Cerita Gue   

Aku dan Karantina Miss Indonesia 2017

 
Author
Grace Pranata
12 May 2017

Terpilih jadi seseorang yang mengenakan selempang Miss Jawa Barat 2017 enggak pernah kepikiran buat gua. Apalagi, sampai jadi finalis ngewakilin Jawa Barat di ajang Miss Indonesia 2017. Oh, iya, mungkin sebagian dari lo belum tahu siapa gua. Gua adalah Grace Pranata, salah satu penulis di balik artikel-artikel kincir.com. Biasanya, gua nulis soal tata rias, mode, dan gaya hidup. Kali ini, tulisan gua enggak ngebahas soal itu. Yah, nyerempet sedikit, sih. Soalnya, apa yang akan lo baca ini adalah pengalaman gua ngikutin karantina Miss Indonesia 2017.

Kabar kalau gua lolos jadi finalis ngewakilin Provinsi Jawa Barat merupakan kabar yang enggak biasa buat gua di umur 21 tahun. Waktu kuliah dulu, gua bisa jingkrak-jingkrak pas nerima kabar dari narasumber yang nyatain kesediaannya buat gua korek-korek informasinya. Pagi hari pada pertengahan Februari 2017, ponsel gua berdering dan terlihat nomor kantor. Gua udah duga, ini pasti dari RCTI. Soalnya, dalam tiga bulan terakhir, gua udah dipantau soal perkembangan berat badan. Akan tetapi, gua enggak nyangka kalau telepon tersebut nyatain gua lolos dalam audisi Miss Indonesia. Jadi, bagaimana, ya, perasaan gua waktu itu?

Bicara soal perasaan, dari awal ikut audisi ini, gua udah prediksi apa yang harus gua lakuin kalau nantinya lolos atau pun enggak jadi finalis. Jadi, dari jauh-jauh hari sebelum gua datang ke kantor RCTI buat audisi, gua udah nyiapin mental. Ini bukan karena gua pesimis, loh. Dalam suatu kompetisi, tentunya banyak hal yang bisa dipelajari meskipun enggak lolos jadi finalis. Itulah yang jadi landasan gua untuk berani ikut audisi Miss Indonesia. Ketemu dengan hal baru ketika audisi seperti kinerja tim panitia yang baik, berbagi pengalaman dengan calon finalis lain, belajar sabar mengantre, sampai ngalamin adrenalin naik ketika nama akan dipanggil untuk wawancara, semua udah cukup jadi pengalaman buat gua.

Pengumuman itu pun sampai ke telinga gua sekitar tiga bulan setelah audisi. Perasaan senang tentunya ada, tetapi karena gua udah ngatur mental jauh sebelumnya, emosi gua tetap stabil. Nah, kisah selanjutnya adalah menuju karantina. Banyak hal yang harus gua siapin, yaitu kesehatan tubuh, berat badan yang stabil, perawatan, dan barang bawaan selama karantina. Doa dan dukungan dari keluarga serta kerabat terdekat jadi dorongan semangat selama gua ngejalanin karantina. Dan, kali ini gua akan ceritain lima hal menarik yang gua dapat selama masa karantina. So, here we go!

 

1. Hafal 34 Provinsi Sekejap

Meski dulu gua ngambil jurusan IPS kala SMA, ngafalin 34 provinsi yang dikaruniai kekayaan budaya merupakan hal yang enggak mungkin. Bentuk pulau-pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke enggak ada yang sama. Gua sering luput di urutan posisi arah mata angin setiap provinsi. Nah, ketika jadi finalis Miss Indonesia, gua dan peserta lain bisa gampang ngafalinnya. Soalnya, kami harus saling manggil nama provinsi yang kami wakili kalau mau ngobrol-ngobrol. Yang juga bikin gampang ngelakuinnya adalah setiap karakter unik dari para finalis. Jadi, dalam tiga hari, gua udah hafal 33 finalis lain beserta asal dan nama asli mereka.

 

2. Ngebedain Senyum Tulus dan Senyum Biasa

Jadi seorang finalis Miss Indonesia berarti siap untuk jadi figur publik yang selalu memancarkan senyum tulus untuk orang lain. Selama karantina, gua dan finalis lain dibina oleh para chaperone untuk selalu siap tersenyum dan nyapa siapa pun di mana kita berada. Yap, dari situ kami semua belajar ngebedain senyum biasa dan senyum tulus untuk orang lain. Bentuk senyum yang tulus bisa dilihat dari seluruh otot wajah yang tertarik, mulai dari mata merambat ke mulut. Enggak hanya bibir yang ketarik dan mamerin deretan gigi sebagai standar senyum, tapi juga dari tatapan mata yang harus terisi merupakan bagian dari ketulusan seseorang tersenyum. Awalnya mungkin sulit, tapi ketika gua udah nemuin motivasi nyampein senyum yang tulus, stand by untuk senyum lebih dari lima menit pun bukan hal yang susah.

