Cerita Gue   

Si Jahil

 
 
Mila Permata Sari
30 April 2016

Lantunan lagu Super Junior menemani perjalananku malam ini. Tak seperti biasanya, malam ini aku cukup cermat memilih daftar lagu yang mau aku dengarkan. Macetnya jalan pun kulalui dengan senyuman. Perjalanan panjang ini menandai keputusanku untuk ngekos di dekat kampus. Tentunya setelah berdebat panjang dengan kedua orangtuaku. Jarak yang cukup jauh sering kali memaksaku terkapar di kasur. Karena itulah, akhirnya orangtuaku pun mengizinkan.

Jarum jam tepat menunjuk angka sebelas ketika aku sampai di tempat kos. Artinya, perjalananku malam ini memakan waktu tiga jam. Lama juga pikirku. Salahku juga sih karena memutuskan lewat jalan umum bukan lewat tol. Berharap kondisi jalan akan lengang di akhir pekan. Sudahlah, tak perlu kusesali. Yang terpenting, sekarang aku harus cepat menurunkan barang dari mobil dan mengambil kunci dari ibu kos. Karena sudah cukup larut, aku pun butuh usaha ekstra buat membangunkan si ibu dari tidurnya. Setelah telepon ke-10, si ibu pun bangun dan langsung keluar kamar tidurnya yang cukup megah. Si bapak memasang tampang muram. Sepertinya dia kesal karena mimpi indahnya bertemu Raisa terganggu.

“Kok datangnya malam banget, Neng?” Tanya si ibu sambil menyerahkan kunci kamarku.

“Iya nih. Tadi kena macet, Bu,” jawabku sekenanya.

Dua hari sebelumnya, aku sudah menyepakati harga yang ditawarkan si ibu. Harga yang kudapat terbilang murah buat kamar berukuran 4x6 meter tersebut. Posisi kamarku ada di lantai dua. Tepatnya di atas kamar kosong yang sudah setahun lebih tak ditempati. Di sebelah kiri ada hutan bambu milik warga setempat. Konon, tempat seperti itu biasanya angker. Berhubung aku tidak terlalu percaya sama hal mistis, aku pun mengabaikannya.

Aku mulai memindahkan barang dari mobil secara bertahap. Tiga koper berisi baju, boneka kesayangan, dan buku yang aku butuhkan buat menjalani perkuliahan jadi tantangan yang cukup berat malam ini. Setelah menaiki anak tangga, tiba-tiba aku merinding karena mendengar lengkingan tawa bernada tinggi. Aku pun sempat terdiam sejenak sampai akhirnya sadar kalau barang bawaanku masih banyak. Suara tawa yang cukup memekakan telinga tadi aku anggap sebagai ucapan selamat datang dari “penghuni”. Selang beberapa detik. Tawa itu terdengar lagi. Kali ini, suara tawa itu terdengar cukup jauh. Aku jadi ingat cerita dari mamaku tentang kuntilanak. Katanya, semakin jauh suara kunti, berarti makhluk itu dekat sekali dengan raga kita. Aku pun langsung panik. Melihat kepanikanku, si kunti pun benar-benar menampakkan diri di depan mataku tepat saat aku menginjakkan kaki di anak tangga terakhir. Beruntung aku tidak tergelincir dari tangga.

Meski sosok itu kuanggap sebagai ilusi dari kelelahan, aku tetap merasakan kepanikan. Berulang kali kunci kamar terjatuh karena aku tidak bisa berkonsentrasi. Saat berhasil, aku langsung mengunci pintu dan menarik kasur untuk menghalangi pintu. Entah apa yang kupikirkan saat itu. Yang pasti, kepanikan dan ketakutan luar biasa langsung menyelimutiku. Meski sulit, kupaksa mata ini untuk terus terpejam. Aku berusaha membayangkan hal-hal menyenangkan biar pikiranku tenang.

