Cerita Gue   

Nona Belanda

 
 
Sayekti Novitasari
29 April 2016

Siang itu gumpalan awan kelabu menyelimuti langit, menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Aku dan teman-teman berkumpul di bangsal untuk membicarakan petunjuk teknis acara Pelantikan Anggota Baru PMR. Setelah diputuskan, sore itu juga tepat pukul 5 kami anggota PMR berkumpul di sekolah.

Di saat rintik hujan mengguyur tubuh, panitia PAB mengecek barang-barang yang harus kami bawa dan salah satunya sebuah kalung yang terbuat dari bawang merah yang diapit oleh dua siung bawang putih. Tubuh kami pun tercium seperti bau bawang yang kami pakai. Selama kegiatan ini berlangsung, kami harus memakainya.

Hari pun semakin gelap, tepat pukul 19:30 kami berangkat menuju Pemakaman Kuncen, kurang lebih 5 km dari tempat kami berkumpul. Kami semua berjalan kaki.

“Aku kedinginan nii..” Mas Fajar berkata padaku.

“Kenapa dingin, kan sudah pakai jaket?” Jawabku.

“Jaketku basah nih! Demi kalian tau!” Katanya sambil menunjuk jaketnya

“Oiya, widiihhh hebat!“ Sembari kusentuh jaketnya “Aku malah kepanasan, Mas,” kataku padanya sambil melepas jaket putihku.

“Sini aku bawain, aku aja yang pakai ya?” Dia berkata dengan lembut.

Pukul 9 malam kami tiba di Masjid Kuncen yang berada di sebelah timur pemakaman. Sampai di sana kami berbincang-bincang dan akhirnya tertidur.

***

Tepat tengah malam kami dibangunkan oleh kakak panitia PAB. Setelah bangun dan mencuci muka, namaku dipanggil.

“Ayik!” Mas Naufal memanggilku.

“Kenapa, Mas?” Tanyaku sambil mengusap mata yang masih sedikit berat untuk kubuka.

“Aku tunjukkin jalannya, kamu yang pertama masuk ya?” Katanya.

Beberapa saat aku melongo kayak orang bego.

“Haa…? Jalan apa? Masuknya sendirian, Mas?” Tanyaku masih dengan tampang bego.

“Iya. Nih ya.. jalannya itu lurus ,mentok, ada lilin di ujung, terus belok kiri, terus ada lilin belok kanan,” terangnya padaku.

Aku langsung berjalan sambil memasukkan tanganku ke dalam saku jaket. Di kesunyian malam, angin bertiup dan menggerakan ranting pepohonan yang ada di pemakaman itu. Di sepanjang jalan, nyala lilin, cahaya rembulan, serta ratusan makam menemani perjalananku. Hingga di tengah perjalanan kudengar suara embikan kambing. ‘Apa ada hantu kambing di sini?’ Suasana yang cukup mencekam seketika membuatku tertawa sendiri di tengah-tengah pemakaman.

Akhirnya aku tiba di Pos 1 yang dijaga oleh enam kakak kelas.

“Lapor! Saya Ayik dari X-8 siap mengerjakan tugas dari kakak!”

“Ya, laporan saya terima. Tugas kamu di sini gampang kok. Nih, tebak nama kita yang jaga di Pos ini!” Perintah Mas Fajar padaku

“Hmmm.. Ini Mas Fajar, Mbak Wuri, Mas Ical terusss,, yang sisanya …” Jawabku sambil berusaha mengingat.

“Kamu takut enggak sih dek?” Seorang kakak perempuan yang tak kutahu namanya bertanya padaku.

“Enggak kok, Mbak”

“Ingat enggak?” tanya Mas Fajar padaku.

“Enggak,” jawabku yang terus mengingat.

“Hukum aja ah.. Kamu ke ujung jalan sana sambil ngingat nama kita ya. Jangan jauh-jauh.” Kata Mas Fajar sambil tertawa puas.

