Cerita Gue   

Sambutan Unik Penghuni Pulau Karya

 
Penulis
Olive Khalifah
26 April 2016

Cerita ini bermula dari lima anak muda (sok) pemberani yang sepakat memutuskan untuk pergi piknik disebuah pulau tak berpenghuni. Ide tersebut tercetus dari salah seorang pemuda bernama, Prasetyo.

“Ka, piknik yuk? Jangan wacana tapinya,” ajak Setyo kepada salah seorang senior di kampus yang memang dekat dengannya.

“Kemana? Pulau aja yuk?” Usulku buat yang lain.

“Boleh, tapi camping yak? Kapan lagi ajak princesscamping di pulau. Seru loh ka. Lo harus rasain sensasinya.”

“Hmm, camping banget? Oke deh. Ajak yang lain ya biar ramai. Gua ajak Maria”.

“Oke ka, gua ajak Ana dan Fadil juga deh ya.”

Tak banyak persiapan karena segalanya sudah dipersiapkan oleh Setyo dan Ana yang memang sering melakukan hobi naik gunung. Jadi, perlengkapan seperti tenda dan yang lainnya bukan perkara sulit untuk mereka persiapkan. Akan tetapi, kami masih bingung mau pergi ke pulau apa dan di mana karena tidak semua pulau bisa digunakan buat camping. Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang dan melelahkan, Setyo menemukan sebuah pulau yang berhasil dicarinya dari mbahgoogle. Pulau tersebut letaknya tidak jauh dari Pulau Pramuka. Hanya butuh 20 menit untuk bisa sampai ke pulau tersebut. Salah satu blog yang kami baca menjelaskan tentang keadaan pulau tersebut. Dalam tulisan tersebut dituliskan kalau pulau tersebut sangat cocok buat siapapun yang hobi camping. Selain itu, pulau ini juga cocok buat orang yang ingin memacu adrenalin karena di pulau tersebut memang sudah disediakan spot khusus untuk camping. Hanya saja dipulau tersebut tidak berpenghuni, hanya ada satu kantor polisi dan toilet. Lanjutnya lagi, sang penulis juga mengatakan bahwa disebelah Barat tempat camping adalah Tempat Pemakaman Umum.

Hal tersebut sontak membuat Maria kalang kabut setelah mendengar penjelasan dari Setyo. Di antara kami berlima memang Maria yang paling penakut. Akan tetapi sudah tidak ada waktu lagi untuk berkata “tidak”, pasalnya semua sudah siap dan esok pagi kami semua siap untuk berpetualang.

Keesokan harinya kami berlima berangkat pukul 05:30 WIB dengan kereta menuju stasiun Kota, kemudian melanjutkan dengan BBG menuju dermaga. Sesampainya di dermaga, kami naik speedboat menuju Pulau Pramuka. Setelah beberapa kali transit di beberapa pulau, sampailah kami di Pulau Pramuka. Sesampainya di sana kami menaiki kapal kecil yang biasa digunakan sebagai sarana transportasi antar pulau. Ada sedikit percakapan menarik antara aku dengan salah seorang peduduk yang ingin menyebrang ke pulau panggang.

“Mau camping ya dek?”, tanya ibu berkerudung merah kepadaku saat melihat tas gunung super besar yang ada di pundak.

“Iya, bu,” jawabku seraya tersenyum.

“Mau camping dimana dek?” tanyanya lagi.

“Di pulau Karya, bu,” jawabku masih dengan tersenyum.

Mendadak raut wajah ibu berkerudung merah tersebut berubah pucat pasi. Sambil melirik kearah teman disebelahnya seakan memberikan isyarat.

“Hati-hati ya, dek.”

“Loh? Emangnya kenapa ya, bu? Kok hati-hati?” Aku mendadak penasaran sambil saling tengok dengan Fadil, Setyo, Ana, dan Maria.

“Ya, enggak apa-apa sih. Kan kita memang harus selalu hati-hati. Hehehehe.” Jawab si ibu yang kemudian dibarengi dengan senyum lalu pamit karena pulau yang ia tuju sudah dekat.