Belum lama rebahan, tiba-tiba aku merasakan sesak yang luar biasa. Jangankan berteriak, untuk menarik napas pun aku tidak sanggup. Aku terus berusaha melawan sesak ini. Kupaksa untuk membuka mata. Samar-samar terlihat sosok si kunti yang kuanggap ilusi muncul lagi. Dia ada di atasku seakan tak mengizinkanku untuk bangun. Sontak, aku makin panik. Sambil berjibaku dan terus berusaha bernapas, aku membaca beberapa doa yang aku ketahui. Belum selesai melafalkan satu doa, aku terkulai lemas dan akhirnya pingsan. Selang beberapa waktu, aku mulai tersadar dan sosok itu pun menghilang. Seketika, ketidakpercayaanku dengan hal mistis pun luluh.

‘Siapapun penghuni kamar ini sebelumnya, aku minta maaf.Please, jangan ganggu aku. Aku mau kuliah. Aku mau jadi sarjana.Please, maafin aku. Aku percaya kalau kamu itu benar-benar nyata.’

Aku hanya bisa terdiam meratapi kejadian ini. Air mata pun menetes tanpa sadar sebagai penanda ketakutan luar biasa yang menghampiriku. Dan air mata itu pula yang membantuku buat terlelap malam ini.

Keesokan harinya, aku terbangun tepat pukul 07:00 WIB. Aku terus memikirkan kejadian itu sepanjang perjalanan menuju kampus yang kutempuh selama 15 menit dengan berjalan kaki. Tiga mata kuliah pun akhirnya kulewati tanpa tahu apa yang dibahas. Aku tidak bisa fokus.

Kuputuskan untuk menyapa teman-temanku di kantin sekalian mengisi perut yang sedari pagi masih kosong. Pikiranku masih saja belum bisa fokus. Setiap kali ada teman yang bertanya, aku pasti baru menjawabnya 10 sampai 30 detik kemudian. Tak bisa ngobrol seru, akhirnya kutinggalkan mereka dan duduk di pojokan kantin sambil menyendiri. Kukeluarkan hape dari tas dan tanpa sadar memasukkan kata kunci “tiba-tiba sesak saat tidur” di Google.

“Lemes banget, Ran?” Suara cowok muncul dari arah belakang.

Wajah di balik suara itu ternyata seniorku yang bernama Andi. Tak kusangka dia memperhatikan keanehanku hari ini. Tanpa pikir panjang, kuceritakan semua kejadian yang menimpaku tadi malam. Sambil ngangguk-ngangguk, dia berusaha menenangkan pikiranku. Lalu dia berbagi pengalaman mistisnya kepadaku. Dari berbagai karakter makhluk halus sampai beragam tempat di kampus yang jadi sarang hantu, dia ceritakan padaku. Yang membuatku kaget, Andi bilang kalau perpustakaan adalah tempat paling angker di kampus. Konon, mendiang dekan kampusku meninggal di sana dengan cara gantung diri. Mendengar itu, aku pun seakan tak percaya. Selama ini aku tidak pernah mengalami gangguan mistis. Akan tetapi, kenyataan yang aku alami semalam dan tambahan cerita dari Andi membuatku takut setengah mati. Melihatku makin panik, Andi pun berusaha menenangkanku kembali. Dia memberitahuku kalau di perpustakaan ada buku yang bisa mengatasi masalahku ini.

“Kalau enggak salah, judulnya Ghost Disruptions and How to Resolve That, Ran. Oh ya, ada lampu di perpus yang enggak boleh mati. Tempatnya di bawah tangga menuju lantai dua. Katanya sih di situ tuh titik kumpul para dedengkot hantu. Udah enggak usah takut. Asal lampu itu enggak mati, aman kok.” Jelasnya sambil berpamitan mau masuk kelas.

Pesan dari Andi pun kuingat baik-baik. Sepanjang perjalanan aku terus bergumam, ‘jangan matiin lampu tangga… jangan matiin lampu tangga… Ghost Disruptions and How to Resolve That…

Setibanya di perpustakaan, aku langsung menukarkan KTM dengan kunci loker. Pak Waryo yang bertugas di perpustakaan pun tak pernah lelah mengingatkan para mahasiswa kalau perpustakaan aktif sampai jam sembilan malam. Semua mahasiswa selalu membalas peringatan itu dengan senyuman, termasuk aku.

