yang diperlukan disiapin. Peralatan tersebut punya kegunaan masing-masing buat misi pengamatan yang berbeda. Enggak lupa, tenda juga dibawa sebagai tempat istirahat.

Selain itu, pemilihan tanggal keberangkatan juga memiliki alasan tersendiri. Selain karena merupakan waktu strategis untuk nge-camp, juga karena bertepatan dengan adanya puncak hujan meteor Delta Aquarid. Hujan meteor ini tampak memancar dari rasi bintang Akuarius. Intensitasnya mencapai 15—20 meteor per jam di langit malam.

Menariknya, puncak hujan meteor ini berlangsung selama tiga malam berturut-turut, enggak kayak hujan meteor pada umumnya. Satu hingga dua jam sebelum fajar biasanya ada pemandangan paling menakjubkan dari hujan meteor Delta Akuarid. Sayangnya, karena mendung dan banyak kabut yang menyelimuti tempat camping, pemandangan hujan meteor enggak semenarik biasanya. Hanya terlihat sekilas.

Hal itu enggak nyurutin niat mereka dalam mengamat langit. Saat menunggu langit terbuka, mereka mengisinya dengan diskusi banyak hal, mulai dari hujan meteor hingga cara memotret objek langit. Udara dingin yang makin menusuk tulang juga enggak bikin surut ketertarikan mereka.

Nah, selain itu, Viki bakal ngasih tahu bagaimana cara para pencinta Astonomi HAAJ nikmatin langit Sikunir. Yuk, kepoin!

 

1. Persiapan Alat Tempur

Ngamatin langit bisa dibilang gampang-gampang susah. Kalau cuma pakai mata tanpa alat bantu, udah biasa, tapi sulit buat dapat penampakan objek langit yang jelas. Makanya, selain dengan mata, juga dibutuhin alat bantu lain yang bisa nunjang pengamatan jadi lebih maksimal.

Menariknya, pengamatan yang dilakukan HAAJ ini enggak sekadar lihat objek yang umum semacam Bulan atau Jupiter, tapi juga objek-objek langit yang lain, kayak galaksi Andromeda atau bintang-bintang terdekat tata surya. Makanya, alat yang dibutuhin enggak sesederhana itu.

Dibutuhkan teleskop buat ngelihat objek langit yang lebih jauh. Lalu, green laser sebagai alat bantu penunjuk objek langit. Peta bintang buat ngenalin bintang-bintang serta objek langit lainnya yang muncul di bulan dan jam tertentu. Logbook sebagai panduan objek apa saja yang ingin diamati. Kamera DSLR dan T-ring sebagai alat buat memotret objek langit. Terakhir, binokular untuk melihat objek seperti gugus bintang (star cluster), Bulan, nebula dan globular cluster.

 

2. Pemilihan Tempat

 

Dataran tinggi Dieng, tepatnya di Camping Ground Sikunir, jadi tempat pilihan komunitas HAAJ buat ngadain kegiatan ini. Lokasi di ketinggian 2.300 mdpl ini memang ditujukan buat kegiatan perkemahan yang notabene sedikit polusi udara. Di sana, mudah mengamati Bimasakti, objek yang jadi surga para pencinta astronomi. Ditambah, HAAJ ingin mencoba sensasi baru menikmati langit “Negeri di Atas Awan” yang suhunya 6—12 derajat Celcius.

“Awalnya, kami cuma iseng karena HAAJ biasanya mengadakan kegiatan Star Party di sekitar Jakarta. Gua nyeletuk di grup WhatsApp buat bikin di Dieng. Semua anggota setuju dan banyak yang ikut. Kami milih di Sikunir karena tempatnya masih minim polusi cahaya dan jauh dari perkotaan,” ujar Indra Firdaus, Ketua HAAJ.

 

3. Berbagai Misi Pengamatan

Tentunya, Star Party yang dilakuin HAAJ bukan sekadar liburan atau jalan-jalan tanpa alasan yang jelas. Kegiatan ini punya misi pengamatan tiap masing-masing anggota. Ada yang ingin memotret langit dengan objek khusus, ada juga yang ingin melihat objek-objek yang enggak biasa kayak galaksi Andromeda. Di antara misi yang berbeda-beda itu, ada misi utama, yaitu mengabadikan galaksi Bimasakti.

“Pertama, kami mau motret galaksi Bimasakti. Berhubung di Jakarta sangat sulit ngelihat galaksi Bimasakti, itu jadi misi utama kami. Kami juga mau ngelihat objek-objek langit yang sulit dilihat di Jakarta, kayak nebula, Andromeda, hujan meteor,” jelas sang ketua.

 

4. Upaya Mengejar Matahari

Nah, selain punya misi pengamatan, tentunya ada unsur liburan. FYI, enggak cuma ngamatin objek langit malam hari, HAAJ juga ngamatin objek siang hari, seperti matahari. Lagi-lagi, pemilihan tempat dirasa pas buat komunitas ini. Sikunir digadang-gadang punya panorama sunrise terbaik di Indonesia. Makanya, pengamatan matahari saat terbit paling ditunggu-tunggu.

Sayangnya, karena kurangnya persiapan, misi ngamatin wajah matahari lewat teleskop enggak terlaksana. Medan yang ditempuh cukup berisiko dalam membawa peralatan. Maka dari itu, para anggota hanya menikmati sunrise tanpa mengamati wajah matahari beserta sunspot-nya. Walaupun begitu, mereka tetap bersyukur dapat kesempatan ngelakuin hobi mereka.

“Alhamdulillah, tempatnya enggak mengecewakan. Sesuai perkiraan kami, langitnya sangat bersih dari polusi. Kami berhasil ngelihat hujan meteor dan memotret Bimasakti. Kalau ada kesempatan lagi, kami akan ke sana lagi dengan persiapan yang lebih matang,” tutup Indra.

***

Terlepas dari itu minimnya persiapan, kegiatan HAAJ ini jadi kegiatan yang menarik buat para pencinta astronomi atau pun masyarakat umum. Soalnya, keindahan langit enggak hanya dipandang secara keseluruhan, tapi juga dilihat secara saksama menggunakan alat bantu. Apalagi, komunitas ini dibangun atas dasar kesamaan hobi. Pastinya, lebih seru, dong, kalau melakukan pengamatan sambil jalan-jalan sama teman-teman satu hobi.

Nah, buat lo yang punya ketertarikan dengan astronomi, lo bisa kepoin informasi lewat situs ini atau gabung kegiatan astronomi yang diadakan oleh Himpunan Astronomi Amatir Jakarta yang bermarkas di Planetarium Jakarta ini.

via GIPHY