Kulangkahkan kaki menuju jalan itu sambil berusaha mengingat nama mereka. Hingga di ujung jalan kulihat bangunan seperti lorong. Di sana sepintas terlihat sosok gadis menggunakan gaun pengantin berwarna putih seperti yang sering digunakan orang Belanda di foto-foto sejarah. Kupejamkan mataku untuk sesaat dan kubuka kembali untuk memastikan apa yang kulihat itu benar atau hanya halusinasiku saja. Ketika kubuka mata, tak terlihat apapun, terus kupikirkan apa yang kulihat dan kuputuskan untuk menganggap yang aku lihat tadi hanya sebuah tugu “itu tugu,Yik, cuma tugu..” Kataku untuk menenangkan diri.

Beberapa saat kemudian Mas Ical mengampiriku,

“Gimana, Dek, udah ingat belum?” Tanyanya padaku sambil menerangi jalan dengan senter

“Belum, Mas. Aku benar-benar nggak ingat,” jawabku sambil memukuli kepala karena tak kunjung ingat.

“Ya udah, aku kasih tahu ya, kamu jawab aja salah satu dari mereka ada Mbak Herlin,” kata Mas Ical yang mencoba membantuku.

Kami pun berjalan kembali ke Pos 1

“Gimana, udah ingat?” tanya Mas Fajar

“Belum,Mas,” jawabku jujur. Aku tak ingin menjawab dengan bocoran dari Mas Ical

“Ya udah, kamu lanjut ke Pos 2 aja,” kata mbak Wuri yang menunjukkan jalan. Tiba-tiba seekor anjing berlari seakan ketakutan melihat sesuatu, sontak kami pun menjerit. Jantungku Masih berdebar-debar.

***

Lilin-lilin yang diletakkan di samping makam satu persatu padam tertiup angin, kulihat bapak tua menyalakan lilin-lilin itu, aku beruntung ada bapak baik itu. Ternyata bapak itu sedang mengumpulkan bunga kamboja yang ia masukan di karung yang ia bawa. Di jalan selanjutnya aku tersesat, tak ada satupun lilin petunjuk, akupun segera kembali ke jalan yang tadi. Tak kusangka Mas Ical menyusulku.

“Kok nyasar?” tanyanya.

“Lilinnya mati Mas, aku gak lihat.” Jawabku

“Aku tadi merhatiin kamu kok nggak belok, ya aku susulin,” katanya sambil menunjukkan arah

“Hehe.. makasih ya,Mas,” ucapku.

Sesampainya di Pos 2, aku hanya ditanyai tentang P3K, beberapa saat kemudian Andy datang, Mbak Feby pun menunjukkan arah ke Pos 3 yang tak jauh dari sana. Aku pun bergegas menuju Pos terakhir itu.

Sesampainya di jalan yang sedikit berkelok itu, kucium wangi kemenyan dan bunga. Dari situlah bahu kiriku seperti dilempar batu besar dan menempel di bahuku. Bahuku terasa berat dan ngilu. Kuhiraukan berat dipundakku, kulangkahkan kaki menuju Pos 3. Sampai di sana, kulihat tiga orang lelaki duduk di pinggir nisan.

“Lapor, saya Ayik dari X-8 siap mengerjakan tugas” kataku pada ketiga kakak pembimbing.

“Gimana Mas Bangkit?” tanya Mas Abas. Mas Bangkit hanya menganggukkan kepala.

“Ya, laporan diterima. Kamu takut nggak?” tanya Mas Abas.

“Enggak,Mas,” jawabku sambil menyembunyikan kedua tangan di saku jaket karena kedinginan.

“Kalau kamu benaran nggak takut, silahkan baca nama dan tanggal meninggal di kuburan itu!” Perintah Mas Abas sambil menunjuk ke sebuah makam baru dengan cahaya senternya.

Aku pun berjalan ke arah makam baru itu, kupikir makam itu hanyalah makam buatan untuk acara ini. Ternyata aku salah! Itu makam asli! Beliau baru dimakamkan tadi sore. Aku pun segera mencatat data dari nisan itu “Bpk. R. Sapto, HS, HA. Meninggal 17 Januari 2014” segera aku kembali ke Mas Abas untuk melapor.

Tugas berikutnya pun menanti

“Kamu lihat pohon besar itu?” kata Mas Bangkit sambil menunjukkan sebuah pohon dengan cahaya senternya.