Entah kenapa, aku selalu memilih tempat yang sepi di mana pun aku berada. Apa aku termasuk penyendiri? Entahlah. Yang pasti aku merasa nyaman ketika tak ada keramaian. Tujuan utamaku ke perpustakaan kali ini untuk menyelesaikan tugas dan mencari buku yang diberi tahu Andi. Akan tetapi, karena banyaknya tugas yang harus aku kerjakan, buku tersebut pun belum aku cari. Padahal jam tanganku sudah menampilkan angka 20:00. Artinya, waktuku di perpustakaan tinggal satu jam lagi.

Baru saja aku mau mencari buku tersebut, hape ku berdering. Sebuah pesan masuk dari Andi. Dia menanyakan keadaanku. Senang rasanya punya senior yang perhatian seperti dia. Sebelum mengakhiri percakapan lewat pesan singkat, Andi mengingatkanku untuk segera pulang. Karena buku yang Andi bilang belum aku cari, aku pun memutuskan untuk menetap sampai perpustakaan tutup.

Saking asyiknya mencari, aku tak sadar kalau sebentar lagi perpustakaan tutup. Semua mahasiswa, satu persatu, meninggalkan ruangan. Tanpa memedulikan mereka, aku pun lanjut mencari karena melihat Pak Waryo masih asyik bermain Candy Crush di hape-nya. Terdengar dari suara yang sengaja tidak dia pelankan. Lima menit berselang, tiba-tiba lampu dimatikan. Samar tapi pasti, kulihat Pak Waryo mengunci perpustakaan dan berjalan menuju parkiran. Teriakanku memanggil namanya tak digubris sama sekali.

Kesal rasanya ketika buku yang aku cari sudah ketemu tapi tak ada cahaya untuk membaca buku tersebut. Ditambah lagi, sekarang aku terkunci sendiri di perpustakaan. Di tengah kegelapan, aku berjalan dengan mengandalkan rak-rak buku sebagai acuan. Seperti yang Andi bilang tadi, lampu di tangga menuju lantai dua perpustakaan dan beberapa lampu di sekitar tanggai itu tetap menyala. Penglihatanku pun sedikit terbantu. Belum sampai ke meja, tiba-tiba bukuku terjatuh secara tidak wajar. Seperti ada orang yang sengaja menepaknya. Tanpa basa-basi, aku langsung lari dan mengambil hape di meja.

Tepat tiga meja setelah mejaku, aku melihat ada mahasiswa lain yang terkunci bersamaku. Dia masih sibuk mengetik menggunakan mesin tik. Padamnya lampu tampak tak mengganggunya. Tapi aneh juga pikirku. Kenapa di zaman modern ini masih ada yang menggunakan mesin tik? Tak mau curiga berlebih, aku pun menyapanya.

“Mba, masih sibuk ya?” Tanyaku yang dibalas kebisuan.

“Nanti bareng ya keluarnya, aku coba telepon ke ruangan satpam dulu.” Lanjutku cuek.

Sambil berusaha menghubungi satpam kampus, aku pun memasukkan barang-barang di tas. Ketika kutengok kembali ke arah mahasiswa itu, dia tidak ada. Dan tiba-tiba, dia menaruh wajahnya tepat di depan wajahku. Siapa yang tidak terkejut dengan keadaan seperti itu? Aku pun terjatuh. Mahasiswa tersebut kemudian mundur sambil tertawa ke arah tangga menuju lantai dua dan mematikan lampu. Walaupun tidak terlalu jelas, aku yakin mahasiswa itu adalah kunti yang menggangguku di kosan.

Sadar kalau hapemasih kupegang, aku pun berusaha mencari cara buat menyalakan lampu flash. Saking paniknya, kunyalakan flash tersebut menggunakan fitur perekam video. Setelah ada cahaya, aku pun berjalan ke arah tangga dan menekan saklar lampu yang ada di tembok tepat di sebelah tangga. Lampu pun menyala kembali. Aku terus mengingat pesan Andi dan tidak mau membiarkan lampu tangga ini mati. Berada di dekat lampu tangga membuatku ingat sama Andi. Aku pun langsung menghubunginya.

“Halo, Kak Andi, tolong! Aku takut! Aku kekunci di perpustakaan. Tolo… tut… tut… tut…”

Belum sempat menyelesaikan pembicaraanku, telepon terputus dan lampu tangga lagi-lagi mati. Langsung kunyalakan kembali dan selang beberapa detik mati lagi. Tidak lama setelah kejadian itu, tiba-tiba ada hembusan angin melewati belakang leherku. Sosok wanita paruh baya muncul kemudian.