Aku dan yang lain pun kadung merasa aneh dengan percakapan singkat barusan. Namun, karena aku ingin bersenang-senang, pikiran itupun aku buang jauh-jauh. Aku, Maria dan ketiga juniorku sepakat untuk berlibur tanpa ada embel-embel pikiran aneh. Selang beberapa menit tibalah kami berlima ditempat tujuan. Kami disambut hembusan angin yang menyibak helaian rambut serta gradasi air laut yang memesona. ‘Ahhh inikah yang dinamakan surga dunia?’ Ucapku dalam hati.

Tak sampai di situ, kami juga disambut beberapa mahasiswa yang sedang melakukan penelitian terhadap pulau tersebut. Entah dari kampus mana, mereka berbaik hati menyarankan kami agar melapor terlebih dahulu ke kantor polisi sebelum berkemah. Namun, belum sampai kami menuju kantor polisi, kami sudah dihadang oleh seorang laki-laki paruh baya. Tak nampak senyum ramah dari rautnya. Aku sudah bisa menduga bahwa kehadiran kami tak diinginkannya.

“Kalian sini dulu deh. Mau pada ke mana? Mau ngapain di sini?” Tanya orang tua itu secara bertubi.

“Begini pak, kita semua cuma mau camping kok dan enggak ada niat aneh-aneh,” jawab Ana pelan.

“Kalian berapa orang? Mau sampai kapan di sini?”

“Kami berlima, pak. Rencananya sih tiga hari dua malam,” jawabku.

“Wih!! Banyak juga ya kalian berlima. Kebanyakan nih kalo mau camping berlima. Kelamaan juga sampai tiga hari begitu,” ketusnya.

Selang beberapa lama kami berunding dengan bapak paruh baya tersebut, ada suara memanggil kami dari kantor polisi.

“Kalian! Kemari dulu!” Seorang petugas ke luar pos polisi seraya mengajak kami semua untuk masuk ke dalam.

Kami pun bergegas menuju ke pos tersebut. Petugas itu kelihatannya ramah dan baik. Berbeda dengan pria paruh baya yang barusan kami temui. Dari jauh, aku bisa melihat perawakannya yang tinggi. Tapi tunggu, ada sesuatu yang janggal. Kemana perginya bapak paruh baya tersebut? Entahlah. Aku hanya tidak ingin membesarkan masalah. Hilangnya bapak paruh baya tersebut ternyata disadari juga oleh Fadil.

“Ka, bapak-bapak yang barusan kemana ya? Kita cuma nengok bentar doang kok uda ilang?” Tanya Fadil penasaran.

“Lah iya. Kemana tuh bapak, Live?” Tambah Maria.

“Kebelet pipis mungkin bapaknya, makanya buru-buru cabut doi. Bisa jadi bapak itu punya ilmu sirep,” jawabku asal.

Akhirnya kami menuju kantor polisi. Kami juga disambut baik oleh bapak polisi yang ternyata bertempat tinggal di Bekasi. Beliau menunjukkan di mana tempat yang bisa kami gunakan untuk camping. Lalu dia meminta kami agar enggak sungkan datang ke kantor polisi bila butuh bantuan atau terjadi sesuatu. Kami sempat bertanya kepada pak polisi tentang pria paruh baya yang menyapa kami.

“Bapak-bapak? Siapa ya? Saya enggak lihat ada orang lain selain kalian yang datang. Dipulau ini cuma ada saya dan satu rekan saya. Sama beberapa mahasiswa yang kalian juga lihat sendiri kan? Tapi mereka cuma singgah sebentar, nanti juga pergi. Dan ada sepasang suami istri. Mereka bertugas untuk memasak dan memberi makan para tahanan di sini. Suaminya juga belum tua kok. Ah! Mungkin warga Pulau Panggang yang sedang singgah. Udah enggak usah terlalu dipikirin. Selamat camping ya, jangan aneh-aneh. Kalo kalian sampai tertangkap sama saya, butuh waktu tiga bulan dulu baru bisa keluar dari Pulau Karya ini. Selama tiga bulan kalian akan berada di sel tahanan bersama delapan mahasiswa lainnya yang apes tertangkap basah sedang pakai narkoba. Okay?”

“Okay, pak! Siap!” Jawab kami kompak.