“Oh, yang itu ya?”

“Kamu nyanyi lagu Indonesia Raya sekeras mungkin sampai saya mendengarnya,” lanjut Mas Bangkit.

“Iya Mas. hmmm… jalannya?” tanyaku sambil memilih jalan

“Terserah mau lewat mana, yang penting jangan menginjak makam,” pesan Mas Bangkit

Akupun berjalan menuju pohon besar itu. Sesampainya di sana aku menyanyikan lagu Indonesia Raya sekeras mungkin dan sialnya aku salah mengambil nada. Keras, mantap, dan fals yang kudengar dari suaraku. Malu banget. Kasihan juga para penunggu pemakaman yang mendengar suaraku.

***

Andy pun datang, ia juga mendapat tugas yang sama sepertiku, membaca data dari makam baru itu. Aku menghadap kepada Mas Wahyu, ia memberikanku tugas yang begitu konyol.

“Kamu lihat di ujung sana ada jalan masuk? Nah, kamu masuk ke sana terus hitung berapa jumlah makam yang ada di sana.”

“Iya,Mas.” Aku pun ke sana untuk segera menyelesaikan tugasku ini.

Kuhitung jumlah makam di sana. Setelah itu aku kembali, kulihat Andy mendapat tugas yang cukup berat, yaitu tidur di sebelah makam yang baru itu. Aku terus berpikir, apa yang Andy rasakan ya? Bagaimana jika tiba-tiba sebuah tangan keluar dari kuburan itu dan memeluk Andy atau bagaimana jika tiba-tiba ada sosok manusia berbaju putih yang menemani tidur di sebelahnya? Ah…. Kubuang jauh-jauh khayalan konyolku itu.

“Di sebelah barat ada satu makam ubin putih, sebelah timur ada lima makam kecil sama satu makam besar ubin hitam,” laporku pada Mas Wahyu.

“Oke.. sekarang kamu cari bunga kamboja berkelopak empat sebanyak dua puluh” kata Mas Wahyu.

Kulangkahkan kaki untuk mencari kamboja itu, kujelajahi area pemakaman ini, terasa ada sesuatu yang mengganjal tapi entah apa. Lama kucari tapi tak kunjung kudapatkan. Hingga teman-temanku yang lain mulai berdatangan. Banyak yang menangis ketakutan karena tugas yang diberikan. Ketiga pembimbingku memulai skenario mereka yang marah-marah tak jelas untuk mengetes mental kami. Di sana tak ada lilin hanya ada rembulan yang menerangi jalanku namun saat kucari bunga itu aku tak melihat ada lubang dan akhirnya kakiku terperosok. Seakan ada yang menarik kakiku. Segera kuangkat kakiku dari lubang itu. Perih pun langsung terasa saat kuangkat kaki iniTampaknya kakiku lecet.

Lelah aku mencari, kubuka hape lalu kulihat google. Setelah kumasukkan kata kuncir “jumlah kelopak kamboja” hasilnya selalu berjumlah lima. Ya Tuhan, bodohnya aku.Kenapa nggak dari tadi tanya mbah google aja sih. Aku langsung mengambil bunga-bunga kamboja yang bisa aku dapatkan dan akhirnya hanya 19 bunga yang kudapat.

“Hey, kamu yang cari bunga, ada di mana? Udah dapat berapa?” Tanya Mas Wahyu.

“Di sini,Mas,” kulambaikan tangan sambil memegang HP yang sedang menyala.

“Baru dapat 19, Mas,” lanjutku.

“Ya udah ke sini!”

Kulangkahkan kakiku menuju tempat Mas Wahyu berada.

“Ini Mas, cuma 19,” kataku.

“Yah kamu ini gimana, kan kamboja kelopaknya selalu lima,” jelasnya sambil mentertawaiku.

Aku hanya tersenyum kecil.

“Sekarang kamu bawa bunga ini ke makam yang di ujung sana terus kamu doain,” kata Mas Wahyu.