 

3. Nikmatin Jajanan Pasar

Oke, yang satu ini jadi pengalaman yang dirasakan oleh beberapa finalis Miss Indonesia selain gua. Selama masa karantina berlangsung, setiap hari finalis dapat asupan gizi yang cukup untuk memenuhi energi yang keluar sepanjang hari. Selain makan nasi, setiap finalis dan kru juga dapat jatah cemilan. Biasanya, dalam satu kotak terdiri dari dua kue tradisional atau jajanan pasar dan satu kue modern. Nah, gua termasuk orang yang jarang makan jajanan pasar seperti kue mangkok, putu ayu, kue bikang, dadar gulung isi gula merah, kue bugis, dan bika ambon. Akan tetapi, semua finalis, mau enggak mau, harus makan semua kue tersebut karena butuh tenaga tambahan. And guess what? Selain gua, ternyata ada juga beberapa finalis yang tadinya enggak tertarik dengan jajanan pasar akhirnya jatuh cinta, loh. Yap, mungkin jajanan pasar memang kurang menarik dari segi penampilan, tapi soal rasa patut banget diacungin jempol. Semakin cinta, deh, sama kue-kue manis khas Indonesia yang dikenal sebagai jajanan pasar.

 

4. Macet Jadi Momen Favorit

Selama hampir dua minggu menjelang malam puncak, kami ngedapatin pembekalan, penilaian fast track, dan latihan koreografi, jadi pastinya butuh banget waktu tidur yang cukup. Nah, waktu tidur di kamar hotel minim sekali. Kami pun sering banget curi-curi tidur. Yap, pastinya kami tidur dalam kondisi cantik, ya, karena para fotografer selalu sigap menangkap seluruh momen 34 finalis Miss Indonesia selama karantina. Dalam masa karantina, rombongan bus Miss Indonesia dan mobil kru lain selalu dikawal oleh petugas polisi agar bisa menembus kemacetan Ibukota. Mungkin kalian yang kerja atau tinggal di Jakarta pasti super KZL ketika ngadepin macet. Eits, beda dengan gua dan teman finalis lainnya. Ketika hendak pergi kunjungan atau ke lokasi syuting dan foto, macet jadi hal terindah. Meski tidur dalam kondisi duduk, kami sangat bisa memejamkan mata walaupun sebentar.

 

5. Lebih Mandiri

Ngejalanin masa karantina bersama finalis, chaperone, dan kru lainnya yang baru dikenal bukan hal yang mudah untuk beradaptasi. Melalui kegiatan yang padat, seorang Miss Indonesia perlu strategi agar mampu nikmatin setiap momen untuk jadi figur publik. Pelatihan ngebentuk karakter seorang “Miss” merupakan hal baru bagi gua. Menggunakan sepatu berhak tinggi hampir 20 jam setiap harinya mungkin jadi hal yang enggak gua lupakan sepanjang hidup. Kalau dulu, gua pakai sepatu itu untuk datangin acara sekitar dua sampai tiga jam aja udah ngeluh kesakitan. Nah, selama karantina, rasa sakit di kaki berangsur hilang karena terbiasa setiap harinya. Kekuatan tersebut muncul mengingat bahwa gua enggak sendiri dalam ngelakoninnya. Bersama 33 finalis lain, gua berjuang untuk ngasih penampilan terbaik pada malam final. Selanjutnya, ngejaga kondisi fisik agar tetap prima juga jadi tanggung jawab diri sendiri. Jadi, kalau fisik sudah ngasih sinyal-sinyal butuh asupan obat atau suplemen, kami segera melapor kepada suster yang berjaga sebelum badan semakin melemah.

Tanggung jawab berikutnya ialah ngejaga barang pribadi. Kebayang, ‘kan, 34 finalis ngedapatin barang sponsor yang harus dikenakan dari mulai atasan, bawahan, sampai sepatu? Yap, kami dituntut menjaga barang pribadi dengan rapi agar enggak ketukar.

Terakhir, enggak kalah penting, yaitu ngatur waktu. Selama karantina, kami dilatih untuk mampu ngerjain dan nyiapin segala sesuatunya dengan cepat dan tepat. Ini termasuk ketika finalis yang beruntung dikasih kesempatan menelepon keluarga selama lima, tujuh, atau 10 menit. Banyak cerita yang ingin diungkapkan, tapi kami tetap harus bijak manfaatin waktu menelepon. Enggak boleh kebablasan.

***

Nah, itu dia lima hal menarik yang bisa gua ceritain seputar pengalaman masa karantina Miss Indonesia 2017. Pembinaan yang gua dan finalis lainnya lalui tentunya jadi pengalaman luar biasa yang selalu kami kenang sepanjang hidup. Nah, jadi, lo enggak lagi mikir, ‘kan, kalau kami cuma ngelenggak-lenggok dan tebar senyuman di atas panggung?