Kemudian kami menuju tempat camping yang sebelumnya sudah diarahkan oleh pak polisi. Kami melewati jalan setapak dengan pemandangan di sisi kanan adalah pantai yang membentang indah serta nampak bintang laut dengan ikan-ikan lucu yang berenang bebas. Lalu di sisi kiri pun tak ada yang janggal, hanya beberapa lampu jalan untuk menerangi jalan setapak ketika petang mulai tiba. Pepohonan yang tinggi menjulang rindang disertai kicauan burung sesekali singgah dipinggiran jalan setapak. Hingga kami menyadari bahwa bukan hanya pepohonan hijau yang menghiasi sisi kiri jalan, tetapi terdapat pula beberapa makam. Sepertinya makam ulama. Begitulah penjelaasan ala Setyo perihal makam apa yang berada di sisi kiri jalan ketika Ana bertanya padanya.

Sekitar kurang lebih 10 menit, kami puntiba di tempat camping. Sepi dan teduh. Itulah dua kata yang menggambarkan keadaan tempat ini. Karena memang aku merasa seperti kami berlima sedang terdampar disebuah pulau tak berpenghuni. Hanya ada gazebo, tenda besar bekas posko yang tak dirapikan dan tiga toilet tak berfungsi. Semuanya sangat tak terawat dan kotor. Jika kami ingin ke toilet, kami perlu berjalan sekitar 50 meter menuju toilet dengan kondisi gelap tanpa lampu, banyak nyamuk dan air yang sedikit berbau. Percayalah, air tersebut tidak layak digunakan untuk sikat gigi. Dekat toilet ada sebuah gubuk. Mungkin gubuk kecil ini adalah tempat di mana pasangan suami istri yang dimaksud pak polisi tadi tinggal.

Setyo dan Fadil segera membuat tenda. Sedangkan aku, Maria dan Ana masak untuk menu makan siang. Ini pertama kalinya aku camping. Sangat excited dan menyenangkan ternyata rasanya. Tidak kalah dari menginap di home stay. Setalah makan siang, saya dan Ana merasa agak lelah dan mengantuk, jadilah kami berdua masuk ke dalam tenda dan tidur siang. Setyo dan Maria berjalan-jalan keliling pulau dan Fadil sudah pulas tertidur di Gazebo yang kebetulan terdapat sofa setengah rusak.

Saat tidur, aku merasa ada yang aneh. Beberapa kali terbangun dari tidur, tetapi ketika membuka mata, aku tidak bisa beranjak bangun meski hanya duduk. Begitu seterusnya sampai aku sadari bahwa Ana sudah pindah posisi tidur. Ana yang tadinya berada sejajar denganku, kini kepalanya sudah berada tepat di kakiku dan kakinya tepat di samping kepalaku. Entah bagaimana caranya Ana berputar saat tertidur pulas dan aku sama sekali tidak menyadarinya. Bukan hanya itu, masih dengan keadaan yang tidak bisa beranjak bangun, aku mendengar bahwa Ana berbicara dalam tidurnya. Iya, Ana mengigau. Entah apa yang ada dalam mimpinya. Namun, melihat Ana tertidur dengan setengah mata terbuka sambil mengigau, membuatku sedikit takut. Aku merasa ada yang tak beres denganku dan Ana. Aku berusaha menggapai handphone dalam tasku, tetapi tubuhku kaku seperti membeku. Aku terus memaksa tubuhku untuk bangkit, tetapi tetap tidak bisa. Seperti ada yang menahanku untuk tidak beranjak. Aku pasrah. Aku memilih untuk tetap berada di tenda dengan Ana dan menunggu yang lainnya kembali. Kemudian doaku dijabah, selang beberapa menit Setyo dan Maria datang,

“Bangun woi! Bangun! Piknik apa pindah tidur?” Ucap Setyo sambil bergurau.

“Lo harus liat ya Live, ini pulau beneran cuma kita doang isinya dan enggak jauh dari tempat kita, beneran kuburan, Live. Cepetan bangun dan lo harus liat!” Cerocos Maria yang memang suaranya bak toa Masjid.

“Iya, ini juga udah bangun kali daritadi. Cuma enggak bisa bangun. Enggak tau kenapa. Eh, tapi gua lebih tertarik naik ke atas menara sih daripada liat kuburan,” teriakku dari dalam tenda.