Aku beranjak dari tempat itu, kulangkahkan kakiku menuju makam di ujung jalan. Aku berhenti di samping makam besar berubin hitam, tak terasa air mata membasahi wajahku. Terbayang wajah ibu dan nenekku, saat itu aku teringat bagaimana kasih sayang yang mereka curahkan. Tak terbayang jika suatu saat nanti mereka berbaring di bawah batu nisan dan aku hanya bisa menatap nisan mereka.

Setelah selesai kupanjatkan doa, kulangkahkan kaki dan kembali ke tempat Mas Bangkit. Tepat pukul 01:30 tugasku pun selesai. Kulihat Andy Masih berbaring di sebelah makam itu. Aku keluar menuju gerbang utara, entah mengapa setelah melewati gerbang itu beban di bahu kiriku sedikit berkurang. Aneh.

***

Dua hari telah berlalu, malam itu aku berada di sebuah tempat yang gelap, ternyata tempat itu adalah sekolahku. Kulihat Ibu Lilis guru Bahasa Indonesiaku diikuti oleh sosok lelaki berbaju merah, dan ia adalah hantu. Sialnya, hantu itu melihatku dan naksir denganku. Seketika aku terbangun,ternyata itu hanya mimpi. Kulihat adikku tidur di sebelahku, tumben. Kuraba dia untuk memastikan apa dia benar adikku atau hanya bantal.

Pagi harinya saat bersiap ke sekolah aku berbincang-bincang dengan adik dan ibuku.

“Dek, ngapain kok semalam tidur sama aku?” Tanyaku penasaran.

Hiii.. siapa juga yang tidur sama kamu, aku tidur sama ibu kok.” Jawabnya sambil mengenakan sepatu

“Bohong!” kataku padanya. Karena penasaran, aku pun bertanya pada ibuku, “Bu, semalam adik tidur di sebelahku kan?”

“Enggak, adik tidur sama ibu,” tegas ibuku.

Sontak jawaban itu membuatku semakin penasaran. Dalam hati aku bergumam, ‘siapa yang tidur di sebelahku se malam?’ Setelah kuingat-ingat, apa aku termakan oleh omonganku sendiri? Sebelum berangkat ke pemakaman, aku berkata pada teman-temanku, “mumpung jomblo, aku mau cari pacar di kuburan.” Sial, mungkin itu yang membuatku jadi sedikit gila seperti ini. Setiap malam, tepatnya tengah malam, aku selalu terbangun, seakan ada suara yang membangunkanku dari tidur.

Sore itu aku mengerjakan tugas matematika sambil tiduran di kamar. Seketika udara di kamarku menjadi dingin, gantungan kerangku juga bergoyang-goyang sendiri. Saat kuabaikan itu, bahu kiriku terasa ditimpa oleh benda yang berat. Kutengok bahuku tapi tak ada apa-apa. Aku segera keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk membuat the. Di pintu dapur, aku mencium bau yang sama seperti di pemakaman kemarin.

Hari demi hari aku semakin yakin ada yang tidak beres. Kuceritakan kejanggalan ini pada Mas Fajar dan ia pun menceritakan kepada temannya. Mbak Rey, kakak kelas yang memiliki indera keenam. Dia melihat banyak setan yang menempel di pundakku. Enggak cuma satu, tapi delapan. Sial banget kan?

Tak pernah kuceritakan masalah ini pada orangtuaku. Setiap hari aku selalu dihantui oleh sosok Nona Belanda seperti yang kulihat di pemakaman waktu itu. Hingga akhirnya pihak sekolah mengetahui permasalahanku dan merasa bertanggungjawab karena masalah ini bermula dari kegiatan sekolah. Pada jam pulang sekolah aku dipanggil ke ruang agama dengan maksud untuk mendoakanku. Doa-doa itu membuatku panas dan merasa lemas hingga nyaris pingsan.