“Kenapa lampunya dinyalain? Kamu enggak mau kami temani?” Tanya wanita paruh baya itu sambil melayang-layang. Terlihat tali tambang masih melingkar di lehernya.

Teriakanku malah bikin wanita itu makin senang. Dia terus melayang sambil menggumamkan bahasa yang tidak aku mengerti. Aku pun akhirnya tak sadarkan diri.

***

Cahaya putih tiba-tiba menyilaukan penglihatanku. Perlahan tapi pasti, cahaya itu makin terang. Aku pun terbangun. Dan ternyata aku ada di kamar kos. ‘Mimpi. Ini semua hanya mimpi.’ Pikirku berkali-kali tentang kejadian yang aku alami. Akhirnya, pikiranku lebih tenang setelah tahu kalau munculnya kunti dan arwah gentayangan bu dekan hanyalah mimpi semata. Aku pun memperbarui status Facebook-ku tentang mimpi aneh ini. Tak lama kemudian, Andi meneleponku.

“Halo, Ran. Gimana keadaan lo?” Tanyanya polos.

“Baik kok. Cuma agak mimpi buruk aja. Kenapa, Kak?” Jawabku penuh penasaran kenapa Andi perhatian banget.

“Lah, lo enggak ingat apa-apa ya? Semalam, lo pingsan di perpustakaan. Pas lo telepon, suaranya putus-putus. Gua cuma denger pas lo bilang kalau lo masih di perpus. Gua pun langsung balik ke kampus sambil nyamperin Babeh. Pas udah bisa masuk perpus, gua liat lo udah terkapar. Gua sama Babeh langsung gotong lo ke mobil. Terus kita berdua bawa lo ke kosan. Setelah jelasin sedikit, si Ibu bantuin bawa lo masuk ke kamar. Ngeliat napas lo udah mulai teratur, gua, si Ibu, dan Babeh pun cabut. Oh ya, sebelum hape lo mati di perpus, gua liat lo masih ngerekam video. Emang lo ngerekam apaan sih?”

Pejelasan panjang lebar dari Andi kembali membuatku lemas. Tanpa menjawabnya, kumatikan telepon itu. Semua kejadian yang aku alami ternyata benar. Bukan mimpi. Bukan cuma khayalanku. Si kunti dan arwah bu dekan benar-benar menghampiriku. Apa salahku sampai harus mengalami kejadian ini? Pertanyaan itu pun aku rasa cuma aku yang bisa jawab. Aku terus mengatur napas biar pikiranku lebih tenang.

Penasaran dengan yang diceritakan Andi, kuaktifkan lagi hape lalu kubuka galeri video. Melihat apa yang aku rekam semalam, aku makin stres dan gagal menenangkan diri. Di video yang aku rekam, si kunti jahil yang menggungguku semalam dengan asyiknya menari seakan tahu ada kamera yang mengarah kepadanya. Baru lihat lima detik, hape langsung kulempar ke luar jendela. Kemudian aku lari ke tempat si ibu dan menceritakan kejadian yang aku alami. Sebelum bilang kalau aku tidak mau melanjutkan sewa kamar di tempat si Ibu, aku meminjam teleponnya buat menghubungi orangtuaku.

“Ibuuuu! Aku mau pulang aja. Aku enggak kuat. Aku enggak mau yang aneh-aneh. Aku cuma mau ibu jemput aku di kosan. Kondisi aku enggak memungkinkan buat nyetir,” jelasku seadanya.

Setelah kejadian itu, aku pun memutuskan untuk pulang-pergi ke kampus dari rumah. Tak masalah meski harus menempuh jarak yang jauh. Keinginanku hanya satu, kenyamanan. Hal lain yang aku pelajari dari kejadian tersebut adalah tentang makhluk halus. Mereka nyata. Mereka juga mau dianggap dan dihormati. Sejak saat itu lah aku lebih berhati-hati tiap kali datang ke tempat baru. Ada atau tidak ada orang, aku selalu bilang permisi dan mengucapkan salam.