Ajaibnya, kedatangan mereka membuatku mampu beranjak dari posisi tidur. Aku duduk di samping Ana yang masih tertidur dan membangunkannya karena hari sudah hampir petang. Ketika aku bertanya bagaimana keadaan Ana, dia hanya diam lalu menjawab bahwa dia baik-baik saja dan tidak sedang bermimpi apa-apa ketika tidur barusan, dia hanya merasa bahwa seperti ada sesuatu yang menahannya untuk tidak membuka mata dan bangun dari tidurnya. Sampai akhirnya suaraku yang mengantarnya bangun dari tidur. Aku dan Ana berusaha menjelaskan kepada yang lainnya perihal apa yang terjadi dengan kami. Namun, hal itu tak digubris. Setyo dan Maria menganggap bahwa itu hanyalah alasan belaka agar kami bisa tidur siang lebih lama.

Senja berganti malam, teja pun perlahan menghilang. Keadaan berubah menjadi gelap gulita karena tak ada penerangan di sekitar tempat kami camping. Aku berinisiatif untuk membuat api unggun. Fadil dan Setyo juga membantuku. Keadaan sudah tak terlalu mencekam setelah api unggun menyala terang. Setelah itu, kami berlima makan malam di dalam satu tenda, semua tampak baik-baik saja awalnya. Kami bersenda gurau sambil menikmati pasta super pedas buatan Ana. Sampai aku merasa seperti ada yang meraba pahaku dari luar tenda. Reflex aku menepisnya cepat, namun aku pikir hanya kucing yang sengaja mampir ke tenda kami untuk sebuah tulang atau sesuap makanan. Aku berusaha untuk tidak ambil pusing. Aku tersedak, karena untuk kali kedua aku merasakan lagi seperti ada seseorang yang meraba pahaku, tiga kali, empat kali dan yang kelima aku merasa seperti ada yang memegang pahaku, bukan lagi meraba. Kali ini aku merasa sudah benar ada yang tak beres. Rupanya gerak-gerikku diperhatikan oleh Setyo dan Ana. Mereka saling melempar pandang dan merasa ada yang tak beres. Ketika kutengok ke luar, angin besar mematikan api unggun dalam sekejap. Suasana kembali tegang karena keadaan menjadi gelap gulita. Maria berusaha menyalakan flashlight handphone-nya sembari membantu Fadil dan Setyo mencari senter. Aku masih bingung memperhatikan Setyo yang buru-buru merapikan tendanya dibantu Fadil, lalu Ana yang tiba-tiba sibuk merapikan perlengkapan makan.

“Kita mau kemana? Kok beres-beres?” Tanyaku sambil memasang muka penuh kebingungan.

“Cabut, ka! Cabut! Buruan ka rapihin barang-barang lo jangan ada yang ketinggalan. Biar gua sama Fadil yang beresin tenda,” jawab Setyo terburu-buru.

Masih dengan keadaan bingung, aku memilih untuk menuruti apa yang diperintahkan Setyo. Selesai merapikan barang-barang pribadiku, aku membantu untuk memegangi senter biar mempermudah Setyo dalam merapikan barang-barang kita. Aku penasaran. Tangan kiriku memegang senter, tangan kananku memegang handphone dengan flashlight menyala. Kusoroti pohon satu persatu. Tampak tak ada yang aneh, masih dengan angin yang bertiup lumayan kencang, kudapati beberapa sosok samar seakan berlari. Bulu leherku berdiri otomatis. Masih penasaran, aku soroti poho-pohon tinggi di sekitarku, membuat angin bertiup semakin kuat dan membuatku terbatuk berkali-kali. Dingin. Setelah semuanya rapi dan memastikan bahwa tak ada yang tertinggal. Kami sepakat untuk menuju kantor polisi dan menceritakan keadaan yang terjadi. Aku berniat untuk menyimpan semua yang aku lihat dan rasakan sendiri. Sampai ketika pak polisi bertanya apa yang terjadi, dengan semangat Setyo bercerita.

“Saya dengar kayak ada suara cewek nangis, Pak. Saya berusaha buat cuek awalnya. Eh tapi Ana dan Fadil juga dengar. Suaranya semakin jelas dan semakin deket gitu pak kita dengernya. Saya masih mau bertahan sebenarnya. Cuma saya liat ka Olive sibuk nabok-nabokin pahanya. Dari situ saya mutusin buat cabut dan gak mau ambil resiko lebih,” cerocos Setyo.

“Iya, Pak. Saya dengar juga suara tangisan itu. Waktu saya nengok tuh kaya ada orang lari-lari pakai baju putih. Saya liat terus tuh, Pak. Eh, angin makin gede sampai matahin kerangka tenda,” tambah Fadil.