Sepulang dari sekolah, aku merasakan hal yang aneh. Seketika tubuhku mengeluarkan darah padahal aku tidak tergores oleh apapun. Malamnya aku tidur dan bermimpi. Di dalam mimpiku, aku sedang berada di depan kelas dan melihat sosok Nona Belanda yang tinggal di tubuhku. Ia tinggi, rambutnya panjang, pakaiannya putih namun ia tak pernah menampakkan wajahnya. Ketika aku ingin bicara padanya, ia menghilang. Saat perjalanan pulang, aku dikejar-kejar oleh nona belanda itu seakan-akan ia tidak rela pergi dari tubuhku. Aku lari ketakutan, ia terus mengejarku dan berhasil menangkapku. Aku berusaha melepaskan diri namun tanganku tercakar oleh kuku tajamnya hingga tanganku berlumuran darah. Mimpi buruk itupun berakhir dan aku terbangun. Kulihat tangan kiriku, bagaimana bisa tangaku memar dan berdarah sewaktu aku tidur? Apa mungkin ini peringatan darinya supaya tidak mencoba mengusirnya dari tubuhku. Semakin lama aku semakin ketakutan, aku tidak berani bercerita pada ibuku. Aku menjadi takut, berhari-hari aku diam dan berusaha melupakan hal-hal aneh ini.

***

Siang itu di kelas aku melamun dan bicara dalam hati ‘kayaknya enak ya punya tab atau hp baru. Kan lumayan. Saat pulang sekolah, bapak menjemputku dan tiba-tiba memperlihatkan tab baru. Wah asyik juga ya hanya membayangkan bisa langsung jadi kenyataan. Aku teringat, arwah sepupuku ingin ikut tinggal dengan ibuku dan akan memberikan apapun yang diinginkan ibuku jika mau merawat arwahnya itu. Namun ibu menolak karena percaya pada setan adalah perbuatan dosa. Jadi, apa mungkin yang aku terima juga berasal dari Nona Belanda?

Dua bulan berlalu, semakin lama aku menjadi terbiasa dengan suasana ini. Setiap belajar selalu ada yang menindih bahu kiriku. Saat bangun tidur ada yang menarikku perlahan hingga ke pinggir kasur dan nyaris jatuh. Hanya saja yang sedikit parah adalah membayangkan sesuatu bisa menjadi nyata. Hal yang kutakutkan adalah ketika memimpikan temanku kecelakaan dan sehari setelah itu mimpiku juga terjadi. Sempat merasa berdosa membiarkan temanku kecelakaan hingga tulang dahinya retak, tapi aku takut dianggap mendahului rencana Tuhan. Jadi aku hanya bisa terdiam.

Kuceritakan masalah ini ke kakak sepupuku, Mbak Atika. Dia segera membawaku bertemu pendeta di gereja kami. Romo dan Mbak Atika pun langsung mendoakanku di sebuah ruangan yang ada di gereja. Dan lagi-lagi tubuhku serasa terbakar saat doa-doa itu diucapkan. Saat kupejamkan mata, aku bisa melihat banyak setan di ruangan itu yang senang tinggal di tubuhku. Saat didoakan, mereka menarik tangan dan kakiku supaya aku tidak berkonsentrasi berdoa. Napasku terengah-engah dan sekujur tubuhku mengeluarkan keringat. Mbak Atika juga merasakan kepanasan dan ikut terengah-engah. Setelah selesai berdoa kuceritakan apa yang terjadi kepada bapak pendeta dan beliau mengajak berdoa kembali karena kelakuan setan-setan ini sudah keterlaluan. Saat kupejamkan mata lagi untuk berdoa, kulihat bayangan hitam dan putih sedang bertarung untukku. Bayangan gelap itu begitu kuat menguasai tubuhku namun doa-doa yang dipanjatkan menghasilkan bayangan putih yang sedikit demi sedikit menghilangkan bayangan gelap itu. Walaupun bayangan hitam itu tidak sepenuhnya hilang, rasa takutku mulai berkurang. Aku mulai terbiasa.

Setelah kejadian itu aku sering melihat hantu di mana-mana. Saat retret di Kaliurang aku juga melihat kepala tanpa badan melayang di jendela. Apalagi sekolahku adalah bangunan bekas rumah sakit. Aku sering diganggu para hantu. Ada yang memegang pipiku saat pelajaran. Bahkan, ketika aku membuang sampah ada tiga anak kecil yang menjegalku sampai kakiku terkilir, lucunya mereka ke UKS untuk memijitku. Semua kejadian itu kurasakan hingga kelulusanku di SMA ini.

***