“Saya sih dari awal enggak ngerasain yang aneh-aneh, pak. Tapi tadi pas lagi makan di tenda tuh saya ngerasa kaya pinggang saya lagi ditusuk-tusuk dari luar tenda pak. Sekali dua kali saya cuekin tuh, eh tapi makin kerasa tusukannya dan jadi agak sakit. Jadi yaudah deh saya setuju pas Setyo mutusin buat ke sini”, lanjut Maria.

Aku dan Ana juga menceritakan hal serupa, semua yang kami alami dari menginjakkan kaki di pulau ini sampai tragedi makan malam yang baru saja terjadi. Pak polisi terlihat mendengarkan cerita kami dengan seksama tanpa menyela sekalipun. Ketika kami selesai bercerita, pak polisi memberi penjelasan yang cukup menbelalakkan mataku.

“Jadi gini adik-adik, sudah tahu kan sebelumnya kalau di sebelah barat tempat kalian bikin tenda itu ada TPU? Tempat itu enggak jauh dan benar-benar persis di samping kalian. Pulau ini kecil, jadi enggak butuh waktu lama buat keliling, begitu juga jarak antara pemakaman dan tenda yang kalian bangun. Setiap ada warga yang meninggal dari sekitaran Pulau Karya, akan dimakamkan di sini. Warga dari pulau lainpun sebenarnya enggak ada yang berani untuk datang ke Karya kalau sudah lewat jam 5 sore, begitupun ibu dan bapak yang masak untuk tahanan. Mereka berdua kalau sudah jam 5 cuma di rumah aja, enggak akan keluar lagi kecuali ke toilet. Tadinya pulau ini baik-baik aja, sampai pada suatu ketika ada warga negara asing yang berkebangsaan Nigeria, dieksekusi mati persis dibelakang kantor polisi. Enggak cuma sekali sekali sih. Beberapa kali kami pernah mengeksekusi mati WNA. Mungkin yang raba-raba paha kamu itu si bule Niger. Hahaha!” Jelas pak polisi yang diakhiri tawa untuk mencairkan suasana.

Selama beberapa menit, kami berlima hanya khusyuk mendengarkan cerita pak polisi dan saling melempar pandangan satu sama lain. Atas kemurahan hati bapak polisi tersebut, kami berlima dipersilahkan untuk menginap di kantor polisi sampai esok pagi. Beliau memberikan kami satu kamar dengan sebuah kasur ukuran besar tanpa seprai. Beruntunglah aku sudah sangat prepare membawa seprai dan bedcover. Beliau juga menyarankan agar besok pukul 7 pagi menunggu kapal untuk menuju pulau lain yang lebih layak dijadikan tempat berkemah. Karena percayalah, Pulau Karya hanya untuk singgah sebentar dan bermain, bukan untuk bermalam. Pulau Karya memang mampu menghipnotis siapapun yang datang. Gradasi air yang biru kehijauan sangat teduh dipandang mata. Di pinggiran pantai, terdapat batang pohon besar serta pohon rindang yang rendah untuk kita duduk dan berfoto.

Keesokkan harinya kami berlima tak habis mengucapan terima kasih kepada pak polisi yang mau menampung kami dengan ikhlas. FYI, kami barter menginap dengan kopi dan sosis. Di dermaga, kami menunggu kapal datang untuk mengantar kami kembali menuju Pulau Pramuka. Kami memutuskan untuk melanjutkan camping di Pulau Pari. Terima kasih pak polisi. Kapan lagi kan aku dan kawan-kawan bisa menginap di kantor polisi tanpa berbuat salah atau hal kriminal lainnya. Terima kasih satu orang tahanan tampan yang mampu membuatku tersipu malu saat ingin meminjam sapu. Terima kasih ibu baik hati yang bersedia menyeberang ke Pulau Panggang untuk membelikan kami segalon air bersih meski dengan harga Rp50.000. Terima kasih para “penghuni” Pulau Karya atas sambutan istimewanya. Terima kasih bapak galak yang sampai sekarang masih tidak kami ketahui keberadaannya dan terima kasih Pulau Karya untuk pengalaman yang tak akan pernah aku lupa. Suatu saat aku akan kembali mengunjungimu lagi, pasti.